54. |Masa Depan|

799 207 110
                                        


All We Need Just Heal》

Hidup Mahesa

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■


"lepasin gue!!!"

Mahesa meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman yang menahan lengannya. Tangannya berusaha mencengkeram apa saja, sandaran sofa, ujung meja, bahkan pegangan tangga. Namun, cengkeraman itu lebih kuat. Tanpa banyak bicara, kakaknya menyeretnya melewati ruang tamu yang masih menyisakan gema keributan barusan. Langkah kaki mereka menghantam anak tangga satu per satu. Suara sepatu beradu dengan marmer terdengar keras di rumah besar itu. Mahesa tersandung di anak tangga ketujuh, hampir terjatuh, tapi lengannya kembali ditarik tanpa diberi kesempatan menyeimbangkan diri.

“Lepasin gue!” ulangnya, napasnya memburu.

Tak ada jawaban. Hanya tarikan kasar yang tak memberi ruang untuk menolak. Mereka sampai di lantai dua. Lorong panjang membentang dengan lampu dinding berwarna keemasan yang temaram. Di ujung kanan, kamar Mahesa berdiri sunyi, pintu kayu gelap dengan gagang perak yang selalu terasa asing baginya. Pintu itu dibuka keras. Tubuh Mahesa didorong masuk hingga hampir menabrak sisi ranjang. Pintu ditutup dengan bunyi keras yang menggema di dalam kamar.

"Sa... lihat... lihat!!!!" Suara Mahaka pecah, antara marah dan panik. "Buka mata lo... lihat. Sekarang lo ada di mana. Sekarang lo tinggal di mana dan apa yang baru aja lo lakuin."

Mahesa berdiri tegak, dadanya naik turun. Ia tidak menoleh ke lemari besar, ke meja belajar kayu jati, atau ke jendela tinggi dengan tirai tebal yang menghadap halaman. Ia hanya menatap lurus ke mata Mahaka.

"Lo gila. Lo udah mukul Daru. Anak kandung dari orang yang udah nampung hidup lo. Siapa pun gue di mata mereka sekarang, gue nggak akan bisa mertahanin lo di sini kalau lo juga nggak bisa nahan diri."

Mahaka meremas kedua pundak adiknya. Kilatan amarah di matanya sangat terlihat. Kejadian tentang Andaru yang babak belur di bawah adiknya masih teringat jelas. Bayangan Nuri yang menampar Mahesa sembari berkata bahwa wanita itu tidak lagi ingin melihat Mahesa di rumahnya juga masih terngiang-ngiang.

"Sekarang lo ikut gue. Lo minta maaf. Gue bakal usahain bujuk bunda biar ngebolehin lo tinggal disini. Asal Daru mau maafin lo, semua bakal baik baik aja."

Mahaka menarik kembali lengan Esa, hendak membawanya keluar. Namun, tangannya ditepis kasar.

"Lepas!" Mahesa sedikit menjauh dari Kakaknya. "Jadi selama ini, begini cara lo hidup?"

“Apa?”

Satu kata itu meluncur pendek, tapi sarat ancaman. Alisnya terangkat, rahangnya mengeras, seolah memberi kesempatan terakhir bagi adiknya untuk menarik ucapannya kembali.

“Menjadi penjilat.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan teriakan. Justru tenang. Datar. Dan karena itulah terasa lebih tajam, seperti pisau yang sengaja ditekan perlahan ke luka lama.

“Ulangi yang barusan lo bilang.”

Suaranya menurun satu tingkat, rendah dan bergetar. Bukan karena ragu, melainkan karena amarah yang sedang ditahan di ujung kendali.

“Penjilat.” Tak ada jeda. Tak ada penyesalan.

“Ulangi.” Kali ini rahangnya benar-benar mengatup keras. Napasnya terdengar berat.

“Pen… ji… lat.”

Setiap suku kata diucapkan perlahan, dieja dengan sengaja, seperti ingin memastikan kata itu menghantam tepat ke sasaran.

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang