Kenang-Kenangan

33 4 0
                                        

Hari Sabtu, hari perpisahan sekolah menengah pertama negeri 45 Samarinda. Kirasuma pamit ke orang tuanya. Yuni berpesan: hati-hati di jalan dan jangan pisah dengan yang lainnya.

"Jaga diri baik-baik!" tak mau kalah, Mira pun ikut membekali Putri sulungnya.

"Tenang. Ayah bisa percayakan Senja sama yang lainnya. Mereka nggak mungkin ngebiarin Lalah terluka"

"Lah, dia ikut nggak?" raut wajah dan suara Yuni berubah khawatir.

Kernyitan muncul di dahi Kirasuma. "Dia"nya itu buat siapa?

"Itu, yang suka ganggu kamu di sekolah" mata Yuni berusaha mengunci manik Kirasuma.

Sebenarnya Yuni tau siapa yang dimaksud. Tapi mulutnya malas menyebut nama cewek yang selalu buat luka anaknya.

"Oh, Caca? Udah pasti ikut. Ibu tenang aja ya. Dia udah sadar kok."

"Maksudnya?" alis Yuni menyatu.

"Kemarin lusa Caca minta maaf sama Lalah. Sebenarnya dia baik kok. Ibu jangan khawatir, ya" Kirasuma berusaha meyakinkan ibunya sambil tersenyum.

Yuni mengangguk paham. Untuk kesekian kalinya Kirasuma pamit lalu mengayunkan kaki ke luar.

Kirasuma menekan gagang pintu rumah dan nampaklah mereka yang sudah siap untuk pergi ke Balikpapan.

Mata Kirasuma menatap Pagi yang saat ini menggunakan jaket distro berwarna hijau dengan motif dua not seperdelapan miring dan di antara not ada lambang hati berukuran sedang yang dibordir di sisi jaket sebelah kiri atas.

Kaus sablon bertuliskan 'blue sky and music is my life' di lapisan kedua. Pagi tipe cowok pecinta musik. Tentu saja dia memakai earphone di telinganya. Aksesori lain yang tak kalah kerennya jatuh pada sneakers yang lagi-lagi ada lambang not kunci G dan kunci F yang ada di sisi luar sepatu dengan warna dasar putih itu. Rambutnya disisir rapi dan klimis membuatnya lebih tampan dari biasanya.

Hari ini Pagi nggak protes pasal lamanya Kirasuma. Padahal hari ini Kirasuma lebih lambat. Telinga yang tertutup earphone membuatnya tak mendengar pujian Kirasuma yang berpotensi membesarkan kepalanya.

Senja menyapa Kirasuma. Di hari yang spesial ini Senja memakai hoodie bomber warna gradasi navy dan aqua marin. Resleting yang terbuka sedikit menampilkan kaus dengan motif jingganya senja dan galaksi bersanding indah. Persis dirinya dan kakaknya.

Kacamata jalan turut serta menambah kesan keren. Senja juga membawa earphone yang ia kalungkan di leher.

"Selamat pagi, Jaja. Keren banget kalian. Mau kemana, sih?" tanya Kirasuma bergurau.

Kirasuma memakai atasan kemeja merah yang panjangnya setara dengan jaket bomber hitam yang nggak di-resleting. Celana jeans dan topi yang selaras dengan jaket membuat Kirasuma seperti cewek barbar. Sepatu sport merek Nike melekat erat di kedua kakinya.

"Bercanda nih Lalah. Yuk ah berangkat! Nanti terlambat, loh" ajak Sore sambil melepas kacamata hitamnya.

Kirasuma salah fokus dengan logo Gucci yang terpampang di sebelah kiri atas jaket crop warna ungu yang Sore pakai. Posisi itu mirip kayak bordiran jaket Pagi. Jenis atasan yang Sore pakai lace warna abu-abu. Ngga cocok sih, untuk pemakaian di pantai. Makanya dia pakai jaket supaya ngga belang.

"Iya, iya. Baru jam berapa"

"Jam setengah tujuh" sambung Siang setelah melihat jam tangan dari Jepang pemberian neneknya yang bertabur kepingan mutiara asli di sekeliling bezel.

Melukis Senja {Revisi} Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang