Happy Birthday Pagi #2

9 2 0
                                        

Sore POV

Aku memandang wajah Pagi diam-diam lengkap dengan senyum. Ini hadiah untukmu, Gi. Semoga kamu senang aku di sini. Perasaan ini sungguh tak bisa kutahan. Hatiku tak henti-hentinya menari. Jantungku tak bisa berhenti melantunkan melodi kegairahan yang berhasil membuatku bersemangat.

Pagi menanyakan kelasku dengan nada suara kesukaanku. Kujawab "Sembilan B". Kirasuma, Senja dan Siang saling lempar tatap dan seolah tatapan Kirasuma memberikan sinyal bahwa 'Ini kado Sore buat Pagi' sambil tersenyum. Yup. Memang benar. Aku sengaja menargetkan hari pertamaku masuk sekolah pada hari ini.

Kirasuma dan Senja pamit ke kelas mereka. Yah, ngga satu kelas deh. Tapi ngga papa. Seenggaknya masih satu kelas sama Pagi. Kata mereka, kelas sembilan A ada di lantai dua dan kelas sembilan B ada di bawah tangga.

"Re, kamu ke kantor dulu gih. Lapor sama kepsek," usul Pagi yang sudah akan masuk kelas sambil menunjuk arah ruang kepsek dengan dagu.

Aku mengangguk dan balik badan. Agak ragu. Sebenarnya aku ngga tau letak ruang kepsek itu.

"Kamu tau ngga kantornya dimana?" tanya Pagi menahanku.

Bukannya menjawab, aku malah cengengesan. Pagi membuang nafasnya sedikit kasar.

"Yaudah kalau ngga tau, kuantar aja. Daripada nyasar"

"Dek, kamu masuk kelas gih, sudah mau bel. Nanti kalau kakak diabsen, bilang aja lagi di kantor ada urusan," titahnya yang langsung dipatuhi Siang.

"Yuk, Re!" ajak Pagi sambil mensejajarkan posisinya denganku.

Jantungku rasanya mau lepas. Pagi, kamu kok sekarang berubah, sih? Kamu kok makin ganteng, sih? Kenapa kamu jadi seperti ini? Aku gak kuat bang! Tolong aku!

Di lorong sekolah cuma berdua. Serius nih? Ngga ada orang lewat gitu? Oh my God!

"Re," panggilnya.

"Hm?" Aku berusaha menguatkan pikiran untuk tetap kalem.

"Kok diem aja?"

"Kenapa emangnya?"

"Canggung aja gitu, kalau kita dieman."

KYAAAA! Aku mau meledak! Kok? Kok? Kok aku baper, ya? Senyumnya itulooh! Ya Allah, ngga kuat!

"Mau ngomongin apa?"

"Terserah."

"Kamu berubah ya."

Yah, keceplosan, deh. Pagi terdiam.

"Beneran?" tanyanya tak percaya dan kubalas anggukan.

Pagi tersenyum canggung sekarang.

"Emh, apa yang berubah dariku?"

Pagi tak berani menatapku. Tangan kanannya menggosok tengkuknya berusaha menghilangkan kecanggungan. Kubiarkan hening menyelimuti kami sebentar.

Oh ya ampun! Calm, Re! Aku meliriknya dari sudut mataku sambil tersenyum menahan tawa.

"Kamu itu dulu lebih tinggi dari aku. Tapi sekarang ..."

Aku sengaja menggantungkan ucapanku supaya Pagi sedikit penasaran.

"Lebih ... pendek?"

Aku mendengus mengeluarkan sedikit tawaku.

Lihat wajahnya! Wah, dia malu tuh.

"Gi, kamu biasanya bikin malu. Tapi kok sekarang malu sama aku?" cibirku menutupi kegugupanku.

"Siapa yang malu?" kini Pagi berani menatapku membantah ucapanku.

"Lupakan. Kantornya masih jauh kah?"

Aku mengalihkan topik karena sudah tak tahan lagi dengan suasana ini.

"Enggak kok. Itu kantornya," balas Pagi sambil menunjuk pintu ruang di sebelah kanan kami.

To be continued

Melukis Senja {Revisi} Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang