57. |Hanya Bian|

1.2K 197 36
                                        

《All We Need Just Heal》

Hanya Bian

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■


“Niat mudik nggak sih.”

Bian menggerutu saat melihat isi tas ransel Mahesa yang ternyata hampir kosong, Hanya ada topi dan dompetnya. Bian melirik jam tanganya, sudah pukul 09.55 malam. Ia lantas duduk di tepi ranjang, mengecek ponselnya. Jemarinya  lihai mengetikkan pesan pada sahabatnya yang sejak sore tadi pamit untuk berkunjung ke kosan Yusril. Bian sudah menawarkan untuk mengantar. Namun, Mahesa menolaknya dengan alasan ada kepentingan pribadi. Bian yang biasanya akan kekeh menahan, entah mengapa mala mini seperti banyak mengalah. Ia berusaha memaklumi Mahesa yang butuh ruang sendiri sejak kejadian kemarin. Lagi pula, sebentar lagi Mahesa akan selalu bersamanya. Tinggal di rumahnya.

Namun, kini perasan Bian mulai cemas ketika pesannya tak kunjung mendapat balasan. Bahkan hanya ceklis  satu. Bian mencoba menghubungi Mahesa melalui telfon, namun tetap tidak diangkat.

“Loh, belum tidur?” tanya Nurma yang tiba-tiba masuk ke kamar Bian karena baru saja pulang dari perjalanan bisnis bersama suaminya.

“Kok nggak bilang pulang hari ini, Mi?” sahut Bian sembari menyalami tangan ibundanya. Tanpa bangkit dari duduknya karena Nurma yang menghampiri dan ikut duduk di sebelahnya.

“Sengaja, biar tau kamu keluyuran apa nggak,” Nurma mengusak kepala anak nakalnya ini. “Kata Bibi ada Esa, mana sekarang? umi bawa makanan banyak tuh sama oleh-oleh buat dibawa ke Jogja sekalian.”

Bian menggeleng sembari menghela napasnya. “Belum pulang.”

Nurma mengernyit sembari mengecek jam dinding di kamar Bian. “Udah malam gini? ke mana? kok nggak kamu antar?”

“Dia mau ke rumah temennya, Mi. Mau pamit katanya.”

Suara itu terdengar berusaha biasa, tapi ada nada gelisah yang tak berhasil ia sembunyikan. Ia masih menatap layar ponselnya, berharap tanda centang dua berubah biru.

Nurma mengernyit. “Pamit ngapain? Kan balik lagi nanti. Coba telepon aja.”

“Nggak diangkat.”

Jawaban singkat itu membuat Nurma menoleh lebih serius. Ia bisa melihat bagaimana rahang anaknya mengeras, bagaimana jemarinya terus mengetuk-ngetuk sisi ponsel tanpa sadar.

“Kamu tahu temannya? Telepon temannya aja coba. Lagian kamu ini, Bi… Esa kan orang baru di Jakarta. Mana tahu dia belum hapal jalan.”

Ia menghembuskan napas kasar. “Ya gimana, aku tawarin mau dianter aja, dia nggak mau.”

Kalimat itu terdengar seperti pembelaan, tapi juga penyesalan.

Tanpa menunggu lagi, ia langsung mencari kontak Yusril dan menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar panjang, membuat dadanya ikut terasa ditarik.

“Halo, Bang. Sorry ganggu malam-malam,” Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di dalam kamar, satu tangan bertolak di pinggang. “Esa ketiduran apa gimana? Udah tengah malem gini kok belum balik?”

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang