Sesampainya di kafe.
“Kalian mau pesan apa?”
tanya Kak Malam sembari membuka lembaran menu.
“Ini beneran Kak Malam yang traktir?”
tanya Kirasuma.
“Iya lah~ berhubung Kak Malam lagi good mood, nih”
“Malam, kamu good mood karena apa, sih? Aku kepo”
tanya Kak Bulan sembari menatap lawan bicaranya serius.
“Bukan karena apa-apa kok. Memang lagi happy aja. Salah?”
“Engga, sih…”
‘Kok perasaan ku tak enak, ya? Ah semoga bukan apa-apa’
batin Kak Bulan.
“Kak, aku pesan coklat hangat aja deh, satu. Sama cheesecakenya satu, ya.”
“Aku juga sama kayak Kirasuma.”
lanjut Senja.
“Kalau aku pesan es cokelat satu, sama pisang keju satu porsi.”
“Aku sama deh, kayak Pagi.”
sambung Sore.
“Ikut-ikutan!”
“Biarin!”
“Kalau aku coklat hangat sama greenteacake”
“Aku juga sama kayak Awan”
timpal Siang cepat.
“Ok. Kalian bertiga pesan apa?”
Kak Malam bertanya pada Kak Bulan, Kak Bintang, dan Kak Aurora.
“Kalau gua sih, es cokelat sama chiken fingers aja, deh”
“Aku juga sama”
“Aku pesan cokelat panas sama spageti”
“Ok, aku juga sama kayak kamu, baby”
“Ngga usah ngegombal! Disini ada bocah!”
ujar Kak Bintang.
“Bilang aja iri~”
cibir Kak Malam.
“Ngapai iri?”
“Tu nah Aurora kamu sikat”
balas Kak Malam.
Kak Aurora tercekat.
“Siapa takut?”
tanya Kak Bintang sembari sedikit merangkul Kak Aurora.
Wajah Kak Aurora memerah.
“Cih, katanya ngga usah ngegombal ada bocah?”
“Kalian jangan ngikutin mereka, ya! Belum waktunya”
seru Kak Bulan.
“Siap, Kak~"
jawab Kirasuma, Siang, dan Pagi.
Sementara itu, Kak Malam sedang memesan pesanan yang tadi mereka pesan.
Kak Bintang tengah asik dengan game di ponselnya.
“Tadi pesan chocolate drink semua, ya?”
tanya Kak Malam.
“Iya”
balas mereka serempak.
“Ok. Chocolate drink-nya sepuluh. Yang es empat, yang hangat empat, yang panas dua. Terima kasih.”
***
Pesanan mereka pun akhirnya datang.
Mereka menghabiskan pesanan mereka sembari bercanda gurau.
Tawa dan senyum menyelimuti hangatnya ruangan dalam kafe itu.
“Kirasuma!"
tegur Pagi yang berhadapan dengan Kirasuma.
“Hm?”
“Di pipi mu… ada sisa cheesecake…”
jelasnya sembari menunjuk pipinya sendiri.
“Hm? Mana?”
tanya Kirasuma sembari mengusap pipi yang berlawanan dengan yang dimaksud dengan Pagi.
Tiba-tiba Pagi mendekat dengan Kirasuma.
Kirasuma tercekat.
“Disini…”
gumamnya sembari menghapus sisa cheesecake dengan ibu jarinya.
Semuanya terkejut termasuk Senja.
‘Apa yang dia lakukan?? Kenapa rasanya sakit?’
batin Senja.
‘Mereka ini…’
batin Kak Malam.
‘'Kan sudah ku kasih tau…’
batin Kak Bulan.
‘Kakak…’
batin Siang.
Suasana menjadi canggung.
“Hey, kenapa jadi canggung, sih?” tanya Pagi yang berusaha memecahkan keadaan yang canggung namun tak berhasil.
‘'Gimana ngga canggung coba? Lihat tuh Senja! Auranya jadi jelek gara-gara tadi. Kasian dia. Aku tau dia itu suka sama Kirasuma’
batin Kak Malam sembari menatap khawatir.
“Hah~ daripada canggung, mending kita foto-foto!”
seru Pagi.
“Boleh, tuh. Ayo sudah!”
balas Kak Malam.
Mereka pun mengambil posisi untuk berfoto ria mengabadikan momen.
“Pakai handphone siapa?”
tanya Kak Malam.
“Pakai handphone aku aja”
jawab Kak Bulan.
Para wanita pun mengambil posisi duduk di sofa kafe, dan para lelaki mengambil posisi berdiri di belakang mereka.
“Siap ya… 1…2…3”
aba-aba Kak Bulan.
“Pose random lagi”
saran Sore.
“Kayak apa?”
tanya Kirasuma.
“Terserah”
balasnya.
Mereka mengambil pose random dengan Kak Malam dan Kak Bulan yang berpose begitu mesra.
Senja yang tengah berdiri merangkul Kak Aurora yang duduk di sebelahnya.
Kak Bintang yang berpose paling keren.
Siang yang berpose seperti yang terimut.
Awan yang berpose mengedipkan mata dengan jari telunjuk Sore yang sedikit menempel dipipinya karena gemas.
Dan Kirasuma yang berpose paling natural dengan hanya tersenyum manis dengan Pagi yang berada dibelakangnya dan kedua tangan Pagi memegang pudaknya, dan kepalanya sedikit sejajar dengan Kirasuma.
Senja tak mengetahui hal itu.
Dia hanya asik berfoto dengan yang lainnya.
Beberapa foto pun telah mereka ambil.
“Nanti Kakak kirim ke grup”
ujar Kak Bulan.
‘Tenang Senja, tadi itu cuma sebuah sisa cheesecake dipipi. Dia hanya ingin menghapuskan saja. Tak perlu dikhawatirkan’
batin nya.
“Sudah selesai 'kan? Kita pulang yuk!”
seru Sore.
“Ayo~”
balas mereka serempak.
“Sebentar! Kak Malam bayar dulu di kasir.”
ujarnya.
Sudah selesai Kak Malam membayar pesanan tadi, mereka pun bergegas pulang.
To be continue
KAMU SEDANG MEMBACA
Melukis Senja {Revisi}
Teen FictionMenceritakan seorang gadis cantik bernama Kirasuma Nura Fadillah dan seorang pemuda tampan bernama Senja Wira Atmaja yang telah bersahabat sejak kecil. Tak hanya Senja. Kirasuma juga memiliki banyak teman lainnya. Namun suatu ketika mereka berpen...
