#7 in Historical Fiction
Aku putri dari Kaisar Dinasti Qing. Liuxi,itu namaku. Entah gosip darimana menyebar dan mengatakan bahwa aku itu jelek dan ceroboh.
Aku selalu diam. Kaisar menjodohkanku dengan Putra Mahkota Dinasti Han. Aku hanya diam.
Dia...
"Pergilah dan jangan beri siapapun untuk masuk karena aku akan berendam disini tanpa menutup pintu." Ucapku.
"Baik."
Apakah Ayah menuruhnya kemari? Tapi untuk apa? Aku sedang tak ingin melihat wajahnya yang menyebalkan itu.
Tapi entah mengapa dilubuk hatiku yang paling dalam aku masih mencintainya. Kenapa pesta itu harus terjadi? Pesta yang mempertemukanku dengannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Andai saja jika saat itu aku tak melihatnya maka aku tak akan jatuh cinta dan merasakan sakit hati yang sangat berat ini.
Aku yakin kau tak mencintaiku dan kau hanya kasihan melihatku dicambuk makanya kau hanya menerima pernikahan ini. Seperti yang kukatakan sebelumnya bahwa aku tak ingin ada hubungan suami istri tanpa cinta. Aku tak ingin hanya aku yang mempunyai perasaan terhadapmu. Aku juga ingin kau mencintaiku!
Aku langsung memakai hanfu terbaik lalu berjalan duduk dihadapan cermin. Dayang dayangku menghiasku dengan hiasan terbaik yang pernah ada.
Aku hanya menganggap semua ini hanya debu yang menempel diwajahku. Memang wajahku terlihat cantik tapi aku tak bisa menyaingi kecantikan Kak Weizi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Putri Liuxi anda sangat cantik hari ini."
"Jadi kau ingin mengatakan bahwa aku tidak cantik dan hanya cantik untuk hari ini saja?" Ucapku dengan nada Dingin.
"Putri Liuxi cantik setiap saat! Tak ada yang bisa menyaingi kecantikan Putri Liuxi."
"Sudahlah aku hanya bercanda saja. Jangan menganggapku serius. Jika saja aku bisa mengubah takdirku maka aku ingin menjadi seorang gadis desa hidup tanpa kesusahan sama sekali." Ucapku.
"Tapi Putri jika kami boleh tanya apa untungnya menjadi gadis desa?"
"Tak perlu bersopan santun dan kau tak perlu ijin untuk ke hutan. Sayangnya hanya ada satu kerugian yang dimiliki gadis desa. Ia tak bisa menyaingi kecantikan putri bangsawan." Ucapku.
"Tak akan ada yang bisa menyaingi kecantikan Putri Liuxi."
"Disaat aku sedang jatuh cinta aku ingin menjadi yang paling cantik agar dia melihatku. Tapi aku tak akan berharap terlalu banyak." Ucapku lalu keluar dari kamarku.
"Apakah kau yakin dengan kata katamu itu?" Tanya Pangeran Zhen Guo.
"Bagaimana kau bisa ada disini?" Tanyaku.
"Dayangmu menyuruhku untuk menunggumu disini. Sebaiknya kau jawab saja pertanyaanku." Ucap Pangeran Zhen Guo.
"Aku sangat yakin. Aku lebih mengiginkan menjadi seorang gadis desa yang bebas bukan dikurung! Agar kau tau aku tak punya teman perempuan sama sekali! Yang aku punya hanya teman pria yang bisa mengerti diriku! Aku dikurung karena Ayahanda takut bahwa mereka akan berbuat yang tidak tidak kepadaku." Ucapku tanpa ragu ragu.
"Kasihan sekali dirimu. Untuk mencari teman perempuan saja tak bisa." Ucap Pangeran Zhen Guo.