#7 in Historical Fiction
Aku putri dari Kaisar Dinasti Qing. Liuxi,itu namaku. Entah gosip darimana menyebar dan mengatakan bahwa aku itu jelek dan ceroboh.
Aku selalu diam. Kaisar menjodohkanku dengan Putra Mahkota Dinasti Han. Aku hanya diam.
Dia...
"A-aku masuk kelas. Sepertinya Guru Xu tak melihatku." Ucapku bohong.
"Sepertinya aku mendapat informasi yang salah." Ucap Ayah.
"Ya. Ah aku sudah selesai makan. Kak Dongwei aku akan mengganti bajuku terlebih dahulu. Aku akan menunggu kakak di gerbang!" Ucapku lalu pergi ke kamarku.
Aku memakai baju berburuku.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku langsung mengambil seruling yang biasa kubawa kemana mana dan membawa pedang kesayanganku.
"Aku ingin berburu kancil yang besar." Gumamku.
"Jangan berlama lama lagi! Aku harus bersemangat!" Ucapku bersemangat lalu berlari ke arah gerbang.
Kuda putih kesayanganku sudah disiapkan. Aku memberinya sedikit rumput agar ia bertenaga. Sayangnya setelah aku ganti baju kak Dongwei masih belum datang.
"Liuxi, Kakakmu tak bisa menemanimu berburu." Ucap Ibu.
"Ah sayang sekali. Padahal aku ingin menunjukkan kemampuan berburuku kepada kakak. Baiklah jika begitu aku akan pergi berburu sendiri saja." Ucapku.
"Tidak. Ibunda tau kau ingin berburu ke Hutan terlarang. Kau akan berburu dengan Pangeran Zhen Guo." Ucap Ibu.
"Jika dia tak keberatan maka baiklah." Ucapku.
Aku sangat senang ia akan berburu bersamaku. Liuxi! Ingat dia hanya ditakdirkan untuk kakakmu Weizi. Sadarlah kematianmu sebentar lagi menjemputmu!
"Aku tak keberatan." Ucap Pangeran Zhen Guo.
"Sebaiknya kita tak membuang waktu." Ucapku lalu naik ke kuda putihku.
Dia naik ke kuda putihnya dengan cepat. Aku langsung saja memukul pantat kudaku sedikit keras. Bisa saja menurut kalian hal ini gila tapi ini hal yang aku sukai.
"Berhenti." Ucapku lalu menghentikan kudaku.
"Kenapa harus berhenti?" Tanya Pangeran Zhen Guo.
"Lihatlah kancil besar itu. Aku akan memburunya." Ucapku lalu mendekati kancil yang menjadi buruanku.
Sial! Kancil itu melihatku lalu lari.
"Ayo lanjutkan perjalanan kita. Aku tak ingin berlama lama." Ucapku lalu naik ke kudaku.
Dia terus saja diam dan tak ingin menunjukkan suaranya.
"Kenapa kau ingin menemaniku untuk berburu?" Tanyaku.
"Karena kau perempuan. Aku ragu jika kau sendirian disini." Ucap Pangeran Zhen Guo.
"Terserah padamu. Aku ingin bertanya padamu. Dimana senyuman manismu yang sangat menyejukkan hati itu? Apakah karena kita dijodohkan?" Tanyaku.
"Kau tak perlu mengetahuinya. Kau tak punya urusan denganku." Ucap Pangeran Zhen Guo dengan nada dingin.
"Ya kau betul. Aku tak perlu mengetahuinya. Apakah kau kasihan padaku makanya kau menerima perjodohan ini? Apakah kau kasihan jika aku dicambuk 10 kali?" Tanyaku.
"Tidak. Aku tak akan pernah mengkhasihani siapapun." Ucap Pangeran Zhen Guo.
"Kau ingin tau apa yang akan terjadi jika aku menolak perjodohan ini atau menerima perjodohan ini? Sebentar lagi waktunya untukmu mengingat segalanya tentang diriku yang tak akan bisa kau temukan lagi didunia yang luas ini. Dan disaat itu kau akan menyesali semuanya." Ucapku dengan nada santai.