Jumat, 3 Maret 2017.
Hari-hari silih berganti. Malam dan siang telah begitu banyak berlalu. Purnama-purnama telah muncul dan tenggelam dalam beberapa waktu. Langit putih bersama serpihan salju yang turun dan merendahkan suhu permukaan bumi telah berganti menjadi langit cerah dan hamparan bunga yang bermekaran.
Waktu terasa begitu cepat berlalu dan begitu banyak terlewati di belakang. Namun juga terasa sukar dan sesak pada saat yang bersamaan. Hingga lambat laun hal yang mesti dilupakan terlupakan, perasaan yang dielak sirna perlahan-lahan, sesuatu yang ditunggu-tunggu tak lagi menjadi hal yang dinanti-nanti. Semuanya terjadi karena waktu sudah terlalu banyak berlalu dan menjalani hari tanpa semua itu telah menjadi kebiasaan.
Terdengar sebuah derit kencang dari loker yangterbuka di sampingku. "Ah, gila... Rasanya leherku mati rasa," keluh Hyunwoo dengan suaranya yang terdengar lelah.
"Kau belum merasakan bagaimana rasanya punggung dan lehermu sakit sampai untuk tidur pun tidak enak," ucapku seraya menaruh buku-buku tebal berisi pengetahuan medis ke dalam lokerku.
Kami—aku dan Hyunwoo—baru saja menyelesaikan tugas kami masing-masing di perpustakaan. Ini adalah bulan pertama kami sebagai mahasiswa kedokteran di salah satu universitas di Korea. Kami baru saja menyelesaikan tugas dan membaca banyak jurnal medis yang langsung kami terima begitu memulai ospek. Jujur saja, terkadang aku merasa iri kepada mahasiswa baru di jurusan-jurusan lain. Mereka akan bersenang-senang dengan ospek yang mereka lakukan dan melakukan pertemuan jurusan di luar jam kuliah. Tapi, tidak dengan jurusanku. Begitu ospek jurusan dimulai, kami sudah diberikan pembelajaran mengenai mata kuliah jurusan bahkan di hari itulah datang tugas pertama kami.
Aku memang sudah mengekspektasikan pembelajaran yang berat di program studi kedokteran, namun aku lebih tidak mengekspektasikan apa yang akan dihadapiku. Seperti hari ini, hari ini adalah sehari sebelum pengumpulan tugas, dan Hyunwoo baru menyelesaikan tugasnya.
"Ah, aku tidak ingin merasakannya." Hyunwoo mengelak begitu membayang-bayangkan rasanya. "Bagaimana bisa kau mengerjakan tugas begitu cepat?"
Kututup pintu loker dan menguncinya. "Kau tahu, kan... Setiap selesai kelas aku selalu pergi ke perpus dan pulang jam dua belas malam. Itu untuk mengejar materi dan mengerjakan tugas yang diberikan hari itu juga."
"Wah... Harusnya kau ajak aku," kata Hyunwoo ikut menutup dan mengunci lokernya.
"Aku ingin mengajakmu, tapi kau selalu sibuk dengan klubmu," jawabku terus terang.
Hyunwoo bergumam-gumam, "Ah... Setelah beberapa minggu merasakan menjadi mahasiswa kedokteran seutuhnya, kupikir... aku tidak akan bertahan lama di klub."
"Iya, kan?" tanyaku balik padanya, "Itulah alasanku tidak mengikuti klub sama sekali. Kecuali ada klub khusus kedokteran, organisasi fakultas, dan volunteering."
Kepala Hyunwoo mengangguk-angguk mengerti, "Ah, majja-majja."
"Kita pergi sekarang? Kelihatannya sudah ramai." Aku menilik ke arah arlohi yang melingkar di pergelangan tanganku. Hari ini adalah hari di mana kampusku menggelar konser di fakultas sastra dan budaya. Mereka mengundang artis-artis yang cukup terkenal untuk memeriahkannya.
"Ah, tentu saja sudah ramai. Aku pasti sudah datang kalau bukan karena tugasku," kata Hyunwoo masih dengan keluhan-keluhannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bulletproof [Selesai]
FanfictionHyerin tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan semudah itu untuk berpindah haluan. Awalnya, Hyerin hanya mengenal Yoongi sebagai seorang rapper dari grup favoritnya. Sesederhana itu. Hingga tanpa sadar, perlahan-lahan Hyerin mulai terlibat dalam...
![Bulletproof [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/94130961-64-k767800.jpg)