Episode 118(128)

24 2 0
                                        

Maulana memasukkan mobil ke dalam bagasi, ia segera turun dari mobil bersama Fira

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Maulana memasukkan mobil ke dalam bagasi, ia segera turun dari mobil bersama Fira.

Gadis itu membawa banyak tas belanjaan, langkah kakinya terasa berat saat berjalan mendekati pintu rumah.

Berkali-kali Fira menghela nafas panjang, ini pertama kali membeli banyak belanjaan, biasanya sudah langsung diberi oleh Maulana tanpa harus tahu harganya.

Maulana merangkul bahu gadis itu."Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."

"Tapi ini pertama kali." Fira sambil berjalan.

Maulana tersenyum."Nanti kamu akan terbiasa."

Maulana mengangkat tangan membuka pintu, di ruang tamu terlihat Nadia menangis dan mengadu pada Catherine.

Maulana sama sekali tidak peduli, ia tetap berjalan melewati Nadia, bahkan saat Fira hendak bertanya, pria itu melarangnya.

"Van." Suara Catherine menghentikan langkah kaki Maulana.

Maulana memutar tubuh berjalan menghampiri Catherine, mengambil tempat duduk si sofa panjang depan wanita itu dan membiarkan sang Istri duduk si sampingnya.

"Apakah kamu menampar Mama Nadia lagi?" tanya Catherine sambil menatap Maulana serius.

Maulana mengangguk, Catherine menghela nafas."Van, Mama tahu kamu sangat melindungi Istri mu. Tapi Mama Nadia hanya bertanya tentang alasan Istri mu mencuri perhiasan miliknya." Catherine bicara dengan menyesal.

Bibir Maulana berkedut mendengar ucapan Catherine."Perhiasan apa, Ibu? Sebagai seorang anak, aku tidak akan membantah apapun yang Ibu katakan. Tapi aku hanya ingin menegaskan, aku tidak mengizinkan siapapun memfitnah Istri ku."

Maulana bangkit dari tempat duduknya, ia meraih tangan sang Istri."Sayang, Mas lelah. Ayo temani Mas tidur."

Fira mengangguk, ia pun bangkit dari tempat duduknya, namun sebelum kakinya melangkah mengikuti Maulana, gadis itu bicara."Aku tidak mencuri apapun, Ibu. Mama Nadia juga tidak menanyakan apapun, Ibu bisa bertanya pada para Guru di sekolah. Mama Nadia yang datang-datang langsung marah dan meminta Mas Ivan menceraikan ku."

Maulana sedikit merendahkan tubuh lalu menggendong tubuh sang Istri seperti balita, dengan cepat Fira memeluk leher sang Suami.

Catherine terkejut kemudian melihat Nadia, menatap Istri muda Sinya itu penuh tanda tanya.

Nadia menghela nafas."Aku tidak datang dan langsung marah-marah, aku hanya bicara baik-baik dan meminta Ivan menceraikan Fira."

"Kenapa kamu melakukan itu, Nadia? Kamu adalah seorang Istri, kalau Mas Sinya menceraikan mu tanpa alasan, bagaimana perasaanmu?" Catherine menggelengkan kepala, ia hampir tidak percaya kalau Nadia bisa melakukan itu pada sesama wanita.

"Fira itu bukan wanita yang baik, Mbak. Aku yakin dia hanya ingin mengambil harta Ivan saja, dia sama sekali tidak mencintai Ivan." Nadia bicara dengan sungguh-sungguh.

"Cukup!" Catherine bangkit dari tempat duduknya, menatap Nadia murka.

"Tega sekali kamu meminta seorang Suami menceraikan Istrinya padahal kamu sendiri seorang Istri!"

Nadia diam sejenak mencari alasan lain untuk meyakinkan Catherine."Mbak, Fira itu tidak setia. Aku sering melihat Fira itu berduaan dengan Antonio dan Andrian, Ivan tidak boleh bersama gadis seperti itu."

"Dimana kamu melihatnya?" Catherine bertanya dengan nada menuntut.

"Di sekolahnya, Mbak. Kadang mereka berjalan berdua ke kantin atau makan di kantin bersama." Nadia merasa senang karena yakin Catherine akan berada di pihaknya.

