Killa melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Gerbang sekolahnya sudah terlihat. Namun na'as, Killa ternyata sudah kesiangan. Karna tadi pagi Killa bangunnya kesiangan, akibat semalam ia tak bisa tidur karna chat dengan Panji yang super nyeselin. Dan tadi jalanan super macet, yang membuat Killa semakin kesiangan.
"Yah. Telat. Gimana nih?" Gumam Killa kesal.
*tok tok*
Ada seseorang yang mengetuk kaca pintu mobil Killa.
"Telat neng?" Tanya Panji. Ya, yang mengetuk tadi adalah Panji.
Killa mendegus kesal. Bagaimana Panji bisa ada disini? Padahal sekolahnya ada di SMA Mulia bukan disini.
Killa terpaksa keluar dari mobilnya.
"Lo ngikutin gue ya?" Tanya Killa pada Panji.
Panji menautkan kedua alisnya bingung.
"Gue?"
"Ya siapa lagi kalo bukan lo? Pohon? Apa orang gila itu? Ish, nyebelin." Ucap Killa kesal.
Panji terkekeh. "Gue gak ngikutin lo. Gue cuma kesel aja sama cara lo bawa mobil tadi. Bisa-bisa lo nabrak orang lagi tau gak?" Ucap Panji yang memang benar, karna Killa tadi super ngebut sekali.
Killa berdecih. Ada saja alasan yang dibuat oleh Panji ini.
"Udah deh. Gue mau masuk sekolah." Ucap Killa sambil hendak membuka pintu mobilnya.
"Emangnya si satpam kumis depan itu mau bukain buat anak yang terlambat?" Tanya Panji yang membuat Killa mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobilnya.
Killa kembali menghadap ke Panji dan mengernyitkan dahinya. Darimana Panji tau kalo satpam itu memang tak pernah mau membukakan gerbang buat anak yang terlambat seperti Killa saat ini.
"Ish, gue sebel sama lo. Ini semua karna lo tau gak?" Ucap Killa kesal.
Panji mengernyit. "Gue?"
"Ya lo lah. Lo kan yang semalem ganggu gue, nge chat gue gak jelas, pake acara video call lah. Free call lah. Ish gue sebel sama lo." Ucap Killa sambil memukul lengan Panji.
"Auh." Panji meringis kesakitan. Meskipun badan Killa kecil, tapi tenaganya besar juga.
"Tapi lo mau aja kan ladenin gue? Jadi bukan sepenuhnya salah gue dong." Ucap Panji sambil tersenyum jahil.
Killa menarik nafas panjang menahan emosi. Ia memilih untuk memasuki mobilnya sebelum ia memakan Panji hidup-hidup.
"Ikut gue aja yuk. Daripada bolos dirumah aja gak asik." Teriak Panji dari balik kaca pintu mobil Killa.
Killa memasang tatapan tajam pada Panji. Lebih baik ia dirumah saja dengan rasa sepinya, daripada diluar yang ramai namun hati Killa tetap sepi.
Panji langsung membuka paksa pintu mobil Killa.
"Ikut gue. Gue maksa." Ucap Panji.
⚫⚫⚫
Killa duduk disebuah tepian danau dengan memakan es krim strawberry yang Panji belikan tadi. Pemandangan dihadapannya kali ini benar-benar indah dan membuat hati Killa menjadi sangat tenang.
Killa memejamkan matanya dan menghirup udara yang begitu segar ini dengan dalam.
"Lo pertama kali kesini?" Tanya Panji.
Killa mengangguk dengan masih dalam keadaan memejamkan matanya.
"Tenang ya?" Tanya Panji yang membuat Killa membuka matanya dan menatap Panji.
"Iya. Gue baru tau kalo ada tempat seindah ini." Ucap Killa dengan senyum yang terus mengembang dibibirnya.
"Lo kan gak pernah keluar. Makanya gak tau kalo ada tempat seindah ini." Cibir Panji yang membuat Killa berdesis sebal.
"Lo kenapa sih gak mau ketempat yang ramai-ramai?" Tanya Panji yang membuat Killa mengernyitkan dahinya.
"Kok lo tau?" Tanya Killa heran.
Panji menaikkan sebelah alisnya. "Apasih yang gak gue tau tentang lo." Ucap Panji yang langsung mendapat cubitan dari Killa.
"Serius." Ucap Killa.
Panji terkekeh. "Iya, kamu aku seriusin kok." Ucap Panji yang membuat Killa membelalakkan matanya.
"Canda doang kali. Gak usah baper." Ucap Panji yang membuat pipi Killa memerah malu.
"Ish. Nyebelin." Ucap Killa sambil menyemberutkan bibirnya.
"Kenapa?" Tanya Panji yang membuat Killa mengernyit.
"Apanya?"
"Tadi."
"Yang mana?"
"Lo tuh bego atau apa sih?" Tanya Panji kesal.
Killa masih tak mengerti maksud perkataan Panji. Ia hanya memasang wajah cengonya.
Panji menarik nafas paniang menahan emosinya.
"Kenapa lo gak suka tempat ramai?"
Killa menatap danau dalam. Kemudian ia tersenyum tipis.
"Karna gue gak suka kebohongan." Ucap Killa yang membuat Panji mengernyit bingung.
"Haah? Maksud lo apa?"
"Gue gak suka aja tempat ramai, tapi hati gue sepi. Itu sama aja bohong kan?" Ucap Killa sambil tersenyum tipis.
Panji masih tak paham dengan ucapan Killa.
"Hati gue udah mati. Jadi, seramai apapun tempat itu. Gue masih tetap merasa sepi." Ucap Killa dengan senyuman pedihnya.
Panji merasa kalau Killa saat ini dalam keadaan rapuh. Ia menghela nafasnya panjang.
"Terus kenapa lo gak hidupin aja hati lo?" Tanya Panji.
Killa menatap Panji sekilas. Kemudian tatapannya kembali mengarah ke danau itu.
"Gak segampang itu." Ucap Killa sambil tertawa hambar.
"Kan ada Vino yang cinta banget sama lo. Terus kenapa lo gak nyuruh dia aja buat hidupin lagi hati lo?" Tanya Panji.
Killa tersenyum. "Gue udah gak percaya lagi dengan lelaki. Setelah apa yang dilakukan papa gue ke mama dulu." Ucap Killa dengan nada penuh kepedihan.
"Menurut gue lelaki itu sama. Kalo lagi emosi, mereka gak bakal bisa berfikir jernih. Tangannya dengan enteng menyakiti orang disekitarnya. Meskipun itu adalah orang yang benar-benar dia cintai." Ucap Killa dengan satu tetes air mata yang berhasil turun membasahi pipinya.
Panji menatap tangannya nanar.
"Lo salah La"
🔜🔜🔜
Vote
Comment
Follow
Ig: dilaa_april
KAMU SEDANG MEMBACA
Pakilla
Teen FictionCover by @cupusquad COMPLETED Killa Aurela Audia adalah gadis cantik dan pintar. Tapi ia sangat benci dengan keramaian, ia juga jarang keluar dari kelasnya. Hal itu membuat Killa jarang dikenal oleh anak-anak SMA Gading. Panji Bramasta adalah cowok...
