Semburat mentari pagi membangunkanku dari tidur. Meski baru sehari, rasanya badanku pulih sedikit demi sedikit. Bahkan aku mulai bosan untuk tinggal di dalam ruangan ini. Kukerlingkan pandanganku begitu bangun dari posisi terlentangku. Kulihat mama dan ayah tiriku yang tertidur lelap berdua di sofa tamu. Mereka lebih kelihatan letih dibanding aku yang baru saja mengalami kecelakaan. Gerak-gerikku jadi amat hati-hati agar tidak membangunkan mereka.
Di samping kananku, kulihat pemandangan yang berbeda hari ini. Bunga tulip dan sekawanan baby's breathe yang ada dalam vas itu menghilang. Digantikan oleh anyelir merah yang memenuhi vas dan lagi-lagi baby's breathe yang menjulur dan mencuat sebagai aksen tambahan.
Dalam hati, aku bergumam-gumam. Padahal, bunga kemarin nampak masih sangat segar. Tetapi mengapa serangkaian bunga itu diganti tiap harinya?
Aku turun dari ranjang dengan langkahku yang sedikit terpincang. Melihat cuaca di luar yang cukup cerah, kuambil ponselku dan jaket milik ibu dengan begitu hati-hati. Berniat ingin mencari udara segar ketimbang harus terus-terusan berada di dalam ruangan.
Aku keluar dari gedung rumah sakit itu. Udara segar dan suhu yang dingin seketika menerpaku begitu aku melangkahkan kaki ke luar gedung. Aku pergi menuju taman rumah sakit yang berada pada lantai dasar di belakang gedung. Suasananya cukup bagus dan tenang. Aku untuk sebentar berdiam diri memandangi kesibukan-kesibukan orang yang berlalu lalang tepat di hadapanku.
Entah karena bersyukur atau terlalu naif, aku cukup senang karena di tempat ini, aku tidak lagi merasa menjadi pusat perhatian seperti beberapa waktu belakangan.
Kupindai keseluruhan taman itu dengan baik, hingga kutemukan sebuah kursi panjang yang terlihat nyaman. Aku pada akhirnya melangkahkan kaki menuju sebuah kursi panjang itu tanpa beban. Tidak lagi mengkhawatirkan mulut-mulut yang akan membicarakanku atau pasang-pasang mata yang menatapku sinis. Kurebahkan punggungku ke atas sandaran kursi. Untuk sejenak hanya memperhatikan langit pucat dan wajah-wajah orang yang berlalu lalang dengan raut mereka yang terlihat berbeda-beda.
Ketika merasa cukup puas, aku pada akhirnya mengeluarkan ponselku dari saku jaket. Melihat-lihat apa saja yang telah terjadi selama seharian tidak menggunakan ponsel.
Ternyata aku menerima banyak sekali pesan dari grup dan pesan secara personal. Semua teman dekatku menanyakan kabarku via pesan. Bahkan mereka ramai membicarakanku di grup.
1998's Musketeers (6)
Kim Wookyung :
@yoona98 @hyeseorin
Di mana?
Ahn Yoona :
Hei.
Kim Wookyung :
Oh, iya.
@hyeseorin -a~
Kita main bowlingnya tidak hari ini, kok. Take your time~
Son Sooyoung :
Eoh. Hyerin-a... Santai, saja, oke?
Kang Haneul :
Hwaiting!!! Chagii><
Baek Hyunwoo :
Kami menunggumu selesai. Kau istirahatlah. Kalau ada sesuatu, kau bisa telepon aku.
Son Sooyoung :
Woah, yeoksi uri Hyunwoo
Kim Wookyung :
Aku telepon kau sekarang boleh? @hyunw098
Baek Hyunwoo :
Enyah.
Kang Haneul :
Hyerin-a
Ah, sial. Aku khawatir
Baek Hyunwoo :
Ada apa?
KAMU SEDANG MEMBACA
Bulletproof [Selesai]
FanfictionHyerin tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan semudah itu untuk berpindah haluan. Awalnya, Hyerin hanya mengenal Yoongi sebagai seorang rapper dari grup favoritnya. Sesederhana itu. Hingga tanpa sadar, perlahan-lahan Hyerin mulai terlibat dalam...
![Bulletproof [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/94130961-64-k767800.jpg)