"Nadia! Mereka itu berteman! Ivan pun ada di sekolah, di sana ada CCTV. Kamu pikir sekolah SMA Dirgantara itu sepi? Duduk berdua di depan kelas atau di kantin juga tidak akan hanya mereka berdua, ada banyak Guru dan siswa lain di sana. Sudah! Aku tidak mau lagi mendengar kamu meminta Ivan menceraikan Fira!" Catherine meninggalkan Nadia dengan hati kesal, ia menyesal telah buruk sangka pada menantunya dan membuat anaknya kecewa.

Di dalam kamar, Maulana menurunkan sang Istri dengan lembut, setelah itu ia membuka satu persatu kancing kemejanya.

Fira menaruh barang belanjaan di atas tempat tidur kemudian duduk di tepi ranjang."Kenapa Mas tidak mau menjelaskan pada Ibu apa yang terjadi si sekolah?"

"Malas." Ia menaruh kemeja kotornya di atas ranjang baju kotor kemudian mengambil kaos lengan pendek warna hitam.

"Para Istri Ayah selain Ibu dan Mama Sintia, mereka semua sibuk memikirkan cara menyakinkan Mas agar menceraikan mu." Maulana berjalan ke arah tempat tidur lalu membaringkan tubuh di atasnya.

"Apa mereka lupa kalau merekalah yang memaksa Mas menikah, setelah Mas menikah dan memikul sebuah tanggung jawab sebagai seorang Suami, sekarang sibuk memikirkan cara agar Mas menceraikan mu." Maulana menoleh pada Fira.

"Apakah itu masuk akal? Mereka juga seorang Istri, apakah mereka tidak merasa kalau perbuatan mereka itu menyakiti wanita lain?"

Fira bangkit dari tempat duduknya lalu mengganti baju seragam dengan baju dinas yang baru saja di beli kemudian naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Maulana, menatap pria itu dengan senyum manis.

"Mereka merasa aku orang miskin ya? Jadi aku tidak pantas bersama Mas Ivan? Mereka takut aku akan mengambil harta Mas Ivan?"

"Mana Mas tahu, lagi pula bukan mereka yang kerja. Kenapa juga mereka sibuk memikirkan harta Mas." Maulana mengalihkan perhatian ke arah langit-langit kamar, ia tersenyum sendiri dengan para Istri Sinya, mereka yang ingin menguasai harta miliknya tapi menuduh Fira.

Fira merebahkan diri di samping sang Suami menjadikan dada pria itu sebagai bantal, tangannya menggapai ponsel miliknya lalu membuka aplikasi untuk memutar drama China kesukaannya.

"Mas kalau mau tidur, tidurlah. Aku mau nonton Drama China dulu."

"Hm." Maulana mulai memejamkan matanya.

***

Sekitar pukul 15:00 Fira masih belum selesai nonton namun Maulana sudah kembali membuka matanya, ia menoleh pada sang Istri, gadis itu merubah posisi tubuh beberapa kali mencari tempat yang nyaman.

"Sayang, kenapa kamu suka nonton seperti itu?"

"Suka saja, Mas. Kalau sama-sama maksiat, bukankah dari pada ghibah mending nonton dracin." Fira menoleh sejenak pada sang Suami kemudian melanjutkan lagi nonton.

Maulana merubah posisi tidurnya menjadi miring, ia menggerakkan tangan meraih pinggang sang Istri lalu mendekatkan padanya."Sayang, apa kamu tidak ingin melawan Mama Nadia?"

"Melawan bagaiman?" Fira menaruh ponselnya lalu memutar tubuh dan menghadap sang Suami.

"Membalas semua perlakuan kasarnya padamu." Maulana menyentuh pipi putih gadis itu.

"Kan sudah ada Mas, kenapa aku juga harus ikut bicara? Mas sudah dua kali menampar Mama Nadia. Jadi aku merasa tidak perlu, lagipula kalau aku bertengkar dengan Mama Nadia, nanti Ayah yang tidak terima. Kalau Ayah tidak terima lalu marah padaku, dan aku membalas perlakuan Ayah, bukankah Mas jadi bingung harus melindungi siapa?" Fira menyingkirkan tangan genit sang Suami, pria itu kalau bicara tangannya tidak pernah diam, selalu bergerak menyusuri seluruh tubuh miliknya.

"Mas akan selalu melindungi mu selama kamu tidak melakukan kedzaliman, membela diri itu boleh, Sayang. Namun jika terhadap orang tua, lebih baik kita mengalah. Karena memang ada larangan untuk berdebat dengan orang tua." Maulana menjelaskan meski dengan kecewa karena tangannya tidak boleh menyusuri tubuh sang Istri.

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang