"Gue kayaknya belum nanya deh, sama lo Chell."
Michelle mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel pada Gracia yand duduk di sebelahnya. Memberikan perhatiannya pada Mama muda itu. Mereka saat ini sedang ada di taman, memani Stefi yang ingin bermain sebelum pulang ke rumah.
"Nanya apaan?"
"Kok lo bisa balik ke sini lagi? Bukannya gue gak suka kalo lo balik sih, gue seneng banget malah. Tapi...gue pikir bokap lo manggil lo pulang, buat nyuruh lo kerja di perusahaan beliau? Kok udah balik gitu aja, ngajar di sekolah itu lagi."
Michelle tak langsung menjawab, malah mengalihkan pandangannya pada Stefi yang asyik bermain seluncuran dengan anak-anak sebayanya. Senyum kecil terlukis di wajah cantiknya.
"Gue masih pengen ngajar, Gre. Itu passion gue. Lagipula mana mungkin gue rela ngelepas gitu aja sekolah yang udah gue bangun dengan hampir semua tabungan gue."
Michelle membangun sekolah itu patungan dengan beberapa temannya juga relawan semasa di kampus dulu. Banyak anak-anak yang masuk ke sekolah itu, baik dari kalangan berada maupun anak jalanan sekalipun. Meskipun para pengajarnya perlahan muai berkurang, tapi Michelle dan teman-temannya tetap berusaha mempertahankan sekolah mereka.
Michelle menghela napas sebelum melanjutkan.
"Gue udah pernah bilang 'kan, kalo gue itu suka sama anak-anak yang punya semangat dalam belajar. Ada kebahagiaan tersendiri, gitu ngeliat mereka. Lagi pula, gue pengen mereka yang gue ajar itu gak Cuma pinter doang, tapi juga memiliki sikap, perilaku, dan kepribadian yang baik. Bukannya gue ngeraguin para orang tua yang gak bisa mendidik anak mereka. Hanya saja, yaahh gak semua orang tua bisa mengajari hal-hal baik pada anak mereka," jelasnya panjang.
"Apalagi anak-anak yang gak punya orang tua ataupun sosok yang bisa ia contoh. Beruntung kalau dapat yang baik, kalau sebaliknya? Makin banyak bibit-bibit gak baik yang malah tumbuh di sekitar kita," lanjut Michelle dengan nada serius.
Gracia terdiam mendengar penuturan Michelle. Matanya memperhatikan dari samping bagaimana perempuan ini, walaupun masih muda, begitu berdedikasi dalam minatnya sebagai pengajar. Jarang sekali menemui anak muda seperti Michelle dan teman-temannya yang mau peduli pada perkembangan kepribadian anak. Memang sih, pembentukan karakter anak bukan hanya dari keluarga saja, tapi juga dari berbagai lingkungan tempat anak itu tumbuh.
"Gue sedih aja gitu, liat orang tua jaman sekarang yang uhm, kayak gak peduli gitu sama apa yang mereka lakuin di hadapan anak-anak mereka. Anak contoh orang tuanya, kan ya. Contoh kecilnya aja buang sampah. Mereka memang mengajari si anak untuk membuang sampah di tempat sampah, tapi kenyataannya para orang tua itu ketika jalan sama anaknya, malah buang sampah sembarangan. Otomatis si anak tentu aja ngikut orang tuanya yang buang sampah sembarangan. Jadi percuma aja ajarannya itu."
Michelle mendengus kesal kala mengingat satu kejadian ketika ia di angkot. Si ibu bukannya menyimpan dulu bungkus makanannya, malah dengan seenaknya di buang begitu saja di lantai angkot. Dan banyak yang lainnya.
Kesel banget. Pengen negur, tapi nanti malah dikatain. Tipikal orang Indonesia yang gak mau dikasih tau-eh.
Gracia mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu bertanya, "Jadiiii lo ngegantiin tugas mereka buat ngebentuk kepribadian si anak, gitu?"
"Memperbaiki, sih lebih tepatnya. Gue juga gak mau diamuk orang tua murid kalau gue jatohnya malah ngehakimin cara mereka mendidik anak. Tapi, sebisa mungkin gue pengen anak-anak yang gue didik ini menjadi pribadi yang lebih baik dari orang tua mereka."
Gracia tersenyum senang mendengar harapan tulus temanya itu. Keputusan tepat memang, ketika ia menerima Michelle di hidupnya. Banyak sekali hal-hal tentang kehidupan yang dapat ia pelajari darinya. Pemikiran-pemikirannya yang maju, tapi tetap tidak meninggalkan nilai-nilai yang seharusnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
with you (greshan)
Fanfictionbersamamu memberiku arti sebuah keluarga yang tak pernah kurasakan sebelumnya. ini memang tak akan mudah, tapi jika bersamamu, aku yakin semua akan baik-baik saja.