Patah Hati.

2.4K 156 0
                                        


Aku menyusuri koridor sekolah sambil memeluk erat setumpuk buku paket yang baru kupinjam dari perpustakaan. Jumlahnya ada sekitar sepuluh, dan masing-masing setebal ensiklopedia, dengan halaman lebih dari dua ratus. Beratnya seperti membawa sekardus batu bata. Tapi aku tetap memaksa diri. Entah mengapa hari ini aku bersikeras membawanya sendiri, padahal Gina dan Elsa tadi sudah menawarkan bantuan.

Koridor di depanku sepi. Suara langkah kakiku menggema pelan, beradu dengan suara gemerisik kertas dari buku-buku yang bergesekan satu sama lain. Aku lewat di depan Lab Akuntansi ketika tiba-tiba kaki kananku seperti tersangkut sesuatu.

Belum sempat aku menyadari apa yang terjadi, tubuhku terhuyung—dan...

**BRAK!**

Aku jatuh telentang, dan buku-buku itu ikut terlempar, berserakan ke seluruh penjuru lantai. Lututku terasa perih, seolah disayat. Aku meringis, mengangkat kaki dan melihat—benar saja, ada darah yang mulai merembes dari luka terbuka di lututku. Sepatuku setengah terbuka. Tali sepatuku rupanya terlepas dan menginjaknya sendiri.

"Aduh..." bisikku sambil menahan rasa nyeri.

Belum sempat aku bangkit, dua pasang tangan datang menolongku. Aku mendongak—Yasha dan Angga.

"Ya ampun, Nay! Lo kenapa bisa jatuh sih?" tanya Yasha cepat, ekspresinya panik. Ia langsung berjongkok, mulai memunguti buku-buku yang berserakan.

"Tali sepatu gue lepas satu..." jawabku pelan, berusaha tersenyum meski wajahku menahan perih.

Angga ikut membantu, menumpuk buku-buku dan merapikannya. Sementara itu Yasha melihat ke arah lututku, lalu menatapku penuh khawatir.

"Kaki lo luka?" tanyanya cepat.

Aku mengangguk pelan. "Iya... berdarah," ujarku lirih. Aku menunjuk lututku yang kini sudah tampak merah dan mengelupas. Darah segar mengalir pelan di sela kulit.

Yasha dan Angga saling berpandangan, seolah mengerti tanpa bicara.

"Gue antar ke UKS ya, Nay," kata Yasha akhirnya, mengambil alih.

Aku menoleh pada buku-buku yang baru saja mereka kumpulkan. "Tapi... buku-buku gue?"

"Emang lo mau bawa ke mana?" tanya Yasha, membantuku berdiri perlahan.

"Ke kelas..." kataku ragu.

"Nanti Angga yang bawa. Ayo, gue anter lo ke UKS dulu," ujarnya, mulai memapahku. Angga mengangguk dan mengambil alih buku-bukuku.

Jalan menuju UKS terasa panjang dan berat. Lututku berdenyut-denyut, tapi anehnya aku merasa sedikit lebih ringan karena Yasha berjalan di sisiku. Tangannya menopang tubuhku, dan sesekali ia melirikku, memastikan aku masih kuat berjalan.

Sesampainya di UKS, Yasha mendudukanku pelan di ranjang kecil. Udara ruangan itu berbau antiseptik, khas ruangan pertolongan pertama.

Tak lama kemudian, petugas UKS datang dan langsung memeriksa lukaku. Aku menggigit bibir saat kapas beralkohol menyentuh luka. Rasanya seperti disiram api kecil. Aku mengerjap, menahan perih yang menjalar.

Yasha masih berdiri di pintu, diam, tapi tatapannya belum lepas dariku.

Tak lama kemudian, pintu UKS terbuka lagi. Elsa, Gina, dan Anna masuk dengan langkah tergesa. Di belakang mereka, Angga terlihat menyeret langkah, membawa sisa buku yang tadi kubawa.

"Oh my my! Ngeri gue liat kaki lo!" seru Elsa, menutup wajahnya seolah melihat film horor.

"Lo sih, Nay! Kepala batu. Dibilang jangan bawa buku itu sendiri!" semprot Gina sambil memelototiku.

Me and Mr. XTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang