Healing

266 52 17
                                        

Aku membiarkan hening malam merasuk ke dalam tubuhku. Seluruhnya. Aku begitu kosong mengingat seluruh luka itu mulai kembali terbuka. Dan aku benci ini.

Lihat betapa janggalnya aku bahkan meninggalkan kalimat singkat bersama bedebam pintu yang cukup keras. Ini aneh. Ini semua atas dasar beberapa hal itu, bukan? Aku berkali-kali telah menimpanya hingga tak tersisa celah untukku melihatnya dengan sejuta kebahagiaanku dan pemikiran positif. Tapi tidak. Tidak lagi kali ini. Bahkan dengan lancangnya sang pengukir luka itu berani-beraninya menggali kembali apa yang telah kukubur jauh-jauh.

Kau tanya bagaimana perasaanku, kan, Yoongi? Nahasnya, itu menyakitkan. Terlebih saat aku berjuang sendirian nyaris saja aku kehilangan kesadaran diri dan
frustasi. Anggap saja bila aku tak ingin menyalahkanmu, lantas di mana tempat aku bersandar?

Atas caci maki itu? Atas perilaku kasar penggemar-penggemarmu? Bahkan hingga aku nyaris kehilangan nyawa temanku?

Beberapa momen yang lalu kau bahkan bertingkah seakan kau memiliki bidai kuat ketika ragaku patah. Tapi semudah itukah kau menarik kembali bidaimu sehingga membiarkanku kembali pada rusak jiwa dan ragaku?

Kau membiarkan malam ini kembali kelam bersama gelap yang selalu beriring.

Kulihat detak jam dinding di depanku. Bahkan untuk setengah jam aku telah terjaga demi perasaan yang tak kunjung padam. Aku kembali membetulkan posisi tidurku dan memilih tenang. Dengan harapan besar seluruh kesenanganku mampu mengerti dan mengakhiri sengsara ini.

Perlahan kukatupkan mataku hingga tersisa gelap. Tetapi tiba-tiba suara dering ponsel berhasil mengejutkanku dan memaksaku kembali mengalihkan perhatian padanya.

Sebuah panggilan masuk dengan nama yang tidak kuinginkan.

Ketika aku akan memilih abai, seketika satu pemikiran itu kembali menyadarkanku. Setidak-tidaknya aku perlu adanya berterima kasih karena kebaikan-kebaikannya. Dan seperti yang telah kutanamkan sedari dulu ketika konferensi pers itu usai, maka urusan kami akan usai. Pun, mungkin setelah kejadian bodoh ini.

Atau sebetulnya... Aku marah atas alasan yang tidak bisa kuungkapkan?

Lantas aku segera mengangkat panggilan tanpa suara, membiarkan pemanggil itu memulai percakapan.

"Hyerin." Dia memanggil pelan tetapi aku membisu.

"Hyerin, kau di sana?" lagi-lagi aku memilih untuk tidak berkata sama sekali.

"Y-ya, aku hanya ingin minta minum. Boleh, kan?" aku tersenyum miring. Lagi-lagi dia melontarkan pertanyaan ketika aku tak akan menjawab sepatah katanya.

"Geurae." Dengan begitu ia memutus teleponnya.

Aku sempat bertanya-tanya kondisinya saat ini, bahkan sampai ia mampu membuat panggilan setelah sebelumnya nyaris pingsan karena sakitnya. Sadar akan hal itu, aku justru menderapkan tungkaiku menuju dapur.

Semoga saja dengan pertolonganku dia mampu sembuh dan semuanya akan usai, bukan?

Ketika aku mencapai dapur, kudapatkan Yoongi yang mengisi gelasnya dengan air keran. Aku tak mengerti mengapa berani-beraninya ia akan menegak air dingin sementara perutnya sedang bermasalah.

Aku segera meraih gelas dari genggamannya—mencegahnya meneguk air dingin itu. Meski tanpa suara, kujawab kebingungannya dengan tanganku yang segera menuang habis air itu hingga tak bersisa. Aku segera beralih pada dispenser airku untuk menyalakan penghangatnya.

Yoongi yang sedikit membuntutiku menatap bingung. "Tidak perlu, aku hanya-"

Aku menginterupsi suaranya dengan tubuhku yang main berlalu di hadapannya. Ditambah lagi bisingnya tanganku ketika aku kembali pada counter-counter di dapur dan mulai mengobrak-abrik isi laci atas untuk mencari gelas baru.

Bulletproof [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang