GO!
Pagi itu masih terik meski matahari baru saja naik ke ufuk-terik yang aneh untuk jam sebelum pukul tujuh.
Sekolah masih lengang. Sebagian besar kursi di koridor dan kelas-kelas masih kosong; anak-anak baru satu-dua yang berdatangan, langkah mereka terburu-buru mengejar waktu sebelum gerbang ditutup. Suara langkah kaki dan obrolan pelan bersahutan, tapi belum ada keramaian khas jam masuk sekolah.
Setelah kemarin aku dapat hukuman karena telat, hari ini aku justru mendapat kabar dari Alex lewat WhatsApp. Hari ini, aku, Alex, dan Cadby akan berkumpul di lapangan tengah untuk bertemu Egan dan beberapa anak Reguler.
Lumayan gugup, sih-terakhir kali aku bertemu anak-anak reguler, aku hampir dikeroyok. [Lihat bab Terjebak di Hari Ketiga Orientasi]
Makanya, pagi ini aku menyiapkan sunscreen di tas kecil yang kuselipkan ke dalam tas sekolah. Supaya bisa kubawa langsung ke lapangan tengah. Selain itu, ada air minum, cermin kecil, kipas portable, handphone, dan buku catatan-sekalian kubawakan buku gambar milik Rina yang belum sempat kukembalikan.
Pertemuannya dijadwalkan pagi ini, sebelum bel pertama berbunyi.
---
Aku pun keluar kelas, meninggalkan Dey yang masih duduk sendirian di kursinya. Aku menghampiri Alex yang berada di kelas 7 Excellent 3. Dari balik jendela, terlihat ia sedang mengobrol dengan Rina.
"Omong-omong, kebetulan banget," gumamku sambil tersenyum lebar, tanganku memegang tali kecil tas selempang.
Aku mengetuk pintu kelas mereka. "Permisi, Alex!" panggilku, riang.
Mata Alex langsung tertuju padaku. "Hei, La. Sini," sapanya.
Beberapa teman sekelasnya menoleh, lalu berbisik-bisik.
"Wih, anak kelas Ex One."
"Pinnya berkilau."
"Seragamnya juga keliatan lebih mewah, ya."
Mereka berlebihan soal seragam-padahal desain dan bentuknya sama persis, yang membedakan cuma pin kecil yang kupakai. Itu saja.
Aku sampai di meja Rina. Alex berdiri di depanku, sementara Rina duduk di kursinya sambil menunduk.
"Oh, ya." Tanganku cepat merogoh tas mungil, mengeluarkan notebook kecil ukuran A5 yang dijadikan buku gambar oleh Rina. "Ini punyamu," kataku sambil menyodorkannya ke atas meja. "Maaf, ya, aku nggak buru-buru balikin udah berbulan-bulan, hehe." Aku nyengir.
Rina mendongak. Wajahnya sedikit terlihat, dan baru kusadari ia memakai kacamata. Meski begitu, rambutnya tetap menutupi sebagian wajahnya bikin aku nggak nyaman lihatnya-entah kenapa, rasanya mengganggu.
"Terima kasih, Ella. Aku sudah lama mencarinya." Ia tersenyum, bibirnya yang natural terlihat sehat dan segar.
"Sama-sama, Rin," balasku, tersenyum.
"Ehem." Alex berdeham. "Ayo, La." Ia meraih tanganku. Aku segera menepisnya. "Oh iya, maaf-maaf," katanya sambil tertawa kecil.
Rina menoleh ke arah kami yang hendak keluar kelas. "K-kalian," panggilnya pelan.
Aku menepuk lengan Alex. "Tar dulu, Lex. Kenapa, Rin?"
Kaki kami berhenti, menoleh ke arah Rina.
"Ap-apa..." Rina menyisir rambutnya yang sudah rapih. "Bolehkah aku ikut?"
Aku dan Alex saling berpandangan. Alex berbisik ke telingaku. "Di rencana ke ruang PCS itu awalnya memang aku dan Rina, La. Tapi Rina nggak berani nyusul keluar kelas-dia takut izin ke guru. Oh, ya! Terus kemarin dia malah lakuin hal aneh, tiba-tiba teriak sendirian, bilang 'STOP' padahal di depan-belakangnya nggak ada siapa-siapa. Aku sama teman-teman kelas yakin, kalau dia anak indigo." Cerita Alex terpotong, saat dering handphone di celananya berdering. "Eh, Cadby nelpon. Bentar, ya." Ia langsung keluar kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasía• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
