Melepas 'dia

85 8 0
                                    

Aku menghapus airmataku untuk kesekian kalinya. Lalu mengulurkan tangan meraih ponselku yang tak berhenti berbunyi setelah pulang dari danau enam jam yang lalu. Ini sudah tengah malam, namun Angga masih berusaha menelpon ku. Aku tidak ingin menjawabnya karena tidak ada satu hal pun yang ingin aku dengar dari mulutnya. Kebohongan-kebohongan yang akan semakin menyakitiku. Diluar kamarku, Delisa sepertinya belum tidur, aku mendengarnya berbincang dengan Lila, kemudian dengan seseorang di telpon.

Aku merasa kedua mataku sudah sangat bengkak, perih, dan mengantuk, tapi hatiku masih sakit, dan aku tidak bisa berhenti menangis. Dengan perlahan aku menginjakkan kaki pada lantai, berusaha berjalan ke kamar mandi. Aku menatap bayanganku di cermin. Mengkhawatirkan. Mata sembab, hidung merah, rambut berantakan, dan kacau.

Aku terus memikirkan, mungkin ada satu hal yang dapat dibenarkan dari apa yang dilakukan Angga dan Gatra padaku, tapi sampai saat ini aku tidak menemukan apa-apa yang dapat menjadi alasan untuk memaafkannya.

Ponselku kembali berbunyi, aku menatap nama yang muncul dilayar, lalu merasakan mataku kembali memanas. Astaga! Aku benar-benar patah hati. Dengan perlahan aku menarik ponselku, menggeser layar dan menempelkan nya ditelinga.

"Aku mencintai kamu."

Dan itu kalimat yang kudengar pertama kali saat mengangkat telponnya. Kata-kata yang tidak bisa kupercayai lagi sejak kebohongannya terbongkar. Aku memejamkan mata, merasakan sakitnya yang semakin menjadi.

"Aku mencintai kamu, Elma. Kamu mungkin tidak akan percaya, tapi itu yang kurasakan, awalnya mungkin memang karena Gatra, tapi akhirnya tidak, aku benar-benar jatuh cinta!"

Aku membuka mata, menatap pantulan diriku kembali di cermin.

"Aku berencana mengatakannya padamu, sungguh, tapi aku tidak berani, kamu akan marah dan meninggalkanku. Aku tidak mau itu terjadi."

Aku menghela nafas.

"Tolong maafkan aku, Elma. Aku menyesal melakukannya."

Aku mematikan Sambungan telpon dan langsung menonaktifkan ponselku. Melemparnya kedalam keranjang cucian dan mulai melepaskan satu persatu pakaianlu. Aku butuh mandi air dingin  untuk menyegarkan  fikiran.

**

Pagi menyambut, dan aku baru tidur dua jam. Kepalaku berdenyut, tubuhku lemas, namun aku harus pergi ke tempat les, aku ada janji. Dengan terpaksa aku menarik diri, mendorong untuk mandi dan bersiap-siap.

Delisa dan Lila sedang menyiapkan sarapan saat aku membuka pintu kamar, mereka menatapku dan tersenyum. Mereka benar-benar sahabatku.

"Ayo kita sarapan. Kamu bisa pingsan kalau pergi tanpa sarapan."

Aku menarik bibir untuk tersenyum, kemudian menghampiri keduanya dimeja makan. Kami makan  bersama-sama, sesekali Lila mengobrol dengan Delisa, hingga Delisa menatapku.

"Elma-,"

"Tidak Delisa. Aku tidak mau membahasnya."

Delisa diam sejenak, "Oh, ya, benar. Aku tidak akan membahasnya. Aku, hanya mau bertanya, apa kamu mau bawa bekal?"

Aku menatapnya, "Tidak. Dan terimakasih atas pengertiannya. Aku sunggu tidak ingin membahasnya saat ini. Akan ku beritahu kalian saat aku siap."

Lila mengangguk dan tersenyum,  "Berceritalah saat kamu siap. Kami akan dengan senang hati mendengarnya."

