Author's POV
Yoongi melepaskan pelukannya seraya terkekeh-kekeh senang, "Apa-apaan, ini...," protesnya, "kau curang sekali."
Mata Hyerin menyipit sedang bibirnya mengulas sebuah sumringah lebar. "Apanya yang curang?"
"Kau memanggilku 'Yoongi-ku' sebelum aku siap mendengarnya," kata Yoongi sambil terkekeh-kekeh.
Kalimat itu juga disambut kekehan yang dibarengi bersemunya semburat merah di pipi Hyerin. "Mwoya... Bukannya memang liriknya seperti itu? "
"Ani...," elak Yoongi. "Semua orang akan menyanyikan, 'uri Yoongi' bukan 'naui Yoongi'." (Yoongi kami bukan Yoongiku)
"Tapi, kan aku hanya bernyanyi sendirian. Tidak mungkin aku menyebutnya, 'kami'." Hyerin masih bersiteguh mengelak dari protesku.
"Ya- aku tahu... Kau baru beberapa tahun tinggal di Korea. Tapi... Kalau kau mengatakannya langsung jadi terdengar berbeda untukku."
"Ck. Mwoya...." Hyerin memasang mimik jijik yang dibuat-buat. Ia bahkan melipat tangannya di depan dada dan memalingkan tubuhnya dari Yoongi. Betul-betul seorang yang gengsian.
Melihat hal itu Yoongi semakin tertawa gemas melihat tingkah Hyerin yang betul-betul mencerminkan kepribadian aslinya. Rasa-rasanya kalau mampu Yoongi ingin menjawili pipinya karena gemas.
"Aish... Gemas sekali," gumam Yoongi dengan pelan nyaris seperti bisikan, "ingin kucubit pipi itu rasanya."
Masih dengan posisinya yang tidak menghadap Yoongi, Hyerin berujar, "Aku mendengarmu."
Yoongi mengikis jaraknya dengan Hyerin. Menekan-nekan ujung telunjuknya ke pipi Hyerin. "Ya."
Hyerin berusaha mengelak dari telunjuk Yoongi yang menekan pipinya, tetapi yang ia lakukan hanya menelengkan kepalanya. Alhasil, Yoongi tetap menjahilinya. "Waeyo?" tanyanya dengan jengah.
Lagi-lagi Yoongi terkekeh-kekeh melihat tingkah Hyerin yang semakin lucu di matanya. "Tidak apa. Hanya saja... Senang sekali mengganggumu."
"Aish... Sikeuro," keluh Hyerin masih tetap dengan kepribadiannya yang gengsian. (enyahlah)
"Ya... Kenapa kau jadi dingin setelah pengakuan-pengakuan kita?"
"Ani," jawab Hyerin tiba-tiba mengalihkan wajahnya ke arah Yoongi. "Geunyang... Siapa, sih, yang suka dijahili? Tidak ada, kan?"
"Kapan lagi kau dijahili oleh seorang member BTS, hm?"
"Percaya diri sekali."
"Ah, kau ini gengsian!"
"Tidak! Aku tidak gengsian!"
"Iya!"
"Tidak!"
"Iyaa!"
"Tidaakk!"
"Pokoknya, iya."
"Terserah."
"Tuh, kan... Kau gengsian."
"Ya sudahlah! Terserah!" kata Hyerin pada akhirnya menyerah melawan Yoongi. "Kau tidak pulang? Hujannya sudah mulai reda."
"Kau tidak ingat kalau aku ingin bersamamu?" tanya Yoongi kembali mengingatkan perkataannya.
"Oh, iya, ya," gumam Hyerin seperti orang yang benar-benar lupa akan hal itu. "Kalau begitu, hubungi manajermu. Mereka pasti khawatir."
"Oke. Aku akan bilang aku akan menginap di rumah Hyerin," celetuk Yoongi santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bulletproof [Selesai]
FanfictionHyerin tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan semudah itu untuk berpindah haluan. Awalnya, Hyerin hanya mengenal Yoongi sebagai seorang rapper dari grup favoritnya. Sesederhana itu. Hingga tanpa sadar, perlahan-lahan Hyerin mulai terlibat dalam...
![Bulletproof [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/94130961-64-k767800.jpg)