Lagu terakhir yang mereka bawakan adalah Fire. Ketujuh orang itu membakar seisi stadion dengan semangat dan euforia yang mengepul darinya. Semua orang gembira dan bersorak sorai. Sedangkan aku, hanya berusaha keras menutup-nutupi jalan kepada perasaan dan kenangan yang hendak membuncat keluar. Hyunwoo juga sesekali menyemangatiku untuk tidak terlalu terlarut dalam suasananya dan nikmati saja konser ini seakan tidak ada hari esok.
Begitu lagu Fire dimulai setelah lagu Spring Day yang begitu melankolis, rasanya aku susah menolak untuk bereaksi seperti seorang bipolar. Lagu dan penampilan yang mereka bawakan seakan-akan ingin menyedot semua kegelisahan yang hinggap pada tiap-tiap penonton di sini. Aku bahkan hampir kembali menjadi penggemar mereka untuk alasan yang sama.
Penampilan ketujuh laki-laki itu usai dengan perasaan sedikit kecewa dan banyak puasnya. Mereka hanya menampilkan tiga lagu, namun betul-betul sukses bersinar di atas panggung. Sebuah profesionalitas yang semakin kuperhatikan semakin melaju tinggi seiring dengan pamor mereka yang melejit.
"Ah... Aku mau dengar satu lagu lagi...," gumam Hyunwoo yang menyuarakan isi hati penonton satu stadion.
Kepalaku menggeleng-geleng heran, "Kau punya uang berapa untuk membayar mereka?"
"Jual ginjal." Hyunwoo asal bicara dan aku hanya menertawakan fakta yang sedikit terdengar mengerikan itu.
Aku bersiap untuk meninggalkan konser bersamaan dengan member BTS yang memberikan salam perpisahan berupa lambai-lambaian mereka yang dilayangkan kepada seluruh penonton se-stadion.
Entah mengapa, melihat itu mataku secara otomatis segera mencari keberadaan Yoongi di atas panggung. Berharap apakah dia mampu melihatku dari sekian banyak orang di sini.
Ah, namun... tidak lagi. Aku tidak mau kembali berharap atas perasaan yang rancu. Aku ingin meluruskan niatku dari awal untuk menyudahkan perasaanku yang tanpa lelah selalu merisak hati dan pikiran. Menyelesaikan apa-apa yang sebenarnya bahkan belum dimulai. Berhenti dari pilu yang kupeluk sendiri. Berharap pada Yoongi tidak lantas menyembuhkan luka-lukaku kendati aku sangat merindukannya.
Kuperhatikan Hoseok dan Jimin yang telah berada di sisi panggung untuk bersiap turun. Pikiranku seketika berlabuh pada ingatanku tentang Yoongi yang selalu bergerak cepat untuk turun panggung setelah penampilan mereka usai. Kupikir, mungkin Yoongi sudah menuruni panggung mendahului Jimin dan Hoseok. Kalau dipikir-pikir kembali soal kepribadiannya.
Tidak peduli apakah temannya berada di antara kerumunan penonton ini, atau bahkan aku yang hanyalah seorang wanita yang datang sepintas di hidupnya. Aku mendecih pelan. Persetan dengan harapan-harapan yang menjadikanku semakin kecil dan mustahil.
Aku menundukkan kepalaku sebentar untuk membetulkan hati dan pikiranku demi yang kesekian kalinya. Saat itu kudengar Hyunwoo bergumam tiba-tiba, "Hahaha, kiyowo."
Kualihkan pandanganku kepada Hyunwoo dengan bibirku yang mencebik dan raut bingung. "Mwoga kiyowo?"
Hyunwoo segera menunjuk ke arah sisi panggung yang berlawanan dengan alur keluar masuk penampil. Mataku dengan cepat mengekori arah tunjukan Hyunwoo hingga kudapati Yoongi yang berdiri terdiam di ujung panggung. Ia terlihat diam di tempat dengan kedua tangannya terlipat ke belakang.
Kelihatannya ia seperti sedang memperhatikan penonton. Dari perspektif kami, Yoongi terlihat seakan-akan tidak tahu kalau acara mereka telah usai, dan ia ditinggal oleh rombongan. Banyak orang mulai membicarakan tingkah Yoongi yang terlihat seperti bocah yang kehilangan arah itu. Hingga-hingga Namjoon datang menghampirinya dengan lari. Seisi stadion menertawakan kejadian yang ada di hadapan mereka itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bulletproof [Selesai]
Fiksi PenggemarHyerin tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan semudah itu untuk berpindah haluan. Awalnya, Hyerin hanya mengenal Yoongi sebagai seorang rapper dari grup favoritnya. Sesederhana itu. Hingga tanpa sadar, perlahan-lahan Hyerin mulai terlibat dalam...
![Bulletproof [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/94130961-64-k767800.jpg)