34 :: Dua Sebenarnya Bagaimana?
"Dia kecewa. Gue benci melihatnya masih tersenyum di balik topengnya." - Princessa.
"Gue suka lihat dia senyum walaupun harus dengan kecewa yang gue pendam. Cukup gue aja yang ngerasain, dia jangan." - Levin.
"Rasanya hampa ketika hanya bisa lihat senyum dia dari jauh. Anehnya semesta mendukung dengan membuat dia menjadi nyata dalam fakta. Aku benci dengan ketidak sengajaan ini, benteng pertahananku runtuh begitu saja." - Natchadiary.
-Feel Real-
"LAH lo nya yang labil emang, Cess." Begitu balas Resha sembari berguling di atas tempat tidur Cessa dengan santainya.
Naura yang sedang asyik dengan ponselnya langsung mengalihkan pandangannya. "Levin cemburu? Ajaib bener. Suka beneran sama lo kalau gitu dianya, ya ngga, Dev?"
"Iya." Devia yang baru saja keluar dari kamar mandi dalam kamar Cessa lantas membalas sembari mendudukan tubuhnya di tepi tempat tidur Cessa. "Baru sama lo dia paling lama, Cess. Hampir lima bulan. Biasanya lo tahu sendirikan itu cowok paling banter cuma semingguan."
Cessa menatap langit-langit kamarnya dengan nada frustasinya. "Salah banget emang gue?" tanyanya pelan.
"Kalau gue yang udah biasa lihat lo jalan berdua sama Davin sih anggap itu ngga salah tapi ngga bener juga." Gantian Reina yang menyahut.
Mendengar ucapan Reina barusan membuat Resha menimpuk Reina dengan bantal. "Ngomong apa sih, mak. Belibet amat. Gue bingung."
Reina mendengus pelan sembari mengusap kepalanya. Cewek itu mencibir. "Makanya telmi jangan di pelihara looo."
"Sombong yang udah jarang telmi sekarang. Mana ada gue telmi."
Cessa yang mendengarkan perdebatan dua sahabatnya itu memijat pelipisnya frustasi. Dia sedang butuh solusi dan dengan menyebalkannya dua sahabatnya itu justru sedang siap adu bacot. Menyebalkan memang.
"Lo sebenernya suka sama siapa sih, Cess? Dua-duanya atau gimana? Lagian maruk bener." Naura kali ini menyahut dengan nada kelewatantainya. "Oh iya, Dimas? Kayaknya lo berdua udah ngga terlalu dekat lagi?"
Naura berkata dengan nada kelewat santainya tanpa mengetahui jika salah satu sahabatnya berubah menjadi menatapnya sendu. Rasanya Cessa ingin menyumpal mulut Naura kali itu juga.
Cewek itu nampak menghela napasnya pelan. "Ngga lah yakali. Pertama Davin itu sahabat gue dari kecil mana mungkin gue suka sama dia? Ngga mungkin banget, dia udah kayak saudara gue sendiri-"
"Iya kalau lo ngerasanya gitu? Kalau Davin? Bisa aja kan dia suka sama lo?" Resha menyahut sembari mendudukan dirinya di atas tempat tidur Cessa. "Ya who knows?"
"Ngga mungkin anjir lah, Resh." Cessa tertawa mendengarnya. Ada-ada saja memang pemikiran Resha.
Reina berdeham pelan. "Apa nya yang ngga mungkin coba? Lo cewek dia cowok, ada yang salah emang kalau salah satu dari kalian saling suka? Ngga kan?"
"Tap-"
"Mungkin Davin selama ini cuma diam aja. Takut persahabatan kalian rusak lah, dan faktanya lo juga pacar sahabatnya sendiri, Cess. Tapi lihat cara Davin pandang lo itu beda." Giliran Devia yang mengutarakan pendapatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Feel Real
Teen FictionFeel Real "Ketika cinta itu hadir." a teenfiction by natchadiary Remaja, pasti erat kaitannya dengan persahabatan dan cinta. Seperti halnya yang dialami oleh Cessa. Dimulai dari hari pertama masa putih abu-abunya yang langsung di hadapkan dengan c...
