Menceritakan seorang gadis cantik bernama Kirasuma Nura Fadillah dan seorang pemuda tampan bernama Senja Wira Atmaja yang telah bersahabat sejak kecil.
Tak hanya Senja.
Kirasuma juga memiliki banyak teman lainnya.
Namun suatu ketika mereka berpen...
"Kau tau Pagi? Awalnya aku anak yang ansos banget. Tapi sejak ketemu kalian dan kamu balas sapaanku, aku jadi pede bergaul dan ngga ngansos lagi. Makasih, ya" ucap Sore tersenyum tulus pada Pagi.
Cowok itu melipat tangannya lalu mendengus sambil tersenyum dan memejamkan matanya dilanjut anggukan.
"Bagiku, sahabat itu nggak mandang bulu atau warna kulit. Asalkan hatinya baik dan tulus, kita pasti bisa menjalin persahabatan. Dan harapanku, persahabatan ini bisa berlanjut lagi di akhirat kelak." Kali ini tak ada candaan di suara Pagi, yang ada hanya senyum manis yang sangat jaaaarang sekali dia tampilkan.
"Aamiin" sahut mereka kompak.
"Sudah gede aja kita," kata Senja.
Mereka semua tersenyum sambil mendengus. Pagi menghela nafas dan berkata "Waktu cepat berlalu, ya"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Iya. Udah sore. Ayo kita pulang sekarang!" ajak Kirasuma sambil berdiri. Siang mengikuti dan mereka mengayunkan kaki keluar taman.
***
Senja mengucapkan salam sambil membuka pintu rumahnya. Tak ada sahutan. Mereka kemana? pikir Senja. Dia memanggil Meta sambil menyapu pandang ke lantai dua rumahnya. Tak ada respon juga. Mulutnya lanjut memanggil kakaknya sambil melihat pintu kamar berwarna navy yang terbuka sedikit milik Malam.
Kakinya melangkah ke kamar itu. Malam tak pernah melarang penghuni rumah ini untuk masuk ke kamarnya. Dengan syarat: ada atau tidaknya pemilik kamar itu harus mengetuk pintu. Simple, 'kan? Senja sudah melakukan syarat yang telah ditetapkan oleh kakaknya. Senja memanggil Malam sekali lagi sambil melebarkan daun pintu kamar kakaknya.
Senja masuk pelan-pelan supaya tak menggangu privasi Malam sambil mengucap salam. Manik birunya berkilauan saat melihat tumpukan kotak warna-warni dihiasi pita pink berserakan dimana-mana. Oh wow, takjub Senja dalam hati.
"Senja. Gimana menurutmu?" "I-ini, kado buat siapa Kak?" tanya Senja terpana. "Of course, to my lover!" jawab Malam riang gembira. "Hah? Ini hari annyversary Kakak sama Kak Bulan? Traktir doong"
"Kok sama kakak? Kakak ngga ulang tahun kok!" "Lah trus? Ini kado buat siapa?" "Kakak 'kan sudah bilang, to my lover! Kau nggak ngerti?" "Kalau bukan annyversary, trus apa?" gumam Senja sambil menjepit dagunya.
Tiba-tiba Senja menjentikkan jari setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu. "Aku tau!" serunya. Senja menatap Malam seakan mereka bisa telepati. Malam balas mengangguk santai setelah menerima tatapan gaje dari adiknya ini. "Oh tidak! Kakak iparku ulang tahun! Aku belum siapin kado. Gimana ini?" Senja bergerak-gerak panik.
Dengan sigap Malam menenangkan adeknya yang ga ada jelas-jelasnya itu. "Kak, ada yang kurang!" protes Senja. "Hah? Apa?" "Kue Kak! Ga lengkap ulang tahun gada kue atau sejenisnya," cicit Senja cerewet. "Uang kakak dah habis" ungkap Malam sambil pasang muka bego. "Hadeh, yaudah biar adek sama temen-temen aja yang sumbangan beli kue"