menemukan cara

59 8 0
                                    

Sore sudah tiba saat aku memasukkan satu persatu alat lukis yang ku keluarkan empat jam lalu saat hendak melukis. Aku menyelesaikan satu lagi lukisan untuk dibawa lomba. Semalam, aku tidak dapat tertidur dengan nyenyak, sehingga pagi tadi aku berangkat dengan kepalaku yang berat dan sakit. Biasanya aku mampu menyelesaikan satu lukisan selama dua jam, namun kali ini empat jam! Aku beberapa kali mengganti konsep dan kanvas, menghabiskan stok untuk dua minggu ke depan.

Menyebalkan. Pikiranku tentang Angga dan Gatra sungguh mengganggu. Aku tidak bisa berhenti memikirkan keduanya, juga tidak bisa berhenti menghapus air mataku yang selalu tiba-tiba turun.

"Kamu sudah selesai?"

Aku memalingkan wajah, menatap sosok Angga yang berdiri didepan pintu, menatapku.

"Sudah." Jawabku, lalu kembali fokus pada kegiatan mengemasku.

"Tidak ada acara lagi? Bagaimana kalau kita pergi ke Malioboro untuk jalan-jalan kemudian makan malam?"

Aku menggendong ranselku, aku tidak boleh membuatnya curiga.

"Oke."

Angga tersenyum dan meraih tanganku, kami berjalan bersama dengan bergandengan tangan menuju parkiran gedung lesku. Sesekali kutatap Angga yang tersenyum dalam diamnya. Aku harus menemukan sesuatu dari dirinya,  menyakitkan atau tidak, aku akan membongkar kebohongan ini.

**

Malioboro tampak ramai seperti biasanya. Meski cuaca masih panas hingga sore hari, tidak membuat orang-orang enggan untuk berjalan-jalan menyusuri jalanan Malioboro. Toko pakain, pernak-pernik perhiasan, makanan khas Jogja, selalu penuh oleh pembeli. Seperti tidak pernah kosong.

Aku dan Angga berjalan bersama,  dengan aku yang masih diam memikirkan cara untuk membongkar kebohongan ini. Tapi aku tidak boleh terburu-buru, sebelum melakukan hal yang lebih jauh, aku harus memastikan bahwa Gatra yang Angga kenal sama dengan Gatra yang kukenal.

"Kamu diam saja, El."

"Hah?"

"Tidak." Angga melirik jam di pergelangan tangannya, kemudian menatapku, "Masih terlalu sore untuk makan.  Apa kamu sudah lapar?"

"Belum. Tapi aku harus membeli sesuatu. Dirumahku, sudah tidak ada stok makanan."

Angga tersenyum mengusap rambutku,  "Baiklah nona cantik, ayo belanja."

Aku dan Angga berjalan mengelilingi super market, dengan Angga yang mendorong troli dibelakangku. Aku tidak membutuhkan apapun, tapi aku memasukan apapun yg kulewati bersama Angga, tanpa sadar, karena pikiranku sedang berkelana mencari cara untuk membuat kami, aku, Angga dan Gatra bertemu.

Aku akan mencari cara tanpa membuat Angga atau Gatra sadar. Kami harus bertemu, kemudian membicarakan kebohongan yang telah dirancang ini. Dengan begitu aku akan bisa memutuskan sesuatu yang akan kulakukan.

"Kamu yakin butuh itu, El?" Aku menatap Angga, lalu sesuatu ditanganku,  "Kamu kan tidak suka durian? "

"Eh-" Aku menyimpan kembali roti rasa durian ditanganku, "Aku salah ambil." Lalu mengambil roti rasa coklat dan melemparnya kedalam troli. Angga tidak menanggapinya. Kami melanjutkan mengelilingi supermarket, sesekali Angga mengambil sesuatu yang diinginkannya. 

"Kita makan sekarang?" Aku memasukan kembali Dompetku kedalam tas saat Angga tidak mengizinkanku membayar belanjaan yang kubeli. Kini kami berdiri berdampingan di tempat parkir, dibawah langit yang sudah mulai gelap karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

"Boleh. Kita ke Angkringan?"

Angga tersenyum, "Setuju!"

Kami makan berlesehan, di pinggir jalanan, dengan menu makan sederhana.  Ini tempat kesukaanku sejak pertama kali kesini, ditemani Lila atau Angga. Aku memperhatikan Angga yang lahap memakan makanannya, tidak ada raut curiga atau apapun, dan aku harus membuatnya tetap seperti itu hingga aku berhasil menemukan cara untuk mempertemukan kita.

Angga berdiri dan menyebrang jalan untuk sampai ditempat penjual makanan yang kami makan, untuk menambah lauk yang diinginkannya. Angga meninggalkan ponselnya yang berbunyi. Sebuah panggilan masuk, aku mengintip nya dengan was-was, takut Angga kembali tanpa ku ketahui.

Gatra.

Itu Gatra, dia menelpon Angga. Aku mengulurkan tangan meraihnya, kemudian menggeser layar untuk mengangkat sambungan telpon, lalu menempelkan ponsel itu ke telingaku,

"Angga? Lo dimana? Sama Elma?"

Aku mematikan sambungan telepon, menatap layar ponsel Angga yang memperlihatkan foto aku dengannya sebagai wallpaper dengan jantung yang berdebar. Saat sudut mataku melihat Angga mendekat, aku melempar ponselnya ketempat semula, kemudian melanjutkan makanku.

"Kamu mau tambah ini? "

Aku menatapnya, "Iya. Sepertinya enak. Aku minta satu, ya?"

Selesai makan, kami langsung pulang dengan Angga yang menyetir mobil, aku disampingnya memejamkan mata berpura-pura tidur. Aku tidak bisa mengobrol dengannya dengan suasana hati yang jelek seperti ini, bisa membuat Angga curiga.

Sesekali Angga mengusap rambutku. Membuat hatiku terasa ngilu karena perlakuannya, mengapa saat aku merasakan kenyamanan yang tidak kutemui pada orang lain, Angga membohongiku, dan apapun alasannya jelas tidak akan membenarkan suatu kebohongan.

Awalnya, saat aku merasa nyaman dengan  Angga, aku mengira perasaanku pada Gatra telah hilang, dan berganti pada Angga. Namun saat mengetahui bahwa Gatra menyusulku, mencariku hingga mengawasiku melalui Angga, aku kembali ragu. Perasaan yang kurasakan pada Angga saat itu mungkin hanya pengalihan rasa sakitku dari Gatra.

"Elma?  Sudah sampai. "

Aku diam hingga beberapa kali tepukan pada pahaku, dan berpura-pura menggeliat seperti bangun tidur.

"Sudah sampai ya? Aku pasti lelah sekali sampai ketiduran segala."

"Tidak apa-apa, kamu bisa melanjutkan tidur sekarang. Ayo, kubantu masukkan belanjaanmu."

Angga berdiri didepan pintu, berhadapan denganku, ia tersenyum mendekat dan mencium pipiku singkat setelah membantuku memasukan belanjaan kedalam rumah.

"Tidurlah, aku akan pulang. Sampai jumpa lagi."

Sepulangnya Angga satu jam yang lalu, aku masih berbaring namun tidak tertidur. Delisa disampingku sudah nyenyak, begitupun Lila. Aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti setelah aku kembali bertemu dengan Gatra.

Tapi apapun itu, aku akan tetap berusaha untuk menemuinya, lalu bertanya secara langsung mengapa ia melakukan ini padaku. Dan aku sudah menemukan caranya, cara yang bisa saja gagal, tapi aku akan tetap berusaha.

Untuk Sebuah NamaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang