Cahaya temaram menyelimuti ruangan, menciptakan bayangan samar yang menari di dinding saat Maulana merasakan tekanan halus namun tajam di perutnya. Jemari Fira, meski kecil, mencengkeram dengan cukup kuat hingga Maulana merasakan nyeri yang menyusup di antara hembusan napasnya yang tertahan. Namun, di balik rasa sakit yang menghampiri, ada kelembutan lain yang perlahan menghapusnya, kecupan Fira, singkat namun penuh ketulusan.
Maulana tetap diam, membiarkan momen itu berlalu tanpa gangguan, seolah-olah rasa sakit yang ada hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang lebih besar, lebih berarti. Bibir Fira menyentuhnya dengan ringan, hampir seperti sentuhan kelopak bunga yang jatuh tertiup angin. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, sementara udara di sekitarnya terasa lebih hangat, lebih nyata.
Saat kecupan itu berakhir, Fira menarik diri perlahan, mata mereka bertemu dalam kilasan waktu yang seakan berhenti. Tidak ada kata yang terucap, hanya tarikan napas yang menyatu dengan keheningan di antara mereka, menciptakan sebuah momen yang tertinggal dalam ingatan.
"Aku pulang dulu, Mas." Fira mengambil tangan Sang Suami lalu mencium punggung tangannya.
Tatapan Fransis menusuk seperti belati yang diam-diam merobek kepura-puraan Maulana. Mata itu tak sekadar menatap, Ia menguliti kebohongan yang coba dipertahankan. Sorotnya tajam, penuh tuntutan, seolah menelanjangi setiap kedipan dan helaan napas yang berusaha menyembunyikan rasa sakit. Ada ketidakpercayaan yang bercampur dengan frustrasi, seakan Ia ingin berkata tanpa suara."Kamu sungguh berani menipu diri sendiri seperti ini, ya?"
Rahangnya mengeras, bibirnya sedikit tertarik ke samping, bukan dalam senyum, melainkan dalam ekspresi yang setengah mengejek, setengah murka. Sekejap, pupil matanya bergerak, mengamati Maulana yang masih berpura-pura tenang, membiarkan dirinya dikelilingi kelembutan yang hanya memperparah kebohongan itu. Namun, Fransis tidak berkata apa pun. Ia hanya membiarkan tatapan itu berbicara, biarkan diamnya menjadi suara yang lebih lantang daripada kata-kata.
"Iya, hati-hati, Sayang. Ingatlah, untuk istirahat, lalu makan siang dan sholat." Suara Maulana terdengar tenang, hampir terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menahan perih di dalam dirinya. Setiap kata keluar dengan kelembutan, penuh ketenangan yang seakan ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, ada sedikit jeda di antara ucapannya, seolah Ia harus menarik napas lebih panjang sebelum berbicara, harus menyusun ulang keseimbangan dalam dirinya agar kesakitannya tak merembes keluar.
Matanya tetap hangat, menatap Fira dengan kelembutan yang tulus, seakan ingin meredakan segala keraguan yang mungkin muncul. Namun di balik itu, ada ketegangan kecil yang hampir tak terlihat, jemarinya yang sesekali mengepal sebelum kembali mengendur, napasnya yang sedikit ditahan sebelum akhirnya dihembuskan perlahan.
Ia memilih untuk tetap berbicara dengan penuh kasih, bukan karena rasa sakitnya tak nyata, tetapi karena Ia tahu ada saat-saat di mana kepedihan harus dikalahkan oleh kebahagiaan orang lain. Maka, Ia tersenyum. Senyum yang hangat, meski di baliknya ada sesuatu yang perlahan retak.
Setelah Fira keluar ruang UKS bersama Ian, Fransis berjalan mendekati Maulana, Fransis menarik kursinya dengan gerakan tegas, lalu duduk di dekat ranjang Maulana. Sejenak, Ia hanya menatap pria itu, mengamati wajah yang tetap tenang seolah tak ada yang terjadi. Lalu, dengan sedikit dengusan pendek, Ia akhirnya berbicara."Sudah?"
Suara Fransis terdengar berat, seolah kata itu mengandung lebih banyak makna daripada yang sekadar terdengar. Nada kesal yang ditahan bercampur dengan keheranan yang tak bisa sepenuhnya Ia sembunyikan. Alisnya sedikit terangkat, matanya menyipit dalam ketidakpercayaan. Bukan sekadar bertanya, tapi mempertanyakan keputusan Maulana untuk tetap berpura-pura.
Ada jeda sebelum kata itu keluar, seperti Fransis menimbang apakah Ia benar-benar ingin mengatakannya.
Nada bicaranya tidak tinggi, tidak meledak, tapi sarat dengan emosi yang tertahan. Ketidakpuasan yang disampaikan tanpa harus berbicara panjang lebar, cukup satu kata, satu pertanyaan yang mengguncang kepura-puraan yang Maulana coba pertahankan.
Seiring dengan ucapannya, jemari Fransis mengetuk pelan permukaan kursi, ritme kecil yang menggambarkan rasa frustrasi yang tak sepenuhnya tersampaikan dalam kata-kata. Ia menghela napas pendek, menunggu jawaban, meski jauh di lubuk hati Ia sudah tahu apa yang akan didengar kebohongan kecil lainnya.
Maulana diam tidak mengatakan apapun, Ia tahu bahwa Fransis sedang emosi karena dirinya tidak jujur pada Fira tentang kondisi tubuhnya.
Rangga memandang Maulana heran, ini pertama kalinya dirinya melihat Maulana begitu lemah bahkan terlihat sangat rapuh seperti orang yang terkena penyakit parah.
Biasanya Maulana kuat bahkan tidak akan tumbang hanya dengan pukulan ringan atau hanya karena tertimpa tubuh manusia, tapi tadi saat melihat Maulana nampak kesakitan saat tubuh Sui menimpanya, pria itu terlihat sangat lemah dan sakit.
Rangga ingin bertanya, namun diurungkan saat melihat ekspresi keruh dari Fransis, dokter satu itu lebih terlihat seperti penjahat dari pada seorang dokter yang bisa menolong orang, terlebih saat tadi berkelahi dengan Sui.
"Pak Ivan, saya permisi dulu. Bapak Istirahatlah." Rangga pamit pada Maulana. Maulana hanya mengangguk menanggapi ucapan Rangga.
"Berapa lama lagi... ini... berhenti?"
Nada bicaranya bukan hanya kesal, tetapi juga penuh dengan keterpaksaan, suara seseorang yang berada di ambang kehabisan tenaga, tetapi masih berusaha untuk tetap berdiri meski tubuhnya jelas sudah menyerah.
Maulana yang terbaring di ranjang UKS dengan napas yang pendek dan tersengal, dadanya naik turun tidak teratur saat rasa sakit mencengkram perut kanan atasnya tanpa belas kasihan. Sejak pagi, penyakitnya sudah kambuh, seperti bara yang perlahan membakar dari dalam, menggerogoti setiap inci tubuhnya. Namun, baru saja Ia berusaha menahan diri, semuanya bertambah parah.
Benturan keras dengan ujung meja membuat perihnya kian tajam, seolah ada duri yang tertanam di bawah kulitnya. Belum sempat rasa sakit itu mereda, pukulan dan sikutan yang datang bertubi-tubi semakin menghancurkan sisa ketenangan yang coba dipertahankannya. Dan saat Ia berpikir tidak mungkin ada yang lebih buruk, tubuh Sui jatuh menimpanya, menekan bagian yang sudah terluka.
Namun, itu bukanlah akhir. Tepat ketika ia berusaha mengatur napas, tangan Fira, dalam kepanikan atau mungkin tanpa sadar, menekan perutnya dengan keras.
Bukan sekadar sentuhan biasa, tekanan itu menusuk seperti palu yang menghantam bagian tubuh yang paling rentan.
Nyeri yang sebelumnya hanya terasa seperti hantaman berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan, seolah ada tangan tak terlihat yang mencengkeram organ dalamnya dan memelintirnya dengan kejam.
Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, dan bibirnya sedikit bergetar saat ia berusaha berbicara. Suaranya keluar dengan susah payah, terputus-putus antara rasa sakit dan frustrasi yang ditahannya mati-matian.
Namu Fransis tidak beranjak. Sorot matanya masih tajam, penuh ketidaksabaran dan sinisme. Tidak ada rasa simpati di sana hanya sindiran dingin yang membuat udara di ruangan itu terasa lebih menyesakkan.
"Kalau kamu memang baik-baik saja seperti yang kau tunjukkan di depan Fira, seharusnya kau bisa menjawab pertanyaan itu sendiri."
Maulana menutup matanya sesaat, tidak untuk beristirahat, tetapi untuk menelan rasa tidak berdaya yang semakin menghimpitnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
