Special Part; Tell the Truth

4.2K 568 96
                                        

Kebetulan?

Gua bukan tipe orang yang yakin akan sebuah kebetulan. Gua adalah orang yang meyakini kalau dengan kerja keras, semua hal-hal yang gua inginkan, besar kemungkinannya untuk terwujud.

Kalian pikir, gua bisa ketemu Kinan lagi setelah bertahun-tahun hilang, itu kebetulan?

Bukan sama sekali.

Gua, susah payah memperjuangkan dia untuk bisa ada di tahap ini. Kalau gua mau cerita soal gimana gua berusaha keras buat bisa menemukan Kinan lagi, boleh kan?

Jadi, hari itu tiba-tiba Papa narik paksa gua dari rumah Kinan, tanpa membiarkan gua lebih dulu berpamitan atau setidaknya mengucapkan salam perpisahan. Di tengah jalan, gua nggak berhenti menangis. Gua menangis karena saat itu gua pikir itu adalah hari terakhir ketemu Kinan. Gua langsung teringat janji gua untuk menemukan dia dan menyuruh dia untuk nggak pergi ke mana pun.

Lalu, gimana kalau ada anak laki-laki lain yang menemukan dia?

Tapi, satu-satunya kalimat Papa yang menjadi motivasi gua untuk terus bekerja keras adalah "Tama, kamu boleh ketemu Kinan lagi kalau udah besar. Kamu bahkan boleh menikahi Kinan kalau kamu mau. Tapi janji sama Papa, kamu harus bekerja keras. Kamu harus sukses biar Kinan nggak pergi meninggalkan kamu. Sama seperti yang Mama lakukan sama kita."

Sialnya, sebagian kalimat Papa itu langsung mendoktrin otak gua tentang "kalau gua nggak sukses, Kinan bakal meninggalkan gua". Di satu sisi, itu memang jadi motivasi gua. Tapi, di sisi lain, itu bikin gua takut. Kalau gua nggak sukses, gimana? Kalau gua nggak bisa jadi laki-laki yang hebat, Kinan bakal pergi? Dan, pemikiran itu pun kembali membawa gua ke masa-masa sulit ketika Papa dan Mama sering bertengkar.

Juga ke masa paling sulit yang seharusnya nggak pernah gua terima di umur gua yang masih terlalu kecil.

Gua melihat Mama pergi menggandeng tangan laki-laki lain di depan kami.

Gua menghabiskan waktu di Surabaya sampai selesai SMP. Setelah sedikit demi sedikit Papa bangkit, kami memutuskan untuk pindah ke LA. Sekali lagi, papanya Kinan—Om Jo, membantu Papa untuk ikut dalam salah satu proyek yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menghidupi kami berdua di LA.

"Kamu harus sukses ya Tam, kamu nggak boleh membiarkan Kinan berpaling sama orang lain."

Kalimat itu sering Papa ucapkan sampai gua kuliah. Ya, memang, selama ini gua nggak pernah absen dari urutan 3 besar juara umum di sekolah. Sampai gua bisa masuk tes jurusan Arsitek dengan mudah, sampai gua bisa jadi asisten dosen juga, itu semua gak akan terjadi tanpa semangat gua untuk ketemu Kinan lagi.

Kalau dipikir-pikir, gua memang seobsesi itu sama Kinan, ya?

Selama ini juga gua nggak pernah putus komunikasi sama Suho. Sejak gua pindah ke Surabaya, lalu akhirnya gua pindah ke LA, gua masih terus kontak-kontakan sama Suho. Dan, lucunya, waktu itu pas zaman SMA gua lagi suka-sukanya ikutan kuis yang hadiahnya mainan Star Wars. Dan dari situ lah gua bertemu Chanyeol. Karena kami bertiga sering berlangganan menang, gua, Chanyeol dan Suho akhirnya jadi temenan dekat. Tapi, saat itu Chanyeol belum tau kalau gua adalah Tama. Gua nggak mau Suho membiarkan orang lain tau soal gua. Terlebih itu Kinan.

Saat kami menginjak bangku kuliah, beberapa kali gua pergi ke Jakarta untuk bertemu Chanyeol dan Suho. Tapi sayangnya gua nggak bisa menemukan Kinan karena kami bertiga sebatas kumpul, nongkrong di luar sampai malam. Gua tidur di hotel dan malamnya sudah kembali ke LA.

Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, sombong banget ya gua?

Ketakutan pertama gua terjadi waktu kami bertiga lagi video call, Suho memasuki kamar Kinan dan memperlihatkan adiknya yang sedang tertidur dengan manis.

Cool Couple [OSH]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang