"Dia mengetahui bahwa dia akan meninggal. Tapi suatu keajaiban datang dan membangunkan Liuxi." Ucap Kaisar Qing.
"Sepertinya ada masalah yang belum diselesaikan Liuxi makanya Liuxi harus kembali kemari." Ucap Permaisuri.
"Ah terserah mau masalah apapun itu. Yang penting Liuxi bangun dari kematian. Bagiku yang terpenting hanyalah Liuxi seorang!" Ucap Pangeran Dongwei lalu pergi.
Semua orang hanya menatap kepergian Pangeran Dongwei. Takada yang mengikutinya.
"Jendral Xu aku ingin kau mencari dalang dari semua ini." Ucap Pangeran Dongwei
"Baik." Ucap Jendral Xu.
*****
"Dimana serulingku? Jangan kau bilang bahwa Serulingku dibakar." Ucapku panik.
"Maaf Putri Liuxi tapi.."
"Tapi apa?! Aku ingin kau mendapatkan serulingku kembali bagaimanapun caranya!" Ucapku dengan nada tinggi.
"Xixi aku menyimpan serulingmu." Ucap Weizi tiba tiba datang.
"Ah kak Weizi untunglah kakak menyimpan serulingku." Ucapku.
"Ini." Ucap Weizi lalu mengeluarkan sebuah seruling.
"Ini bukan seruling kesayanganku! Aku hanya ingin seruling kesayanganku kembali." Ucapku.
"Xixi kenapa kau rewel sekali sih?! Sudah untung aku menyimpan serulingmu yang terakhir." Ucap Weizi dengan nada tinggi.
Dia bukan Kak Weizi yang kukenal. Yang kukenal adalah Kak Weizi yang baik dan selalu sabar. Kenapa kak Weizi berbeda?
"Kau bukan kak Weizi! Kak Weizi tak akan pernah memarahiku." Ucapku dengan nada yang tak percaya.
Brakk
"Weizi kau keluar!" Teriak Pangeran Dongwei.
Uhuk uhuk
Sialan! Penyakitku masih ada rupanya. Bagaimana ini apa yang harus kulakukan?
Kak Dongwei masuk lalu menarik kak weizi keluar dan menutup pintu. Dengan cepat Kak Dongwei memelukku dan secara tak sengaja tanganku lepas dan menampakkan mulutku yang berdarah.
"Apa yang terjadi padamu Liuxi? Kau baru saja bangun dari kematian tapi kau dihampiri kematian lagi?" Ucap Pangeran Dongwei.
"Aku tak apa apa kak. Aku hanya batuk saja. Ini bukan penyakit." Ucapku masih tersenyum.
"Kau berbohong Liuxi!" Ucap Pangeran Dongwei.
"Ya aku terkena penyakit batuk berdarah. Tapi aku dalam masa penyembuhan jadi kakak tak perlu takut. Obat yang kugunakan juga obat buatan kita." Ucapku sambil tersenyum.
"Pil hijau? Tapi pil itu belum sempurna." Ucap Pangeran Dongwei.
"Itu saja sudah cukup. Nah kak apakah kakak melihat seruling kesayanganku?" Tanyaku.
"Aku menyimpannya dikamarku. Ayo kita kekamarku dan aku akan memanggil tabib untuk mengobatimu." Ucap Pangeran Dongwei.
"Kak aku bisa mengobati penyakit ini sendiri." Ucapku lalu tersenyum.
"Baiklah aku akan percayakan hal ini kepadamu,Liuxi. Tapi jika kau meninggalkanku lagi maka aku akan ikut denganmu." Ucap Pangeran Dongwei.
"Apakah kau yakin kak? Bagaimana jika aku pergi ke neraka?" Tanyaku.
"Sudah kukatakan bahwa aku akan ikut denganmu apapun yang terjadi." Ucap Pangeran Dongwei.
"Kakak adalah kakak yang paling baik didunia ini." Ucapku lalu tersenyum manis.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Coldest Emperor
Historical Fiction#7 in Historical Fiction Aku putri dari Kaisar Dinasti Qing. Liuxi,itu namaku. Entah gosip darimana menyebar dan mengatakan bahwa aku itu jelek dan ceroboh. Aku selalu diam. Kaisar menjodohkanku dengan Putra Mahkota Dinasti Han. Aku hanya diam. Dia...
