Aku memperhatikannya yang tampak serius memainkan jari-jemarinya pada layar persegi itu. Sudah satu jam lamanya gadis itu memainkan game yang ia dapat dari Angel. Sudah satu jam pula pandanganku tak sedikitpun beralih dari wajah cantiknya.
Padahal di depanku masih menyala layar laptop yang menampilkan deret grafik dan semacamnya. Tugas kantor yang kubawa pulang. Malah terbengkalai karena bocah satu ini.
Tanpa permisi, ia menerobos masuk ruang kerjaku, duduk di sofa dengan kedua kaki di atas meja, lalu bersandar memainkan game di ponselnya.
"Gre..." panggilku. Tapi tak mendapat respon.
"Gracia," panggilku lagi dengan hasil yang sama. Diabaikan.
Rasa kesal pun mampir, membuatku berdiri dan berjalan menghampirinya.
"Hei..." sapaku sambil menangkup sisi wajahnya, mengarahkan pandangan itu padaku.
Sempat kulirik jari itu memencet tombol pause, lalu perhatiannya sepenuhnya padaku.
"Gre kenapa, hm?" tanyaku lembut, mengusap pipi mulusnya dengan ibu jariku.
Manik indah itu menatapku lama sebelum beralih kembali pada layar ponselnya. Keluar dari permainan dan membuka aplikasi notepad.
'Cici dari pagi gak keluar2. Ge bosan, mau jalan2. Tapi Cici sibuk. Jadinya Ge main game aja.'
Aku menghela napas membaca ketikan itu. Melirik pada jam dinding. Sudah jam sebelas lewat ternyata.
"Maafin Cici ya. Padahal ini hari minggu, Cici malah kerja. Humm gimana kalau sekarang, Gre siap-siap? Cici mau ajak Gre jalan-jalan!"
Ucapanku membuat raut wajah yang murung itu menjadi cerah.
Aku hanya tersenyum manis dan menganggukkan kepala, ketika ia memastikan ajakanku dengan raut polosnya. Dia pun melompat dari sofa dan segera berlari keluar ruangan dengan girangnya.
Aku menghela napas pelan, tak sengaja menatap layar ponselnya yang tertinggal di atas meja. Masih menampilkan deretan kalimatnya.
Kupungut ponsel itu dan segera keluar dari ruangan kerja ini.
---
"Iiih Kak Gre curang mainnyaaa.."
Aku terkekeh geli mendengar rengekan Angel. Meski suaranya tak terdengar, aku yakin Gracia pasti tengah mengejeknya. Entah sedang bermain apa mereka di belakang sana.
"Shani, kerjaan yang kemaren udah selesai belum? Besok pagi mau Kakak bawa buat rapat dewan direksi."
Perhatianku sedikit beralih pada laki-laki tampan di sebelahku. Kulirik raut seriusnya mengotak-atik tab di tangannya.
"Tinggal dikit lagi, kok. Ntar malem kuselesein. Kakak tenang aja," balasku, kembali fokus menyetir.
Kudengar helaan napas darinya.
"Maafin Kakak, ya Shan. Seharusnya kamu masih bisa merasakan kebebasan masa muda kamu. Tapi sekarang, kamu malah ikutan sibuk ngurus kantor. Kakak jadi ngerasa bersalah sama kamu..."
Kulepas tangan kiriku dari tuas kopling dan menjangkau sebelah tangannya. Mengusapnya pelan.
"Kakak jangan ngomong gitu. Aku gak papa, kok. Aku juga gak setega itu ngebiarin Kakak ngurus perusahaan besar itu seorang diri."
Kulepas kembali tanganku, memegang stir mobil karena harus belok.
"Sejak Papa dan Mama udah gak ada, Kakak mau gak mau harus jadi kepala keluarga sekaligus direktur perusahaan. Bahkan Kakak rela nunda pernikahaan Kakak karena mengurus kami. Aku akan bantu Kakak semampuku."
Kutolehkan wajahku padanya dan menunjukkan senyum manisku. Kulihat matanya menatapku sendu, namun senyuman juga ikut menghiasi wajah tampan itu.
"Makasih, ya sayang," ucapnya, mengelus pelan kepalaku.
---
Kami saat ini tengah bermain di game center sebuah mall, setelah sebelumnya berkeliling berbelanja berbagai macam barang. Aku merasa kasihan pada Kak Vino yang menenteng kantong belanjaan kami. Sebagian besar punya Angel dan Gracia.
Tapi sedetik kemudian menatap datar, ketika gadis cantik itu mendekati Kak Vino dan mengambil beberapa kantong darinya. Mereka pun berbagi senyuman manis masing-masing. Gracia tersipu malu saat Kak Vino mengusap puncak kepalanya, lalu turun mengelus lembut pipi tembem itu.
"Cocok banget, ya Kak? Kak Vino yang tampan sama Kak Gre yang cantik. Hmm Angel jadi pengen cepet-cepet lulus SMA, biar Kak Vino bisa cepet nikah sama Kak Gre. Uwuwu Kak liat, Kak! Romantis banget, sih! Jadi gemeess..."
Tak kuhiraukan celotehan Angel di sebelahku, mengelu-elukan pasangan yang berada tak jauh dari kami. Aku tersenyum miris.
Ada yang merasakan kekecewaan yang sama denganku?
Ah, pasti tidak ada.
Bodohnya aku malah terjebak pada tatapan polosnya, ketika membuka pintu beberapa bulan yang lalu. Dirinya bagai bidadari, tersenyum manis padaku yang menatapnya cengo kala itu.
Aku tidak pernah merasakan yang namanya cinta, meski novel-novelku hampir semuanya mengisahkan perasaan romansa itu. Tentunya kalian pernah mendengar ataupun membaca kalimat "jatuh cinta pada pandangan pertama."
Ya, aku merasakannya pada gadis cantik itu. Aku jatuh cinta pada tunangan Kakakku sendiri.
Dan menyimpan rasa itu seorang diri.
Menyedihkan.
Fin.
---
ini apaan...
Niatnya bikin greshan, tapi kedua ibu jari tangan saya berkhianat ( ´•ω•' )
*nigeru
d16.
KAMU SEDANG MEMBACA
with you (greshan)
Fiksi Penggemarbersamamu memberiku arti sebuah keluarga yang tak pernah kurasakan sebelumnya. ini memang tak akan mudah, tapi jika bersamamu, aku yakin semua akan baik-baik saja.
