Hening.
Meskipun di dalam mobil tersebut terdapat 4 orang manusia. Namun,tak ada yang berani membuka suara. Killa menyetir dengan fokusnya, dan ketiga sahabatnya hanya diam dan saling bertukar pandang.
Rara berdeham, berusaha memecah keheningan.
"La? Lo kenapa?" Tanya Rara pelan, takutnya Killa akan marah karna kelihatannya mood Killa sedang tidak baik saat kedatangan Kesha tadi. Killa langsung menggeret paksa ketiga sahabatnya itu kedalam mobil.
Killa menghela nafas panjang dan langsung menggeleng pelan.
"Seriusan?" Tanya Elvira memastikan.
Killa hanya mengangguk.
Ketiga sahabat Killa kembali beradu pandang.
"La?" Sekarang Linda yang membuka suara.
"Apaan? Kalian kenapa sih? Gue nggak papa kali, cuma capek aja. Gue lagi PMS." Ucap Killa dengan nada ketus.
Ketiga sahabat Killa yang tadinya hendak menanyakan berbagai pertanyaanpun hanya terdiam. Karna saat mendengar kata PMS, mereka langsung paham.
Tak lama kemudian mobil Killa berhenti diparkiran sekolahnya. Ketiga sahabatnya turun dari mobil Killa dan berjalan mendekati mobil mereka masing-masing.
"Hati-hati La." Ucap ketiga sahabat Killa sambil melambaikan tangannya kearah Killa.
Killa membalasnya dengan senyuman dan langsung menginjak pedal gasnya.
Sore ini jalanan sedikit macet ditambah lampu merah yang tak kunjung usai. Killa merasa moodnya semakin hancur saja, entah kenapa sejak kehadiran Kesha si gadis Calon Pacarnya Panji tadi, Killa menjadi sangat kesal.
Apakah Killa cemburu?
Nggak mungkin, karna Panji itu cowok emosian yang selalu ingin Killa hindari. Namun, Panji selalu memiliki seribu cara untuk membuat Killa mau dekat dengan Panji.
Killa mendesah pelan.
*tok tok*
Tiba-tiba kaca mobil Killa ada yang mengetuk. Killa menoleh kesamping kanannya.
Killa mengernyit, saat ia melihat sesosok cowok yang tidak asing dimata Killa sambil menyengir lebar.
Kemudian Killa langsung buru-buru membuang pandangannya kedepan, agar tidak melihat Panji.
Ya, cowok itu adalah Panji yang sedang duduk dijok motornya dengan tangan kiri yang memegang helm.
"La, buka dong." Teriak Panji dari luar.
Killa mendadak menulikan indera pendengarannya agar ia tidak tergoda dengan Panji lagi. Killa kali ini harus benar-benar menjauhi Panji.
Lampu hijau menyala. Killa langsung buru-buru menginjak pedal gasnya berharap akan terjauh dari Panji.
"Kenapa sih dunia ini sempit banget. Dimana-mana yang ada kok cuma Panji." Gerutu Killa kesal.
Killa menatap kearah spionnya, kemudian ia bernafas lega saat tanda-tanda batang hidung Panji tak terlihat sama sekali.
Killa menatap santai kearah jalanan depan, namun tiba-tiba ada sebuah motor yang berhenti didepan mobil Killa yang membuat Killa langsung mengerem mendadak.
*cyiiiiit*
Anggep suara rem yang berdecit ya.
Killa langsung membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobilnya. Killa langsung berjalan kearah motor itu.
"LO BISA BAWA MOTOR ATAU NGGAK SIH? MAU MATI? SINI GUE TABRAK SEKALIAN." Bentak Killa. Namun pengendara motor itu masih sibuk membuka helmnya sambil turun dari motornya.
"Panji?" Ucap Killa.
Ya, dia adalah Panji.
Panji tersenyum. "Santai aja neng."
Killa memutar bola matanya malas. Dunia benar-benar sempit.
"Minggirin motor lo." Ucap Killa dingin.
"Nggak bakal, sebelum lo maafin gue." Ucap Panji sambil menasang wajah sok imut.
Killa mengernyit. "Maaf? Buat apa?"
Panji menautkan kedua alisnya bingung. "Entah. Tapi, kayaknya lo marah deh, jadi gue minta maaf."
"Gue nggak marah. Jadi minggirin motor lo." Ucap Killa sambil menunjuk motor Panji.
"Lo marah La. Dari tadi gue chat nggak lo bales, gue telfon nggak lo jawab." Jelas Panji sambil memelas.
Killa mendegus kesal. "Hp gue, gue silent."
"Tapi lo marah La." Ucap Panji tetep keukeh dengan pendiriannya.
Killa berecak kesal. "Nggak."
"Lo marah."
"Enggak."
"Marah."
"Enggak."
"Marah."
"Enggak."
"Marah aja dong."
"ENGGAK. MINGGIRIN MOTOR LO. ATAU GUE TABRAK." Bentak Killa yang membuat Panji menciut seketika.
"Yaudah lo nggak marah deh." Ucap Panji sambil cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Dasar, cowok. LABIL." Ucap Killa dengan menekankan kata Labil.
Panji mengernyit. "Katanya lo nggak marah. Ya gue--."
"Serah. Sekarang minggirin motor lo." Ucap Killa dengan nada dingin.
Panji menggeleng.
"Yaudah, gue juga masih bisa lewat." Ucap Killa sambil memutar tubuhnya hendak berjalan, namun tiba-tiba Panji berkata yang menohok hati Killa.
"Cewek itu memang pandai ya? Memainkan peran dengan apik. Katanya gini, tapi nyatanya gitu. Hatinya sakit, tapi tampangnya belagu, sok kuat." Ucap Panji.
Killa diam karna lidahnya kelu.
Panji berjalan kedepan tubuh Killa dan menghadap ke Killa.
"Kalo emang cemburu ngomong. Daripada dipendem, terus marah tanpa sebab dan tiba-tiba lo jauhin gue tanpa gue tau alasannya. Jujur itu sakit La." Ucap Panji yang membuat tubuh Killa kaku.
Panji tersenyum pedih. "Kalo mau pergi bilang. Jangan tiba-tiba ilang."
Killa masih terpaku. Ingin sekali ia bertanya apa maksud dari ucapan Panji itu.
"Sorry kalo gue terlalu PD. Tapi kayaknya lo cemburu sama Kesha. Dan gue harus jelasin ke elo, Kesha itu temen gue, dan kita emang pernah deket. Tapi gue nggak pernah pacaran sama dia, meskipun dulu gue pernah ada rasa sama dia. Dan sekarang tenang aja, hati gue udah lo miliki seutuhnya. Karna hanya lo yang bisa melelehkan hati beku gue." Ucap Panji.
🔜🔜🔜
Hai-Hai-Hai
I'am back.
Jangan lupa tinggalin jejak ya :)
Wajib! Bukan Sunah
Ig: dilaa_april
KAMU SEDANG MEMBACA
Pakilla
Teen FictionCover by @cupusquad COMPLETED Killa Aurela Audia adalah gadis cantik dan pintar. Tapi ia sangat benci dengan keramaian, ia juga jarang keluar dari kelasnya. Hal itu membuat Killa jarang dikenal oleh anak-anak SMA Gading. Panji Bramasta adalah cowok...
