《All We Need Just Heal》
● Andaru ●
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■
Sore itu sedang gerimis saat langkah kaki Mahesa berhenti di depan gedung tujuh lantai berdinding kaca mewah di depannya. Mahesa mendongak, topi yang ia kenakan tidak mampu melindungi wajahnya dari rintik kecil air hujan.
Divertiti, terpampang di atas gedung dengan neon terang, membuatnya terlihat lebih megah dibanding bangunan bangunan di sekitarnya. Seperti namanya, Divertiti adalah sebuah komplek hiburan yang besar. Tempat bersenang senang orang orang kaya. Hanya Mahesa yang berjalan kaki ke sana, sisanya menaiki mobil mobil mewah keluaran amerika dan eropa.
Mahesa mengeratkan topinya sebelum membawa kembali langkah kakinya yang kotor berlumpur masuk ke sana. Lantai pertama adalah sebuah toko yang menjual makanan makanan kecil seperti kue dan berbagai minuman ringan. Lantai kedua adalah restoran. Lantai ketiga adalah kafe dan internet. Lantai ke empat adalah tempat karaoke. Lantai kelima adalah bar dan ruang biliar.
Saking besar dan luasnya bangunan itu, langkah kaki Mahesa sudah tidak lagi meninggalkan noda lumpur saat ia berhenti di lantai lima. Mahesa tidak tau hiburan apalagi yang ditawarkan Divertiti di lantai enam dan tujuh karena di lantai lima lah Daru berada.
Daru memiliki kulit putih bersih. Cara berpakaiannya, tubuhnya yang tinggi tegap, wajahnya yang tampan membuatnya terlihat mencolok bahkan di tengah keramaian, mudah sekali ditemukan. Pemuda itu tengah menyesap rokok di bibirnya saat matanya menemukan Mahesa yang sudah lebih dulu menemukannya.
Dari bibirnya keluar asap putih saat berbicara, asap yang kemudian menyapu wajah seorang gadis yang tengah bersandar dan memeluk dadanya. Gadis itu nampak enggan saat Daru mengurai pelukannya. Tapi Daru tak acuh dan mulai berdiri, berjalan pelan mendekati Mahesa yang masih berdiri diam memperhatikan setiap gerakannya.
"Wanna have fun?"
Mahesa mengernyit saat napas Daru yang asam karena rokok dan alkohol menusuk hidungnya saat pemuda itu berbicara dari jarak yang cukup dekat saat ia berdiri di hadapannya.
Napas yang saat pulang ke rumah akan kembali segar. Sama seperti seragam yang ia kenakan. Sama seperti sekujur tubuh sampai ke ujung ujung rambutnya.
"Ada yang perlu kita bicarakan."
Daru berjalan selangkah lebih ke depan, lebih mendekat ke arah Mahesa. Tangannya terulur, menepuk, membersihkan daun kering yang entah sejak kapan ada di bahu Mahesa yang masih basah oleh air hujan.
"Gue harus mandi dulu sebelum pulang."
Di balik hoodie yang Mahesa kenakan, Daru dapat dengan jelas merasakan otot otot pemuda itu mengembang. Amarah yang mati matian Mahesa redam membuat Daru terkekeh ringan.
"Di atas ada hotel. Gue punya kamar khusus di sana. Gimana kalau hari ini gue traktir lo sebagai permintaan maaf karena udah ngancurin hubungan lo sama Mahaka?"
"Cewek. Gue jamin lebih cantik dari Kanesti. Lo bisa main main sambil nunggu gue bersih bersih sebentar."
"Lo tau kan, gue nggak mungkin pulang dalam keadaan kayak gini."
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
Novela JuvenilMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
