Torture ; -Part 2 (new part)

201 38 12
                                        

Selama ini aku cukup sulit membicarakan masa laluku yang cukup rumit. Aku berusaha terbiasa ketika orang-orang terheran dengan perawakanku yang tidak seperti orang Indonesia sedikitpun, padahal ayahku orang Indonesia asli.

Tentu saja. Karena beliau adalah ayah tiriku.

Ayah kandungku meninggal pada saat aku baru saja memasuki kelas 3 SMP. Kami sering bolak-balik Indonesia-Korea untuk pengobatan ayah yang mendadak terserang alzheimer. Karena biaya untuk pengobatan ke Korea sangat mahal, ayah memutuskan untuk berobat jalan cukup di Indonesia saja.

Tetapi berobat di Indonesia tidak bisa merubah apapun selain menguras kocek kedua orang tuaku. Ayah tiriku yang sekarang adalah direktur dari rumah sakit yang merawat ayahku. Aku pernah merasa sakit hati ketika memergoki ibu yang tengah sedih itu dihibur oleh ayah tiriku sekarang. Namun aku tidak mampu berbicara apapun, karena pada saat itu, biayanya menjadi ringan karena ibu belakangan mengenal ayah tiriku dengan baik.

Hingga pada akhirnya, hari-hari berlalu dan kondisi ayah tak kunjung membaik. Dia tidak ingat namaku. Yang diingatnya hanya nama ibu.

Saat itu rasanya aku ingin marah, karena ibu merasa lebih tenang karena keberadaan ayah tiriku, bukan karena aku, atau ayahku yang berusaha memerangi alzheimernya.

Ayahku pada hari-hari terakhirnya selalu menanyakan siapa namaku dan siapa aku. Aku selalu menjawab namaku dan memperkenalkan diriku sebagai anaknya berulang-ulang kali. Tetapi dia tetap tidak ingat. Sampai pada suatu malam, ayahku memanggilku. Rasanya seperti bermimpi. Membuatku semakin berekspektasi kalau ayah akan sembuh dan kembali bersama keluarga kami.

Waktu itu beliau menanyakanku, apakah aku sudah makan atau belum. Lalu dia menanyakan apakah aku mengikuti lomba debat bahasa Inggris yang pernah kubincangkan sebulan yang lalu?

Aku terkejut bukan main karena akhirnya ayah kembali seperti sedia kala. Namun, aku harus berterus terang kalau aku tidak akan mengikuti debat itu karena ingin menemani ayah saat menjalani pengobatan. Ayahku nampak marah dan kecewa. Karena itu adalah kesempatanku terakhirku di SMP untuk mengikuti lomba debat bahasa Inggris se-Asia Tenggara. Tetapi, aku tetap menolaknya dengan alasan, aku akan mengikutinya kalau ayah sudah sembuh. Padahal aku sudah terlanjur menyatakan mundur dan lomba itu akan dilaksanakan dalam tiga hari lagi.

Hari itu ayah kelihatan membaik. Namun usai mengungkapkan kekecewaannya, beliau sama sekali tidak mengenalku. Bahkan kali ini beliau tidak mengingat ibuku, dan tidak mengingat cara berjalan. Kondisinya kian parah bahkan dan tiap-tiap jam semakin memburuk.

Pada akhirnya, ayah dinyatakan meninggal dunia tepat sehari sebelum perlombaan debat itu digelar. Dan hingga saat ini, aku belum bisa mewujudkan permintaan terakhirnya.

"Melamun?"

Pertanyaan itu sontak menyadarkanku dari lamunan. Yoona memerhatikanku dengan wajah khawatirnya.

"Yedeul-ah. Karena kita sudah berkumpul gini, gimana kalau kita ke tempat bowling yang sudah ku-share location-nya di grup?" tanya Wookyung dengan asal-asalan.

"Ya! Wookyung! Kau keterlaluan sekali." tegur Sooyoung pada Wookyung yang berbicara sembrono.

"Aku hanya ingin Hyerin tidak bersedih begini...," katanya membela diri. "Hyerin, kau mau ke suatu tempat?"

"Bowling?" tanyaku memastikan, "kedengarannya bagus."

"Hyerin, tolong jangan paksakan... Kami akan di sini seberapa lama pun kau mau," pinta Sooyoung yang kurespon dengan elakkan.

Bulletproof [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang