Episode 133

15 3 0
                                        

Fransis dan Sui bekerja sama untuk membantu Maulana berdiri dan membaringkannya di ranjang UKS.

Maulana masih terlihat lemah dan sakit, tapi Ia berusaha untuk bekerja sama dengan mereka.

Setelah Maulana terbaring di ranjang, Fransis langsung mulai melakukan tindakan yang dibutuhkan untuk menolongnya.

Sebagai seorang dokter, Fransis tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu Maulana.

Ia memeriksa kondisi Maulana, memeriksa denyut nadi dan tekanan darahnya, serta memberikan oksigen jika diperlukan. Fira berdiri di samping Maulana, memegang tangannya dan berbicara dengan lembut untuk menenangkannya.

Rangga dan Sui berdiri di dekatnya, menunggu dengan khawatir untuk melihat bagaimana kondisi Maulana.

Mereka tahu bahwa Maulana harus segera mendapatkan perawatan medis yang tepat, dan mereka percaya pada kemampuan Fransis sebagai seorang dokter untuk menolongnya.

"Bagaimana kondisinya, Pak?" tanya Fira dengan khawatir.

Fransis memeriksa Maulana dengan seksama sebelum menjawab, "Kondisinya stabil untuk sekarang, tapi kita harus segera membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut."

Fira mengangguk. "Aku akan memanggil ambulans."

Maulana tidak mau dibawa ke rumah sakit, Ia tahu bahwa jika dirinya pingsan, dokter mungkin akan mengetahui tentang penyakitnya dan memberitahu Fira.

Maulana tidak ingin Fira mengetahuinya, setidaknya belum sekarang. Dengan suara lemah, Ia mengatakan kepada Fransis dan Fira bahwa dia hanya perlu istirahat.

"Mas hanya perlu istirahat, tidak perlu ke rumah sakit," kata Maulana dengan suara yang lembut tapi tegas.

Fira terlihat khawatir, tapi Maulana berusaha untuk meyakinkannya bahwa dia akan baik-baik saja. Fransis juga terlihat skeptis, tapi Ia tahu bahwa Maulana tidak mau dibawa ke rumah sakit.

"Baiklah, kita akan memantau kondisimu di sini," kata Fransis dengan suara yang profesional.

Fira mengangguk."Aku akan tetap di sini bersamamu, Mas." Maulana tersenyum lemah.

"Tidak, Sayang. Lebih baik kamu pulang dulu, Istirahat dan makan siang. Nanti pukul 12 siang, kamu sudah harus berada di lapangan." Suara pria itu lembut dan penuh kasih sayang, dengan nada yang sabar dan penuh pengertian. Namun, di balik kelembutan itu, terdengar sedikit getaran yang menunjukkan bahwa Ia sedang menahan rasa sakit. Suaranya sedikit bergetar atau terputus-putus, menandakan bahwa tubuhnya masih lemah dan sakit. Meskipun demikian, Ia berusaha untuk berbicara dengan tenang dan meyakinkan, sehingga suaranya tetap lembut dan penuh kasih sayang.

"Bagaimana dengan Mas? Lagian kenapa juga Mas maksa banget untuk melerai mereka, Pak Fransis dan Pak Paman Sui sudah dewasa, biarkan saja mereka berkelahi sampai tamat!"Suara gadis itu terdengar sedikit bergetar dan tidak stabil, menunjukkan kekhawatiran dan ketakutan yang mendalam. Nadanya sedikit tinggi dan cepat, menandakan bahwa Ia sedang kesal dan tidak sabar. Ada sedikit nada panik dan kecemasan dalam suaranya, seolah-olah Ia takut kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat berharga baginya. Suaranya sedikit terputus-putus atau tercekat, menunjukkan bahwa Ia sedang berusaha untuk menahan emosinya yang kuat.

Maulana tersenyum lembut."Iya, Mas minta maaf sudah membuat kamu khawatir. Mas tidak apa-apa, nanti juga Mas baikan."

"Siapa yang akan percaya?! Kucing saja tahu kalau tadi Mas itu seperti mau pingsan!" Fira memalingkan muka kesal, namun juga takut.

Maulana terkekeh kecil, suara tawanya lembut dan singkat, namun terdengar sedikit dipaksakan. Ada sedikit getaran dalam suaranya yang menunjukkan bahwa Ia sedang menahan sakit, tapi dirinya berusaha untuk tetap tersenyum dan tertawa agar Fira percaya bahwa dirinya baik-baik saja. Tawa itu tidak sepenuhnya alami, tapi lebih seperti sebuah upaya untuk meyakinkan Fira bahwa semuanya baik-baik saja. Maulana berusaha untuk menyembunyikan rasa sakitnya di balik topeng tawanya, tapi tetap ada sedikit kelemahan yang terlihat dalam suaranya.

Perlahan Maulana menggenggam tangan Fira dengan lembut."Sayang, Mas tahu kamu khawatir. Lihat ke Mas, jangan lihat arah lain. Lihatlah, Suamimu baik-baik saja."

Perlahan Fira mengalihkan perhatian pada sang Suami."Mas, jangan sakit. Jangan makan sembarangan, jangan berusaha melerai pertikaian yang tidak penting."

"Iya, Mas tidak akan lagi. Sudah, kamu jangan ngambek lagi. Pulang dengan Sui atau minta diantar Pak Ian, Mas belum bisa turun dari tempat tidur." Suara pria itu mengalun lembut, seperti tak ada keluhan, tak ada getaran yang mengkhianati luka yang ia pendam.

Dengan kesabaran yang tak tergoyahkan, ia berbicara dengan penuh kasih sayang, seolah dunia di sekelilingnya hanya berisi ketenangan.

"Jangan khawatir, Mas baik-baik saja." Maulana berkata dengan senyum yang tak sepenuhnya mencapai matanya.

Ada sesuatu yang tersembunyi di balik nada suaranya, sebuah keteguhan yang dipahat dari penderitaan, sebuah keinginan untuk tidak membebani orang lain dengan rasa sakitnya sendiri.

Setiap kata yang keluar dari bibirnya penuh kehangatan, tetapi di sela-sela napas yang tertahan, ada isyarat yang tak terucapkan. Jemarinya sedikit gemetar, dadanya terangkat lebih dalam dari biasanya, namun ia tetap berbicara dengan ketenangan yang nyaris menipu.

"Yang penting kamu tidak perlu khawatir. Mas akan selalu ada di sini." Ia memberi jaminan yang terdengar begitu tulus, meski dalam dirinya, rasa sakit terus berdenyut, mengetuk di setiap sudut tubuhnya.

Namun, ia memilih untuk tidak membiarkan dunia melihat itu karena bagi dirinya, orang-orang yang ia cintai jauh lebih penting daripada kesakitan yang ia alami.

Fira menghela nafas."Baiklah, aku akan diantar Pak Ian saja. Kalau sama teman Mas itu, nanti dikira aku habis di KDRT dia, lihatlah wajahnya yang lebam-lebam itu." Fira menunjuk Sui dengan pandangan matanya.

Maulana mengangguk, ia mengalihkan perhatian pada Ian yang berdiri di samping Rangga."Pak Ian, tolong antarkan Istri saya pulang."

Ian mengangguk."Baik, Pak. Pak Ivan tenang saja."

Maulana kembali mengalihkan perhatian pada Fira."Cium Mas dulu."

Fira mengangguk, ia merendahkan kepala dan membungkukkan tubuh kemudian meletakkan tangan di atas tubuh Maulana, namun tanpa sengaja , tangan itu justru menekan perut kanan atas pria tersebut.

Begitu tangan Fira tanpa sadar menekan perut kanan atas Maulana, dunia di sekitarnya seperti memudar. Gelombang rasa sakit yang sudah lama bersarang di tubuhnya meledak seketika, seperti bara api yang tersulut kembali di tengah abu yang masih hangat.

Sensasi itu tidak hanya tajam, Ia juga menyusup ke setiap sarafnya dengan kejam, menghadirkan perih yang mendalam, hampir tak tertahankan.

Rasa nyeri akibat sirosis yang telah lama menggerogoti tubuhnya kini bercampur dengan luka baru yang menghantamnya tanpa ampun, pukulan dari Sui yang masih menyisakan jejak lebam, dan benturan keras dengan ujung meja yang meninggalkan denyut menyakitkan.

Tekanan dari tangan Fira, meski tanpa niat buruk, menjadi pemicu terakhir yang membuat Maulana tersentak. Dadanya berusaha mengembang, mencari udara di tengah sesak yang tiba-tiba mencekiknya. Keringat dingin merayapi pelipisnya, sementara tubuhnya seolah berjuang antara ingin menggeliat melepaskan diri atau sekadar pasrah dalam kepungan rasa sakit yang semakin dalam.

Nafasnya yang pendek dan terputus-putus menjadi satu-satunya bukti bahwa ia masih berusaha bertahan, meski tubuhnya mengirimkan sinyal seolah batasnya sudah tercapai.

Wajahnya semakin pucat, dan di antara denyut rasa sakit yang seolah beresonansi dalam setiap tulang dan ototnya, hanya ada keheningan yang menggantung sebuah kebisuan yang berbicara lebih lantang daripada kata-kata.

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang