Yoongi segera menjejalkan jurnal Hyerin di antara bajunya yang ia tanggalkan. Selepas itu, ia langsung keluar dari ruang fitting room untuk mendapatkan make up dari Jihoon noona yang menunggu di luar.
"Astaga! Apa kau juga tidur di dalam fitting room, Yoongi?!" protes dari Jihoon langsung menyambutnya ketika ia baru saja memunculkan diri.
Ia mendengar suara kekehan Hyerin yang ikut menyambut protesan Jihoon.
"Ya! Ya! Apa aku memperbolehkan kau tertawa?" Yoongi menginterupsi laku Hyerin dengan maksud bercanda.
Seketika Hyerin langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Kepalanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia bahkan melambai-lambaikan tangannya menyuruh Yoongi untuk segera duduk dan melanjutkan kegiatan yang harus dilakukannya.
Yoongi agaknya sedikit merasa lega melihat kenyataan bahwa Hyerin tidak apa-apa. Yah, walaupun setidaknya mungkin hanya nampak di matanya, tapi melihat keadaan itu dengan mata kepalanya sendiri betul-betul telah mengurangi perasaan bersalahnya walau mungkin hanya secercah saja.
Lantas, Yoongi duduk di depan cermin sambil sesekali menerima riasan tipis dari Jihoon. Mulanya, Yoongi hanya terpaku pada refleksi dirinya sendiri pada cermin di hadapannya. Tetapi, sesuatu di balik punggungnya itu berhasil mengalihkan segala perhatiannya. Di lubuk hatinya kembali bertamu rasa bersalah yang baru saja mereda.
Refleksi di cermin itu menampilkan jelas lutut Hyerin yang bergerak gusar. Terlebih, di lututnya terdapat plester yang melekat di atasnya. Pemandangan itu kian menyiksa perasaan Yoongi atas hakikat manusia yang memiliki nurani.
"Hyerin-ah," panggil Yoongi meski ia masih menerima riasan dari Jihoon.
Hyerin lantas mendongak, menatap Yoongi melalui cermin. "Hm?"
"Kau sudah siapkan teksmu?" Yoongi bermaksud untuk setidak-tidaknya Hyerin tidak hanya berkutat dengan rasa bosannya.
Sontak mendengar pertanyaan itu Hyerin langsung sumringah lebar-lebar. "Kau punya hobi baru untuk meledekku, huh?"
Yoongi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ani. Geunyang... Ku pikir segalanya tentangmu itu memang patut ditertawakan." (Tidak. Hanya)
"Jangan dengarkan dia, Hyerin. Sudah ku bilang dia itu yang terburuk dari yang buruk," racau Jihoon yang mengelak dari pernyataan Yoongi.
Hyerin hanya menimpali dengan kekehan yang berhasil membuat kedua matanya ikut tersenyum. "Gwaenchana. Aku jadi berpikir untuk membawa catatan salam pembuka. Wah, untung kau mengingatkanku." Hyerin melemparkan guyonan ringannya.
Refleksi cermin itu menampilkan Jihoon yang nampak terkekeh dan Yoongi yang tersenyum tipis. "Nah, kan. Aku ini yang terbaik dari yang baik."
"Aishh...." Hyerin mendesah panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ku tarik kembali ucapanku."
Kembali. Cermin itu menampilkan refleksi Jihoon yang masih terkekeh dan Yoongi yang selalu tertawa kecil tanpa suara.
"Ya! Ya! Apa aku memperbolehkan kau tertawa?" tiba-tiba Hyerin menyambut tawa yang mereda itu dengan gayanya yang meniru cara bicara Yoongi padanya. Sontak Jihoon dan Yoongi tak mampu meredakan tawanya.
Ya ampun... Tidak ku sangka ternyata Hyerin orang yang sangat ramah. Batin Yoongi meski ia masih saja tertawa.
Ternyata dia cantik luar dalam, ya?
Astaga. Apa yang barusan ku pikirkan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Bulletproof [Selesai]
FanfictionHyerin tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan semudah itu untuk berpindah haluan. Awalnya, Hyerin hanya mengenal Yoongi sebagai seorang rapper dari grup favoritnya. Sesederhana itu. Hingga tanpa sadar, perlahan-lahan Hyerin mulai terlibat dalam...
![Bulletproof [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/94130961-64-k767800.jpg)