"Duuuh, macet amat dah." Gerutu Killa yang tengah duduk dikursi kemudi mobilnya.
*tling*
Killa mengambil benda pipih bewarna pink yang semula ia simpan di sling bagnya.
Rara: lama amat lu La. Udah lama nih gue nunggunya.
Ya, benar seperti yang Killa duga. Teman-temannya pasti sudah menunggunya dengan kesal. Tapi dia terlambat kan bukan karna salahnya. Tapi karna salah jalan yang macet.
Killa: sorry, jalan macet Ra.
Tak perlu menunggu waktu lama. Rara langsung menelepon Killa.
"Halo Raa. Gue lagi kejebak macet nih." Gerutu Killa pada Rara.
Rara terdengar menghela nafas kesal.
"Pake jalan tikus aja La. Lo sekarang emang ada dimana?" Tanya Rara.
Killa melihat-lihat kearah sekelilingnya.
"Gak tau. Tapi gue ada di deket Minimarket gitu." Ucap Killa.
"Oh lo di sana. Yaudah, lo liat jalan kecil di deket minimarket itu gak?" Tanya Rara.
Mata Killa mencari-cari jalan yang dimaksud Rara. Kemudian ia melihat jalan yang di maksud sahabatnya itu.
"Iya, liat."
"Lo jalan aja ke sana. Terus lo lurus aja." Ucap Rara.
Killa kemudian mengarahkan laju mobilnya ke sana. Tapi sebelum itu, ia memakai earphone di telinganya dulu.
"Iya gue jalan. Tapi jangan matiin dulu ya. Gue takut nyasar." Ucap Killa sambil terfokus ke jalanan.
"Iyee, bawel lu."
Killa terfokus pada jalanan yang nampak sepi. Sebenarnya Killa merasa sedikit takut.
"Nih jalan apaan sih? Kok sepi banget." Gumam Killa.
"Kenapa La?" Tanya Rara dari teleponnya.
Killa mendegus kesal.
"Sepi banget Ra. Gue takut nyasar." Ucap Killa.
"Biasa aja kali. Gue kalo lagi kena macet juga lewat situ kok." Ucap Rara.
Mata Killa menyipit. Karna ia mendapati sekerumunan orang di tengah jalan padahal jalanan kali ini dalam keadaan hujan.
Killa terus melajukan mobilnya pelan. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat ia berada di dekat kerumunan tersebut. Ternyata kerumunan itu adalah kerumunan orang-orang yang tengah mengeroyok seorang cowok yang kini tergeletak di tengah jalan dan di tinggalkan oleh orang-orang yang menggebuki karna melihat kehadiran Killa.
"Raaaa." Ucap Killa takut.
"Lo kenapa Laa?" Tanya Rara.
"Lo cepetan kesini. Gawat." Ucap Killa dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Kemudian Killa mengambil sebuah payung dari jok belakang mobilnya. Setelah itu ia keluar dari mobilnya dan menghapiri cowok itu.
Cowok itu nampak menghawatirkan. Wajah dan tubuhnya penuh darah babak belur. Killa mengerjapkan matanya dua kali. Ia harap ini hanya mimpi. Killa takut kalau ternyata orang itu sudah mati.
"Bangun." Ucap Killa sambil menggoyangkan lengan cowok itu dengan kakinya karna ia ketakutan.
Kemudian Killa memberanikan dirinya. Ia berjongkok disebelah cowok itu dan membawa kepala cowok itu kepangkuannya.
"Lo masih denger gue?" Tanya Killa khawatir.
Cowok itu masih bernafas, tapi ia tak menunjukkan tanda-tanda sadar.
"Lo mati apa pingsan sih?" Tanya Killa seperti orang gila.
Killa mulai khawatir dan takut. Karna petir mulai menemani hujan sore ini.
"TOLONG." Teriak Killa. Ia harap ada yang mendengar teriakkannya, meskipun hasilnya nihil karna tempat ini jauh dari perumahan warga.
"Aduuuh. Gue takut tau. Bangun dong." Ucap Killa sambil menggoyang-goyangkan kepala cowok itu.
Killa bingung, harus ia apakan cowok itu. Karna ia tak kuat membawa cowok itu kedalam mobilnya.
"Duh, darah lo banyak banget. Gue takut darah tau gak lo?" Ucap Killa yang sekarang sama seperti orang gila yang berbicara sendirian.
Cowok itu membuka matanya perlahan yang membuat Killa terkejut.
"To-long." Ucap cowok itu dengan terpatah-patah dan menutup matanya lagi.
"KILAAAAA? LO GAPAPA?" Teriak seseorang dari belakang Killa.
🔜🔜🔜
Segitu dulu yaaa.
Jangan lupa..
Vote
Comment
Follow
See you...
Next?
KAMU SEDANG MEMBACA
Pakilla
Fiksi RemajaCover by @cupusquad COMPLETED Killa Aurela Audia adalah gadis cantik dan pintar. Tapi ia sangat benci dengan keramaian, ia juga jarang keluar dari kelasnya. Hal itu membuat Killa jarang dikenal oleh anak-anak SMA Gading. Panji Bramasta adalah cowok...
