058

43.8K 1.3K 18
                                        

"Le, nanti siang saya jemput, ya," Kata Rey sembari membereskan tas kerjanya.

"Mau kemana?" Mylea menghampiri Rey dengan wajah bingungnya.

"Kan mau meriksa anak kita."

"Oh iya, yaudah nanti siang Lea siap-siap," Myle tersenyum.

"Yaudah sekarang saya berangkat dulu,ya? Hati-hati dirumah, kalau ada apa-apa telpon saya." Rey berjalan ke arah pintu diikuti oleh Mylea.

"Siap bos" Mylea memberi pose hormat sambil tersenyum.

Rey kemudian menyentuh perut Mylea yang sudah sangat besar.

"Papa pergi kerja dulu, ya?" Rey mencium perut Mylea, kemudian beralih kepada sang empunya perut dan mencium bibir gadis itu sebelum benar-benar pergi.

🌂

Mereka sudah sampai di rumah sakit. Sekarang mereka tinggal menunggu kapan dipanggil.

"Atas nama Ibu Mylea," Panggil seorang suster.

Rey dan Mylea langsung berdiri kemudian menuju ruangan dokter.

Dr.Diana, dialah dokter yang menangani Mylea dari awal kehamilan Mylea.

"Apa kabar?" Sapanya sopan.

"Baik,dok," jawab Mylea sambil tersenyum.

"Silahkan duduk, " Dr.Diana mempersilahkan pasangan tersebut untuk duduk di hadapannya.

Mereka banyak berkonsultasi dengan dokter sebelum akhirnya Mylea diperiksa.

Proses pemeriksaan tak berlangsung lama. Setelah selesai dengan segala rangkaian pemeriksaan, Mylea kembali duduk di hadapan dokter.

"Bayinya sangat sehat. Tidak ada masalah yang berarti, semoga saja sampai pada harinya bayinya sehat," ucap Dr. Diana.

Mendengarnya Rey dan Mylea bisa bernapas lega.

Setelahnya, dokter hanya menuliskan beberapa resep vitamin untuk Mylea sebelum mereka meninggalkan ruangan.

🌂

Rumah sakit sedang ramai-ramainya, beruntung mereka tadi sudah membuat janji dengan dokter jadi tidak lama menunggu.

Namun, sekarang masalahnya adalah obat yang mereka tunggu tidak keluar-keluar.

"Om lama banget sih, udah hampir sejam nih," rengek Mylea sambil tetap menyandarkan kepalanya di bahu Rey.

"Iya, sabar ya. Kan rumah sakitnya lagi rame," Rey mengelus kepala gadis itu.

"Sebel nih Lea kalau udah gini. Pelayanannya lama banget,sih!" Mylea menunjukkan ekspresi marahnya.

"Sabar, Le. Semua juga butuh kesabaran, sayang," Rey kembali mengelus kepala Mylea.

"Sayang-sayang palalu peyang!" balas Mylea.

Rey menghentikan kegiatan mengelus kepala Mylea dan terdiam.

Dia seperti mencerna perkataan Mylea barusan.

Nylea langsung menggigit bibirnya sendiri kemudian menatap Rey dengan perasaan bersalah.

"Maaf om, Lea kebiasaan kalo sama temen-temen Lea," gadis itu memohon pada Rey.

Rey masih menatapnya tidak percaya.

"Plis om, jangan marah dong," Lea memegang tangan Rey penuh arti.

"Nggak marah, shock aja," Rey menggeleng tak percaya.

"Ya udah Lea minta maaf. Jangan marah ya suamiku sayang," Mylea menatap Rey dengan tatapan memohon.

Rey tidak sanggup melihat ekspresi Mylea. Bagaimana dia bisa marah dengan gadis ini? Jawabannya tidak bisa.

"Iya, nggak marah," balas Rey dengan nada lembut.

"Yeyy!!" Mylea langsung memeluk Rey erat.

Rey hanya tersenyum sendiri.

Ini yang membuatnya merasa menjadi pria paling sempurna di dunia. Sifat kekanakan dan kedewasaan gadis itu, menjadi sebuah kombinasi sempurna untuk Rey. Dia selalu bersyukur setiap harinya. Cintanya untuk Mylea semakin besar dari hari ke hari. Dia berharap mereka bisa seperti ini selamanya.

"Om, Lea mau naruh hasil ini dulu sekalian mau ambil hp di mobil," Mylea bangkit berdiri.

"Kamu bisa jalan sendiri?" tanya Rey.

"Bisa. Om tunggu sini aja siapa tau di panggil. Mana kunci mobilnya?" Rey memberikannya kepada Mylea.

"Inget kan mobilnya dimana?" tanya Rey.

"Inget, kok," Gadis itu kemudian berjalan menjauh dari sana.

🌂

Mylea's PoV

Mobil gue terparkir di seberang jalan dan gue lagi nunggu lampu merah biar bisa nyebrang.

Jujur, kehamilan gue yang sudah menginjak delapan bulan ini membuat gue susah ngapa-ngapain. Tidur aja serba salah, jalan juga jadi gabisa cepet.

Gak lama, lampu hijau untuk nyebrang udah nyala menandakan gue boleh menyebrang dan gue mulai berjalan.

"MYLEA!!!"

Satu triakan terdengar bersamaan dengan seseorang yang merangkul tubuh gue untuk menghindari sebuah mobil.

Kejadiannya begitu cepat sampai gue belum bisa mencerna apa yang terjadi. Yang gue tau, tadi Om Rey yang teriak.

Belum selesai mengatur napas,

Mobil lain datang dan menghantam kami berdua. Gue berusaha melindungi perut gue.

Gue merasakan guncangan hebat, kemudian.. Semuanya gelap.



Om. ✔[COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang