chapter 20

5.1K 444 90
                                        

 Tangan itu mengulur ke depan, memegang kenop pintu dan memutarnya perlahan. Suara deritnya terdengar pelan. Sosok itu mendorong daun pintu, membuka ruang lebih lebar untuknya bisa masuk, meski tanpa ketukan ataupun izin dari pemilik kamar.

 Hal pertama yang menyambut adalah alunan musik yang begitu familiar. Ghaid mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar sang anak. Kamar yang tak pernah ia masuki setelah Vino pergi ke luar negeri. Hanya seorang pembantu yang ia izinkan untuk membersihkan kamar ini.

 Pandangannya terpaku pada beberapa potret seorang gadis dalam bingkai foto yang tertata rapi. Hampir memenuhi setiap sudut ruang di kamar ini.

 "Ah, Ayah!"

 Fokus Ghaid beralih pada panggilan sang anak yang baru saja menyadari keberadaannya. Vino segera turun dari kursi belajar yang ia pijaki, meninggalkan sejenak aktivitasnya menempel sesuatu di dinding kamar. Ghaid menaikkan sebelah alisnya, melihat apa yang dibuat anaknya itu.

 Kumpulan foto-foto...pemandangan? Dan foto sebagainya, yang disusun sedemikian rupa, hingga membentuk satu silluet wajah seorang gadis. Meski belum selesai sepenuhnya, ia bisa memastikan kalau siluet itu adalah gadis yang sama dengan foto-foto berbingkai yang tersebar di kamar ini.

 Ghaid terpana sejenak. Merasa kagum dengan kreativitas Vino. Putranya itu sangat menyukai seni. Bernyanyi, bermain musik, hobi motret, melukis, dan segala macam yang berhubungan dengan seni.

 Dia kagum, tapi entah kenapa ia merasa sesak. Akan seseorang yang menjadi objeknya. Dada pria itu seketika merasa sesak.

 Vino dengan cengiran di wajahnya mendekati sang ayah, setelah meletakkan lem perekat dan peralatan lainnya yang ia gunakan.

 "Maaf Yah, kamar Vino berantakan gini hehehe..."

 "Hm, gak papa."

 "Vino pikir Ayah udah tidur. Kok gak ngetuk pintu dulu?" tanya Vino heran.

 "Ayah pikir kamu juga udah tidur, makanya Ayah gak ngetuk. Ayah Cuma mau liat wajah putra Ayah ketika ia tidur. Ayah merindukannya..." ujar Ghaid setenang mungkin. Jujur, ia sangat merindukan putranya ini.

 Vino menatap datar raut sendu pria di depannya itu.

 "Hmm...oke. Tapi Vino gak bisa tidur kalau belom selesiin ini," Vino mengedarkan kedua tangannya ke sekeliling kamar. "Gimana, bagus gak, Yah? Apalagi yang itu!"

 Ghaid menahan sesaknya, menyadari Vino mengalihkan maksud perkataannya. Dia hanya bisa menganggukkan kepala dan memberikan senyum untuk sang putra, yang membanggakan hasil kerjanya.

 "Perlu Ayah tau, aku menghabiskan hampir enam bulan lamanya buat berburu foto, trus nyoba bikin kayak gitu di sana. Akhrnya Vino bisa juga nyusunnya dengan benar dan Vino mau memperlihatkan ini pada Gracia nanti! Dia pasti kaget dan senang banget pastinya!"

 Raut Vino menerawang. Senyuman semakin terkembang, kala berkhayal akan seorang gadis pujaan hati yang teramat dirindukan.

 Ghaid memperhatikan wajah Vino lekat.

 "Vin, Ayah mau bicara."

 Vino tersadar, kembali mengalihkan fokus pada sang ayah. "Ayah mau bicara apa?"

 "Duduk dulu, yuk."

 Vino memilih duduk di tepi tempat tidurnya, sementara Ghaid mengambil kursi yang menjadi pijakan Vino tadi. Menempatkan kursi itu tepat di depan sang putra, kemudian duduk di sana. Ayah dan anak yang saling berhadapan.

 "Ayah mau bicara serius."

 "Hmm, oke? Vino bakal dengerin apa yang Ayah bicarakan."

 Ghaid menarik dan menghela napas perlahan.

with you (greshan)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang