Sejak pembicaraanku dengan Luna dan Delisa beberapa hari lalu,pikiranku seakan selalu berlari-lari pada pembahasan seputar selingkuh. Entah apa sebabnya,mungkin pikiran burukku tentang Leo,atau ketakutanku akan Gatra. Tidak tahu,aku jadi kepikiran.
Seperti hari ini,aku menolak bertemu dengan Gatra. Alasannya hanya malas kemana-mana. Padahal,aku sedang kepikiran kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada hubunganku dengan Gatra. Padahal kalau dipikir kembali,Gatra tidak salah apa-apa. Hanya aku yang terlalu berlebihan menanggapi pembahasan selingkuh itu.
Bicara soal selingkuh memang tidak ada habisnya. Mau bagaimanapun,selingkuh adalah perbuatan yang sulit untuk dimaafkan. Membagi hati hanya demi kesenangan,ingin ini dan itu bersamaan, syukur-syukur kalau dengan yang lebih baik,kebanyakan dengan orang lain yang lebih menggoda awalnya saja. Rumput tetangga lebih baik, kan?
Aku berguling dikasurku,sudah satu jam aku mencoba untuk tidur siang,tapi pikiranku sedang tidak ingin di istirahatkan. Ponselku terus berdering untuk yang ke-enam kalinya,aku yakin itu Gatra. Aku tidak mau mengangkatnya. Sekali lagi,Gatra tidak salah apa-apa. Aku hanya ingin berfikir tentang apapun.
Bagaimana kalau Gatra selingkuh? Aku tidak akan tahu,aku tidak bisa mengikuti Gatra kesekolahnya,tidak ada yang bisa kupantau. Aku tidak bisa melihat. Apalagi dengan kondisiku seperti ini,Gatra bisa dengan mudahnya selingkuh tanpa sepengetahuanku. Tapi,Delisa bilang, tidak semua laki-laki suka selingkuh. Aku tahu itu. Modalnya hanya percaya.
Pintu kamarku terbuka disusul Delisa yang masuk dengan cengengesan. Delisa menyimpan sesuatu diatas kasur,aku merabanya.
"Apa ini?" Tanyaku sambil meraba-raba tas besarnya,maksudku isinya apa. Aku tahu ini tas.
"Baju dan sepatuku,juga buku pelajaran." Jelas Delisa. Membuat kedua sudut bibirku perlahan mengembang,Delisa serius soal tinggal dirumahku.
"Yes!" Aku mengacungkan kepalan tangan ke udara.
"Senang ya? Aku sih biasa aja." Ucapnya tanpa susah-susah menyembunyikan tawanya.
"Jadi mengontrak?" Tanyaku sambil kembali tiduran.
"Tidak. Kata ibumu,gratis." Jawabnya sambil tertawa keras. Delisa naik dan berbaring disampingku.
"Ibuku marah saat aku bilang akan tinggal dirumahmu."
"Kenapa marah?"
"Dia bilang begini 'Kok pergi? Jangan macam-macam ya,ayahmu akan tinggal disini,pergilah ke kamar dan bersikap baik'. Cih,malas sekali."
Aku memeluknya.
"Kamu harusnya tidak membantah ibumu,Sa. Dia sayang kamu."
Delisa mengangkat kedua bahunya.
"Dia tidak sayang padaku. Kalau sayang,dia pasti menghargai keinginanku." Jawabnya ketus.
"Ibumu butuh seseorang untuk berbagi,Sa. Kamu harus belajar menerima."
"Berbagi apa? Ibu bisa bercerita padaku, membagi beban hidupnya padaku. Tidak perlu ada berondong itu!"
Aku terlentang melepaskan pelukanku.
"Maksudku berbagi kehangatan diranjang." Ucapku pelan. Delisa menoyor kepalaku.
"Mesum ya!"
"Heh? Bukan itu maksudku,tapi tidur."
"Halahh,ngeles kaya bajaj!"
Aku tertawa pelan diikuti Delisa. Delisa duduk menatapku.
"Gatra menelponku tadi. Katanya kamu tidak ingin menemui dan mengangkat telponnya. Apa itu benar?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Untuk Sebuah Nama
RomanceDulu, kukira aku adalah rapunzel. Karena sama-sama terkurung dalam sebuah menara, ditemani seekor hewan. Yang membedakan aku dan rapunzel adalah,aku ditemani seekor kucing persia,bukan seekor bunglon. Juga,aku tidak memiliki rambut super panjang...