26. Tangisan yang disembunyikan (2)

9.9K 607 30
                                        

Tampaknya Buku Gunung suci disembunyikan oleh Pak tua Gu. Pak tua Gu menekan dinding paling ujung. Dinding itu tergeser menunjukkan sebuah ruangan berwarna emas terlihat membuat mulut liuxi terbuka. Ini pertama kalinya ia tau bahwa perpustakaan memiliki ruang tersembunyi.

"Hohoho ruangan ini masih bersih." Ucap Pak Tua Gu membangunkan Liuxi dari lamunannya.

"Kakek Gu, sejak kapan ada ruangan tersembunyi di perpustakaan?" Tanya Liuxi.

"Ini sudah lama. Tapi hanya beberapa orang khusus saja yang diberitahu." Jawab Pak Tua Gu sambil mengelus elus janggut putihnya.

"Artinya aku juga orang khusus?" Tanya Liuxi.

"Ya. Karena dua hari lagi putri akan pergi dan tak tau kapan akan kembali. Belum pernah ada yang keluar dengan keadaan untuh. Tapi situa ini yakin bahwa putri akan kembali dalam keadaan utuh dan hidup." Jawab Pak Tua Gu membuat Liuxi tak berniat untuk bertanya lagi.

Setelah berjalan masuk selama lima belas menit, Pak Tua Gu memutar sebuah tongkat yang berdiri tegak. Sekali lagi sebuah dinding bergeser memperlihatkan buku-buku yang disinari cahaya matahari. Lilin yang berada disamping buku-buku itu hidup sendiri.

"Leluhur suka berada disini dahulu. Semenjak kepergian leluhur, tak ada yang pernah masuk kemari. Dan tak ada yang tau dimana keberadaan leluhur. Kata-kata terakhir leluhur adalah hanya seseorang saja yang bisa mengambil buku-buku yang ada disini." Jelas Pak Tua Gu.

"Putri ini tak yakin bisa mengambil buku buku yang ada disini." Balas Liuxi.

"Bagaimana anda bisa mengetahui bahwa anda tak bisa mengambilnya sedangkan anda belum mencoba mengambilnya?" Tanya Pak Tua Gu.

"Kakek Gu benar. Saya belum mencoba mengambilnya." Ucap Liuxi.

Liuxi berjalan sambil melihat buku-buku yang disinari sinar matahari. Dari semua buku itu, ia hanya perlu mencari buku gunung suci. Buku Gunung suci itu terletak paling ujung membuat Liuxi berjalan ke arahnya dan mencoba mengambil buku itu. Dia berhasil mengambilnya membuatnya bertanya tanya didalam hatinya.

Dengan cepat ia menyingkirkan semua pertanyaan itu dan mencoba membuka buku gunung suci itu. Saat dibuka buku itu mengeluarkan sedikit cahaya bersinar sinar yang menyilaukan. Tak lama setelah itu, semua hilang.

"Anda dapat mengambilnya. Putri, sebaiknya kita segera keluar dari sini sebelum ada orang yang menemukan kita." Ucap Pak tua Gu sambil berjalan keluar diikuti Liuxi.

Setelah keluar Liuxi berjalan ke arah ujung perpustakaan. Ia duduk ditanah dan membaca buku itu seolah-olah tak ingin memberitahu buku apa yang dia baca.

"Putri, saya tau anda masih diperpustakaan ini. Saya perlu pergi sebentar untuk melakukan sesuatu." Ucap Pak Tua Gu.

"Baik." Jawab Liuxi lalu membaca bukunya.

Sekali lagi Liuxi membuka buku itu. Cahaya beekelap kelip muncul lagi dalam jumlah banyak dan tak habis habis. Hanya terlihat kertas kuning tak berisi satu katapun membuat Liuxi memijat dahinya. Tiba tiba kata kata itu muncul secara misterius.

Suara langkah kaki menganggu Liuxi untuk membaca bukunya. Liuxi mengintip siapa saja yang datang dan terlihat Pangeran Zhen Guo berdiri menghadap Weizi. Keduanya tampak asik bicara membuat Liuxi penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Setelah mereka berbicara, Weizi mendekati pangeran Zhen Guo lalu memeluknya membuat air mata Liuxi jatuh setetes demi setetes.

Pada saat yang bersamaan, Pak Tua Gu masuk bersama Permaisuri. Wajah Permaisuri tampak kaget dan muram. Dengan cepat Pak Tua Gu memerintahkan pengawal untuk menangkap kedua orang ini dan membawanya ke hadapan sang Kaisar. Permaisuri meninggalkan perpustakaan dengan perasaan kesal.

The Coldest EmperorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang