Pak June berjalan bersama Kina didepan. Sementara itu tepat dibelakang mereka ada aku, anak perempuan yang kuketahui bernama Rosa dari name tag diatas saku bajunya, dan siswa laki-laki yang disuruh pak June membantuku berjalan ke UKS. Kami menyusuri koridor sekolah yang semakin siang semakin ramai oleh anak-anak sekolah. Mereka menatap kami dengan heran dan penuh tanya. Kulihat, mereka saling berbisik satu sama lain. Sepintas terdengar, mereka membicarakan Kina yang akhirnya ketahuan atas aksi pem-bullyannya. Rasa sakit bercampur dengan rasa bahagia. Mulutku yang mengeluarkan darah tak bisa berhenti tersenyum. Mungkin Tuhan sudah merencanakan ini agar aku tidak ada beban untuk meninggalkan Indonesia.
Aku dan siswa laki-laki itu masih memapah Rosa karena ia kesulitan berjalan. Siku tanganku yang terantuk kursi mulai terasa sakit. Aku melihatnya, dan memang benar sedikit lecet. Mataku bergerak sedikit kearah lain. Arka. Aku melihatnya, ia berdiri dengan tatapan kosong dengan bola mata yang mengikutiku. Rambut dan bajunya terlihat sangat berantakan. Mungkin karena stress atau karena dia frustasi dan berlari mengelilingi lapangan sepak bola sebanyak 100x karena kutolak cintanya. "Jangan ngayal deh Kay!" pikirku seraya menyadarkan diri.
Sudah hampir pukul 6.40 dan Octa baru saja tiba disekolah. Octa berjalan di koridor. Ia bingung mengapa semua orang berbisik-bisik sambil berdiri menghadap koridor sekolah.
"Ada apa sih?" tanyanya kepada salah seorang siswa yang juga berdiri menghadap koridor sekolah.
"Itu, si Kina, anak donatur kita, kerjaannya bully orang udah ketahuan," jelas siswa itu seraya menunjuk Kina.
Spontan Octa menoleh kearah Kina, ia mendapatiku berjalan dibelakang Kina dengan wajah yang lebam. Ia berlari dengan kecepatan penuh kearahku. Namun bel masuk berbunyi, dan wali kelas menghadang Octa yang berusaha menghampiriku.
"Octa, masuk ke kelas sekarang!" bentak wali kelasku.
"Tapi pak," elak Octa
"Masuk ke kelas sekarang!"
"Sial!" batin Octa dengan wajah kesalnya, ia berpaling dan berjalan menuju kelasnya.
Aku masih memapah Rosa ke UKS, sementara itu, pak June membawa Kina ke ruang BP. Aku membantu Rosa untuk berbaring di sebuah kasur, kemudian aku mengambil plester untuk mengobati luka di siku tanganku. Aku berjalan keluar kelas. Aku berencana untuk masuk ke kelas melewati ruang BP. Sengaja. Agar aku bisa mendengar apa yang terjadi di ruang BP. Aku hampir berada dekat dengan ruang BP. Langkah kakiku kugerakkan perlahan. Dengan tidak berdosa, aku melewati pintu ruang BP yang terbuka seolah tidak terjadi apa-apa. Lalu aku berhenti di ujung ruang BP. Telingaku ku tempelkan di tembok, berharap mendengar apa saja yang dikatakan guru BP.
"Saya akan menghubungi bapak donatur sekarang," ujar bu guru BP yang kudengar samar-samar.
"Tapi kan bu, pak June tadi bilang kalo nggak bakal bilang ayahku!" Bantah Kina.
"Tapi kelakuanmu itu sudah keterlaluan Kina!" Sahut pak June.
"Saya akan bilang kepada bapak donatur untuk memindahkan kamu dari sekolah ini." Tukas bu guru BP
"Apa?! Pindah?!" Kata Kina agak menjerit.
Di luar ruangan, aku tersenyum-senyum sendiri mendengar keputusan bu guru BP. Bak semua rasa takut yang menaungiku saat bertemu Kina sudah hilang dan bahkan aku bisa menertawakan Kina keras-keras. Setelah puas akan hal itu, aku berjalan ke kelas dengan riangnya.
-----
Aku tertegun. Sungguh terkejut. Aku melihat Arka berlari dilapangan dengan keringat yang mengalir membasahi wajah putihnya. Di sekeliling lapangan, ada beberapa siswa yang memperhatikan Arka karena kasihan kepadanya. Aku mendekati salah seorang siswa yang duduk di samping lapangan memastikan apa alasan Arka berlari seperti itu.
"Dia kenapa sih?" Tanyaku seolah tak mengenal Arka.
"Katanya sih dia habis ditolak, kasihan gua liatnya. Coba aja gua yang ditembak pasti gua terima lah tu anak,"jawabnya.
"Tapi kamu kan cowok !"
"Ya nggak papa lah yaa," ujar siswa itu dengan nada seperti seorang perempuan.
"Hiyuuhh, tobat mas tobat" kataku sambil menjauh dari siswa itu.
Dan betul. Dugaanku dia berkeliling lapangan karena frustasi cintanya kutolak tepat sekali. Aku menoleh kearahnya, kuperhatikan dia. Tak sengaja Arka pun melihatku. Ia menghentikan larinya. Kami berpandang-pandangan. Seketika, aku membuat tanda silang menggunakan dua jari telunjukku bermaksud agar dia mengehentikan sikap konyolnya. Lalu aku berpaling darinya dan berjalan menuju kelas.
"Arrgghh!" Teriak Arka melihatku menjauh darinya.
Aku sedikit terkejut namun tidak berani berpaling menghadapnya. Malang sekali anak itu. Sebenarnya jika dia mau, banyak sekali perempuan yang lebih cantik dan lebih baik daripada aku.