"Terimakasih. Kalau begitu aku berangkat dulu. Aku tidak akan lama disana, jadi kita bisa jalan-jalan."

Aku menarik tasmu dan mendorong kursi, berjalan perlahan mengenakan sepatuku dan membuka pintu. Kemudian terpaku, didepanku, Angga berdiri disamping mobilnya. Aku menghela nafas. Harusnya aku sudah mengira ini akan terjadi. Angga tidak akan menyerah sebelum aku menuruti inginnya.

Aku berjalan menghampiri Angga, dan berhenti tepat dihadapannya. Angga tersenyum.

"Aku akan mengantarmu."

Aku sudah kehabisan tenaga sejak kemarin. Jadi tidak mungkin menolaknya, berlari dan bertengkar. Aku lelah, jadi aku mengangguk dan masuk kedalam mobil yang telah dibuka pintunya oleh Angga.

Angga baru membuka mulutnya saat kami sudah lima menit berdiam diri didalam mobil, ia memanggil namaku dengan hati-hati.

"Aku sungguh minta maaf."

Aku diam.

"Aku tidak berbohong soal perasaanku. Awalnya memang karena Gatra, tapi setelah bertemu denganmu, aku benar-benar jatuh cinta."

Aku masih diam.

"Gatra memintaku mendekatimu dulu, dengan tujuan untuk mengawasimu. Dia ke Jogja, menyusulmu. Aku tidak mau. Tapi dia memaksa. Akhirnya aku setuju, tapi aku tidak menyangka akan menyukaimu dengan sungguh-sungguh. "

Aku diam.

"Elma.. Katakan sesuatu."

"Apa yang ingin kamu dengar dariku? "

Angga menghela nafas, "Perkataan bahwa kamu memaafkanku, mungkin?"

Mobil Angga berhenti tepat didepan gedung lesku. Kami diam sejenak, berkelut dengan pikiran kami masing-masing.

"Aku memaafkanmu."

"Ya, Elma?"

Aku menarik napas, membuangnya, dan merasakan airmataku mulai turun dipipi. Aku harus melepasnya.

"Tapi kita tidak bisa bersama lagi."

"Apa?"

"Aku memaafkanmu, Angga. Hanya saja, hubungan seperti ini tidak akan berhasil.  Jadi, mari kita putus dan Melanjutkan hidup kita masing-masing."

Angga bergeser menghadapku, menarik tanganku dan menggenggamnya erat.

"Tolong beri aku kesempatan. Aku mohon."

"Ini tidak akan berhasil. Selama berhubungan, aku akan terus mengira kamu berbohong. Dan kamu akan kelelahan membuatku percaya. Kita akan sama-sama lelah."

"Kita harus mencobanya untuk mengetahuinya, kan? Berhasil atau tidak-"

Aku melepasnya. Melepaskan genggaman tangannya padaku, menatapnya dalam dan menghapus air mata.

"Kamu laki-laki pertama yang membuatku nyaman setelah perpisahan ku dengan Gatra. Tapi luka tidak bisa ditarik. Semua sudah terjadi. Kamu, menorehkan luka yang sama seperti yang ditorehkan Gatra."

Angga diam.

"Kita, tidak bisa bersama. Maaf untuk kesempatan yang tidak bisa kuberi. Aku pergi." Aku membuka pintu mobil, namun  berhenti saat hendak turun, "Dan jangan menghubungiku lagi. Berhentilah berusaha. Tidak akan ada cinta lagi untukmu."

Aku berjalan dengan hampa. Sebagian hatiku yang tersisa kini menguap, lalu menghilang, setelah sebagian hatiku tertinggal pada Gatra, kini sebagiannya ikut menghilang. Membuatku merasa kosong dan sendirian.

Aku.. Mungkin ditakdirkan seperti ini. Terluka dan sendirian. Tak ada cinta. Atau mungkin takkan pernah ada lagi.

Untuk Sebuah NamaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang