24. Saya tidak berani

9.1K 578 5
                                        

Umm.. Saya ingin ijin HIATUS selama 3 minggu? dikarenakan Usbn,Us dan Unbk yang berturut turut. Tapi tidak apa-apa kok! Saya akan update 3 chapter hari ini. Doakan Ujian saya lancar ya.

Liuxi membalikan badannya. Air matanya turun dengan pelan. Ia tak mengeluarkan sedikit suara. Orang dibelakangnya telah pergi meninggalkannya.

Bukkkk

kakinya lemas dan terjatuh menunjukkan sedikit memar. kini ia tak sanggup berdiri. Ia terlalu egois untuk mendapatkan hatinya.

"Hahaha! Liuxi, pada akhirnya ia meninggalkanmu sendirian disini tanpa ada yang menemanimu. Musuh? Liuxi, Kau tak perlu mencari musuh itu lagi. Percuma jika kau membunuhnya karena Pangeran Zhen Guo tak akan pernah mencintaimu!" ucap Liuxi sambil tertawa.

Air mata tetap saja turun membasahi pipinya walaupun ia tak terisak isak. Ia hanya menunjukkan sedikit senyuman yang bukan senyuman.

Selama berjam jam ia duduk diatas batu dengan menutup matanya. Air matanya tak jatuh membasahi pipinya lagi dan ia menunduk. Ia tampak seperti dewi yang turun dari surga untuk bermeditasi.

Uhuk uhuk

Ia memuntahkan 2 teguk darah dari mulutnya. Dengan lemas ia berdiri dan kembali kekediamannya. Darahnya membasahi hanfu putihnya membuat semua pelayan khawatir akan kesehatan tuannya.

"Siapkan kuda! Aku akan pergi menemui mereka sebagai Putri dari dinasti Qing!" Ujar Liuxi sedikit kasar.

Para pelayan yang mendengar perintahnya langsung bergegas menyiapkan semuanya. Tapi Liuxi hanya memakai hanfu biasa bukan hanfu istimewa. Apa kata orang jika mereka melihat Putri Liuxi seperti ini?

Liuxi langsung menaiki kuda putihnya dengan cepat. Semua prajurit tak berani mengikuti Liuxi karena ia memberikan tatapan tajam kepada mereka seperti mengisyaratkan akan membunuh mereka.
Namun beberapa pengawal mengikuti Liuxi dari belakang tanpa diketahui Liuxi.

Ia berhenti disebuah kedai minum. Pelayan datang dengan membawa alkohol ke arahnya. Liuxi mengambil cangkir besar dan meminum alkohol itu dengan rakus. Bagaimanapun harinya sangat kacau membuatnya ingin melupakannya dengan segera.

"Gadis muda, tampaknya anda tak punya teman bermain." Ucap seorang pria lalu duduk dihadapan Liuxi.

"Teman Bermain? Putri ini tak mengiginkan anda! Anda hanyalah sampah dimata putri ini." Ucap Liuxi dingin.

"Sampah?! Biar saya perlihatkan apa yang namanya sampah! Anak bodoh sepertimu harus diberi pelajaran!" Teriak orang itu. Sepertinya orang itu lupa bahwa Liuxi adalah seorang putri.

Sebelum tangannya mendarat dirambut Liuxi, lehernya hampir ditusuk oleh Liuxi. Matanya mengeluarkan tatapan membunuh yang sangat mematikan.

"Anda mencari kematian anda sendiri! Maka Putri ini akan memberikannya!" Teriak Liuxi dingin lalu menebas kepalanya tanpa berperasaan.

Ia masih sadar dan bahkan belum mabuk setelah meminum cangkir besar. Dengan rasa jijik Liuxi menginjak tubuh orang itu. Semua orang yang ad didalam kedai minum itu merasa jijik. Si pemilik toko yang melihat kejadian itu langsung berlari keluar dan memanggil prajurit yang berkeliaran untuk menjaga kota.

Prajurit itu masuk dengan mata dingin tetapi setelah melihat Liuxi ada disana mereka langsung menunduk ketakutan. Jangankan menyentuh, mematapnya saja mereka tak berani. Bagi rakyat, Liuxi adalah Dewi tanpa perasaan. Tapi bagi pengawal dan prajurit, Liuxi adalah Dewi kematian.

"Anda berani menangkap saya?" Tanya Liuxi dingin.

"Kami tidak berani." Ucap semua prajurit.

"Dia adalah pengacau! Berikan saya keadilan." Ucap Pemilik toko sambil menunjuk Liuxi seperti menghinanya.

Bagaimanapun Liuxi sedang dalam mood yang buruk. Prajurit yang mendengar perkataan sipemilik toko langsung mundur beberapa langkah. Liuxi dengan mata dingin berjalan ke arah pemilik toko lalu mematahkan jari yang menunjuk dirinya.

"Anda berani menunjuk sang putri?" Tanya Liuxi membuat pemilik toko gemetar ketakutan.

"Saya tak berani. Mohon maafkan." Jawab Pemilik toko terbata bata.

The Coldest EmperorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang