《All We Need Just Heal》
● Untuk Bian ●
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■
Malam menunjukkan pukul sebelas ketika hujan lebat mengguyur Jakarta tanpa ampun. Angin kencang menyapu jalanan, menggoyangkan pepohonan dan membuat lampu-lampu jalan bergetar redup. Bian melesatkan mobilnya tepat setelah sambungan telfon dari Mahaka terputus. Di dalam mobilnya, Bian mencengkeram setir dengan napas tak beraturan. Pertaanyaan Mahaka bergema di telingnya “Esa ke sana nggak, Bi?”. Semalam ini, hujan, Mahesa pergi. Jika ada banyak waktu, Bian mungkin sudah memaki Mahaka. Namun, ia harus cepat mencari sahabatnya.
Saat telfon tadi, nada suara Mahaka terdengar tegang, nyaris seperti menyembunyikan sesuatu. Bian tahu nada itu, tahu bahwa sesuatu pasti telah terjadi. Ia langsung mencoba menghubungi Mahesa, tetapi panggilannya tak kunjung diangkat. Hujan yang menampar kaca depan mobilnya membuat pandangannya kabur. Di tengah gemuruh langit, perasaan tak enak merayap perlahan di dadanya.
Bian memutar mobilnya keluar dari halaman dan menyusuri jalanan kompleks yang mulai tergenang. Ia berhenti di taman kecil tempat Mahesa biasa duduk sendirian. Bangku-bangku kayu itu kosong, hanya basah oleh air hujan yang mengalir deras. Ia turun sebentar, memayungi kepalanya, lalu memanggil nama Mahesa pelan. Tidak ada jawaban selain suara angin yang melolong.
Ia kembali masuk ke mobil dan melajukan kendaraan menuju warung kopi dekat gerbang kompleks. Tempat itu sering menjadi pelarian Mahesa ketika pikirannya sedang kusut. Namun malam itu, rolling door warung sudah tertutup rapat. Bian menekan rahangnya, menahan emosi yang mulai mendidih. Jika Mahesa sampai pergi sejauh ini, pasti ada sesuatu yang lebih dari sekadar pertengkaran biasa.
Pikirannya melompat pada kemungkinan terburuk yang sanggup ia bayangkan. Ia mengenal Mahaka dan ia juga mengenal kerasnya ucapan lelaki itu saat marah. Bian menggenggam ponselnya erat, mencoba kembali menghubungi Mahesa. Layar hanya menunjukkan dering panjang tanpa jawaban. Amarah dan kekhawatiran bercampur menjadi satu, membuat dadanya terasa sesak.
Mobilnya melaju lebih jauh, meninggalkan kompleks menuju jalan raya yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di aspal basah seperti pecahan kaca. Bian menyisir trotoar, halte dan sudut-sudut jalan yang mungkin dipilih Mahesa untuk bersembunyi. Hujan belum juga mereda, justru semakin deras. Dalam kepalanya, ia sudah bisa menebak alasan di balik semua ini.
Beberapa ratus meter dari kompleks, matanya menangkap sosok yang tak asing. Di sebuah halte bus kecil yang hampir tak terlihat dari jalan utama, ada seorang anak lelaki duduk menunduk. Hoodie yang dikenakannya basah di bagian bahu. Cahaya ponsel menerangi wajahnya yang pucat. Bian memperlambat mobilnya dengan jantung berdebar keras.
Ia menepikan kendaraan tepat di depan halte itu. Mesin mobil dimatikannya, tetapi ia tetap terdiam beberapa detik. Ada kelegaan yang besar karena akhirnya menemukan Mahesa. Namun ada juga amarah yang membara, bukan pada anak itu, melainkan pada situasi yang membuatnya duduk sendirian di tengah hujan begini. Bian meraih payung dari kursi belakang dan keluar dari mobil.
Hujan langsung menyambutnya dengan percikan dingin di sepatu dan celananya. Ia melangkah mendekat, payungnya sedikit miring tertiup angin. Mahesa tidak mengangkat kepala saat Bian tiba di hadapannya. Anak itu tetap menunduk, jempolnya bergerak pelan di layar ponsel. Bian tidak berkata apa-apa, hanya duduk di sebelahnya di bangku besi yang dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
Fiksi RemajaMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
