23. Hanya untuk Formalitas

10.1K 631 8
                                        

Kak Dongwei membawaku kekamarnya lalu menyuruh tabib memeriksaku. Aku sudah berusaha menolak pengobatan dari tabib tapi Kak Dongwei mengancamku. Jika aku tak diobati tabib maka ia tak akan berbicara kepadaku selamanya.

"Putri ini obat anda. Putri harus memakan pil ini 3 kali sehari." Ucap Tabib sambil menyerahkan pil.

"Terima kasih." Ucapku lalu menggambil obat dari tangan tabib.

"Kau keluarlah." Ucap Pangeran Dongwei kepada tabib.

"Baik." Ucap Tabib lalu keluar.

"Kak aku tak ingin menelan obat ini. Pasti rasanya sangat pahit." Ucapku.

"Liuxi, kau ingatkan apa yang kukatakan tadi." Ucap Pangeran Dongwei.

"Tapi kak ini sangat pahit." Ucapku.

"Kau harus meminumnya Liuxi. Jika tidak maka aku akan memberitahu Ayahanda dan Ibunda bahwa kau sedang sakit." Ancam Pangeran Dongwei.

"Baiklah aku akan meminum obat ini." Ucapku pasrah.

"Anak baik." Ucap Pangeran Dongwei.

"Kak kenapa kakak tidak menikah?" Tanyaku heran.

"Aku akan menunggu adikku ini menikah baru aku akan mencari pasangan." Ucap Pangeran Dongwei.

"Terserah saja pada kakak. Aku akan pergi menemui Ayahanda dan Ibunda." Ucapku.

"Liuxi! Tak mungkin kau keluar menggunakan hanfu putih kan." Ucap Pangeran Dongwei.

"Maaf kak hehe aku lupa. Lagipula aku hanya menemui Ayahanda dan Ibunda sebentar saja." Ucapku.

"Kau melupakan seruling kesayanganmu." Ucap Pangeran Dongwei lalu menyerahkan seruling emas.

"Makasih kak!" Ucapku lalu pergi.

Aku langsung pergi ke Aula Istana. Sesampainya didepan pintu aku langsung memainkan serulingku dan penjaga membukakan pintu. Semua orang tersenyum ceria melihatku.

"Liuxi,kenapa kau tak mengganti bajumu?" Tanya Ibunda.

"Aku akan mengganti bajuku nanti. Aku hanya-" Ucapanku berhenti.

"Uhuk uhuk." Batukku lalu menutup mulutku sayangnya darah darah yang jatuh mengenai bajuku dan semua orang kaget.

"Panggilkan tabib!" Teriak Ayah.

"Ayah aku tak apa apa. Aku baru saja diperiksa." Ucapku lalu tersenyum.

"Apa kau yakin Liuxi? Ayah tak ingin melihatmu meninggalkan kami lagi." Ucap Ayah.

"Aku yakin. Aku tak akan pernah meninggalkan ayah. Ayah aku ingin kita mengadakan pesta besok malam. Undanglah semua orang dari Dinasti lain." Ucapku.

"Baiklah. Kasim Long aku ingin kau mengundang semua orang dari Dinasti sekutu dan acaranya besok malam." Ucap Ayah lalu pergi.

"Ibunda aku pamit pergi." Ucapku lalu pergi.

Aku pergi ke taman pribadiku dan memainkan serulingku seperti biasanya. Aku sekarang tau bahwa kau tak pernah mencintai diriku lagi.

"Bisakah kau berhenti memainkan permainan serulingmu yang hancur?" Tanya Pangeran Zhen Guo.

"Bisakah kau tak masuk sembarangan? Aku tau kau tak punya perasaan padaku. Jadi daripada kau membuang energimu hanya untuk ini maka kau boleh pergi." Ucap Liuxi sambil menatap Pangeran Zhen Guo dengan dingin.

"Ini hanya sekedar formalitas." Ucap Pangeran Zhen Guo.

"Jika begitu untuk apa kau menemuiku?! Dasar bajingan! Sebaiknya kau batalkan perjodohan ini dan pergilah dari hidupku!" Teriak Liuxi keras.

The Coldest EmperorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang