"Ka-Kak Vino, ugh..."
Nama itu terucap pelan dari bibirnya. Untuk waktu dan tempat yang tak terpikirkan sedikit pun olehnya, kenapa harus saat ini dan di tempat ini?!
Betapa terkejutnya Gracia bertemu kembali dengan seseorang yang dulu pernah mengisi hari juga hatinya. Tak pernah terlintas bayangan akan melihat wajah itu lagi. Sosok laki-laki itu, bagaimana mungkin dia bisa melupakannya? Masih sama seperti dalam ingatannya, meski sudah beberapa tahun berlalu sekalipun.
Hanya kini dia terlihat semakin dewasa, tampan, dan juga manis.
Debaran itu, tanpa ia bisa menahannya, kembali hadir menggetarkan hati. Kenangan-kenangan yang mereka berdua pernah alami dulu pun, ikut bermunculan satu demi satu, memenuhi isi pikirannya. Raja Vino Alfarish, sang cinta pertamanya kini kembali hadir, berdiri tepat di hadapannya.
"Gracia...Gre, astaga, ini beneran kamu, sayang...?"
Vino tak bisa membayangkan betapa senang dan bahagia hatinya kini. Perasaan yang membuncah itu... Setelah penantian panjang, setelah segala usahanya untuk mencari, akhirnya terbalaskan juga. Seakan keajaiban terjadi padanya, seseorang yang sangat dicintainya, akhirnya bisa bertemu kembali.
Gugup. Entah kenapa dia malah merasa gugup. Debaran jantungnya berdetak cepat, seakan sedang lari maraton 10k. Tanpa bisa menahan, sebelah tangan Vino terangkat naik. Perlahan terulur ingin menyentuh lembut wajah yang sangat dirindukan itu. Tetap imut, menggemaskan, terlihat dewasa, juga semakin cantik...sangat cantik.
Bidadarinya amatlah cantik.
"Gre-"
"Maaf, Anda salah orang," secepat kalimat itu terucap, secepat itu pula tubuh perempuan itu kembali membalik badannya dan beranjak pergi dari hadapan Vino.
"E, eh-huh?"
Vino terkejut dengan perubahan sikap yang tiba-tiba itu. Dia merasa yakin kalau perempuan itu, Gracia-nya sempat mengucap nama dirinya. 'Kak Vino', benar 'kan? Terus kenapa...?
'Raut wajah itu...kenapa? Apa yang terjadi padanya? Kenapa pergi-ah.'
Dirinya tersentak setelah terpaku diam karena perempuan yang ia yakini sebagai Gracia itu, dalam sekejap sudah menghilang dari pandangannya.
"Gak-gak-gak, kamu gak boleh pergi dari aku lagi, Gre. Aku...aku harus ngejar dia! Graci-"
"Eeeehh Bang, tunggu dulu wey! Jangan main pergi gitu aja, dong!"
Langkah Vino seketika terhenti saat seseorang menahan pundaknya. Dengan raut wajah gusar, laki-laki itu menolehkan kepala dan menatap garang pada seorang pemuda di belakangnya.
"Ada apa?! Saya lagi buru-buru nih!"
Si pemuda berseragam itu-sepertinya karyawan minimarket- dengan raut wajah galaknya menunjuk-nunjuk pada kotak-kotak yang jatuh berserakan di lantai.
"Gue gak peduli Abang mau buru-buru kek, ubur-ubur kek, ato gimane. Itu, tolong beresin kekacuan yang udah Abang bikin."
Pandangan Vino mengarah ke bawah, kemudian berdecak kesal.
"Kamu saja yang beresin. Pegawai di sini, 'kan?"
"Eeehh gak bisa gitu, dong Bang! Gue bisa dipecat si Bos kalo kotak-kotak ini gak diberesin. Gak mau tau! Pokoknya Abang harus tanggung jawab ngeberesin ini semua! Atau Abang gue laporin ke si Bos karena udah ngerusakin barang-barang di sini."
'Astaga!?'
Vino mengusap kasar wajahnya. Bisa saja dia langsung lari dari tempat menyebalkan ini dan mengejar Gracia. Tapi melihat betapa mengesalkannya pemuda ini, dia mau tak mau harus mengalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
with you (greshan)
Fanfictionbersamamu memberiku arti sebuah keluarga yang tak pernah kurasakan sebelumnya. ini memang tak akan mudah, tapi jika bersamamu, aku yakin semua akan baik-baik saja.
