chapter 8

6.1K 439 65
                                    


 Hamids mengendarai motornya dengan santai. Dia sedang tidak ada kerjaan berarti hari ini, alias libur. Lagipula dia masih ingin menikmati sisa liburannya di kota ini sebelum kembali ke ibu kota. Melaporkan hasil kerja yang ditugaskan kepadanya selama berada di kota ini. Sambil berkendara, ia teringat akan pertemuannya kembali dengan sahabat masa kecilnya dulu.

 'Esge. Hhh...udah lama gak ketemu, makin cantik saja dia...'

 Hamids menghela napas pelan. Tak memungkiri rasa rindunya sedikit terobati. Fokusnya mulai terganggu ketika merasakan ponselnya bergetar. Dibawanya ke tepi motor itu, memakirnya di pinggir jalan. Safety first. Jangan menerima telepon ketika berkendara, apalagi naik motor.

 Dibukanya helm full face yang ia kenakan, kemudian merogoh saku dalam jaket kulit yang ia pakai, dan menarik keluar ponsel yang sedari tadi masih terus bergetar.

 "Esge?"

 Ia merasa kaget, namun juga senang menerima telepon dari perempuan itu. Selang beberapa hari sejak mereka untuk pertama kali bertemu kembali setelah sekian lamanya. Hamids sengaja meninggalkan nomornya untuk Gracia. Tidak menyangka perempuan itu baru akan menghubunginya sekarang.

 Tanpa menunggu lebih lama, jempolnya menggeser tombol hijau. Baru akan menempelkan ke telinga, sambungan terputus.

 "Eh?" bingung Hamids. "Mungkin gue kelamaan ngangkatnya? Ah, coba telpon balik lagi aja deh."

 Belum sempat dia menekan tombol sambungan, kembali ponselnya bergetar dengan nama pemanggil yang sama.

 Esge calling...

 Tanpa pikir, kali ini Hamids langsung menekan tombol terima. Jantungnya tiba-tiba saja berdegub kencang, gugup. Baru ia mengucap, "Halo...?"

Tuut..tuut..tuut...

 "Lah!"

 Hamids kembali menampilkan raut bingung atau tampang cengo andalannya melihat layar ponsel.

 "Malah dimatiin...kenapa, sih?"

Ping!

 Kembali tersadar dari kecengo-annya, Hamids kemudian melihat ada pesan masuk. Dari Gracia. Cepat-cepat dibukanya pesan itu.

 From: Esge

 Datang ke restoran ini xxxx. Ketemuan di sana.

 Kali ini keningnya berkerut membaca pesan singkat itu. Entah mengapa, ia merasa ada yang aneh dengan gaya tulisan Gracia. Seperti bukan dirinya.

 'Apa mungkin karena udah lama gak ketemu, dia jadi berubah gini ya...? Ah Hamids bego, jelas aja pasti ada perubahan. Gak mungkin juga dia tetep sama kayak dulu,' batinnya.

 Tak ia pungkiri rasa senang menelusup hatinya, ketika ternyata Gracia ingin bertemu dengannya. Apalagi ketemuannya di restoran. Waa..hehehe...Hamids pun segera membalas pesan itu. Menyetujui ajakan.

 Senyumnya mengembang. Memikirkan sekiranya apa yang akan ia lakukan dengan Gracia nanti. Pastinya makan, trus ngobrol, mengenang masa-masa mereka waktu kecil dulu...lalu..

 "Oh iya! Harus laporan dulu, nih!"

 Jari-jarinya bergerak cepat mencari kontak nama seseorang. Menemukan yang ia cari, segera ditekannya tombol hijau itu.

 "Kak, aku ada berita bagus!" Hamids seperti tidak bisa menahan rasa senangnya, segera berseru riang ketika sambungan terhubung.

 "...."

 "Hehe iya, ini aku mau ketemuan sama Esge lagi, nih."

 "...."

 "Iya, Kak. Kayak yang udah Kakak bilang ke aku, aku gak akan maksa atau ganggu-ganggu dia. Aku juga gak mau dia nanti malah ngerasa gak nyaman dan tiba-tiba ngilang gitu aja. Aku coba biarin aja dulu sampe dia mau terbuka lagi sama aku."

with you (greshan)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang