Epilogue (1) (new part)

56 6 0
                                        

Malam itu terdengar begitu sunyi dan tenang. Tanpa sadar Yoongi telah menghabiskan waktunya hingga hampir pukul dua belas malam hanya untuk mengkomposisi lagunya di dalam studio. Ia lebih mirip ayam yang mengerami telurnya dibanding seorang produser musik karena tidak juga beranjak dari kursi selama beberapa jam. Mengingat, lagu ini akan menjadi sebuah batu loncatannya untuk diakui sebagai produser lagu yang hebat, bukan hanya demi kepentingan grupnya. Namun juga sebagai produser lagu yang akan dinyanyikan oleh seorang solois dengan suaranya yang syahdu—Suran.

Saat itu Yoongi sedang kembali merevisi melodi-melodi lagunya sebelum sang penyanyi membawakan lagunya dengan baik, ketika terasa getaran di meja kerjanya begitu kentara lantaran sebuah panggilan masuk ke dalam teleponnya. Yoongi berasumsi cepat kalau-kalau itu adalah salah seorang dari sekian banyaknya manajer mereka. Kendati itu, nama yang terpampang di depan layarnya betul-betul memutar balik ekspektasinya.

Yoongi segera berdeham dan cepat-cepat mengangkat teleponnya, "Yeoboseyo—"

"Saengil chukkahamnida... Saengil chukkahamnida...." Dari seberang telepon terdengar seorang gadis menyanyikan lagu yang tidak begitu asing itu dengan suaranya yang lembut. "Saranghaneun, naui Yoongi... Saengil chukkahamnida!"

Yoongi sedikit mengembangkan senyum di atas bibirnya. Buru-buru ia mengecek ke arah jam yang selama ini tidak diperhatikannya sudah menunjukkan tengah malam. "Wah? Sekarang sudah tanggal sembilan?"

"Ya...," keluh seseorang karena respon Yoongi yang justru kebingungan bukan sebuah respon yang positif. "Aku bahkan sudah mengatur alarm untukmu."

"Ah, jinjja?" tanya Yoongi tak percaya. Ia memerhatikan digit angka yang muncul di jam digitalnya sambil tersenyum. "Gomawo."

"Ne," jawab seorang gadis itu dengan keceriaannya yang kembali. "Neo jigeum eodinyi?" (Kau di mana sekarang)

Jawab Yoongi berterus terang, "Masih di studioku... Masih mengerjakan proyek baruku."

"Studio di Big Hit?" tanya gadis itu lagi memastikan.

Yoongi merebahkan badannya ke kursi. Mengalihkan seratus persen perhatiannya pada tiap kata dari orang di seberang telepon. "Iya...."

"Oke," balas gadis itu singkat.

Dahi Yoongi mengernyit bingung. "Oke?"

"Aku sudah di depan studiomu," kata gadis itu. Membuat Yoongi sontak mengalihkan pandangannya ke pintu studionya dengan ragu.

Masih dengan ragu dan penuh ketidakpercayaan, Yoongi bertanya kembali tanpa bergerak dari tempatnya sama sekali. "Di depan studioku?"

"Iya... Dari tadi aku sudah di depan studiomu," jawab gadis itu dibarengi dengan tawa khasnya.

"Eoh?" Begitu mendengar kalimat yang meyakinkan itu, Yoongi segera beranjak dari kursinya. "Jinjja?"

"Iya...," jawabnya lagi seakan tidak pernah lelah dengan ketidakpercayaan Yoongi. "Kau tidak akan membukakan pintunya?"

Kaki Yoongi segera bergerak cepat mendekati pintu. Tangannya tidak sabar membukakan pintu untuk seseorang di seberang telepon itu. "Ini, aku bukakan."

Yoongi membuka pintu studionya dengan lebar. Dari balik pintu itu tertampak perawakan seorang gadis yang terlihat begitu cantik di mata Yoongi karena riasan dan baju yang dikenakannya. Yoongi sampai-sampai memberi waktu jeda untuk memerhatikan wajah gadis itu antara tidak percaya dan tertegun dengan penampilannya hari ini.

Bulletproof [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang