Malam terakhir di kota Jogja, aku hanya duduk terpaku di tepi ranjang hotel sambil menonton TV. Lampu kamar sengaja dibiarkan temaram, hanya cahaya dari layar televisi yang menyinari ruangan. Di sisi lain, Elsa dan Gina sudah tertidur pulas. Mereka pasti kelelahan setelah seharian keliling Malioboro.
Dari arah kamar mandi, knop pintu toilet terbuka. Anna keluar sambil menyeka wajah dengan handuk kecil. Wajahnya tampak segar, tapi rautnya tampak gelisah.
"Nay, keluar yuk. Gue laper banget," ucap Anna sembari melempar ponselnya ke atas kasur.
Aku melirik jam dinding. "Ha? Serius? Ini udah jam sebelas malam, Ann."
"Iya, gimana lagi? Gue laper. Dan lo tau sendiri gue nggak bisa tidur kalau perut kosong." Anna duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Aku ingat tadi dia banyak ngemil, bahkan nyomot cemilan punya orang lain juga.
"Perasaan tadi lo udah ngabisin semua cemilan kita deh," godaku.
Anna nyengir, tak merasa bersalah. "Iya, tapi tahu lah, perut orang Indonesia. Belum sah tidur kalau belum makan nasi!"
Aku tertawa kecil. Kalimat itu ada benarnya. "Traktir?" tanyaku menggoda.
"Iyalah! Gue traktir, yang penting keluar sekarang!" sahutnya antusias.
Tawaran traktiran membuatku tergoda. Siapa juga yang bisa nolak?
"Oke, tapi Gina sama Elsa gimana?" tanyaku, melirik mereka yang masih pulas.
"Tenang aja, mereka tidur kayak batu. Lagian cuma sebentar ini," jawab Anna, sambil mengambil kunci kamar.
Kami pun keluar kamar, menyusuri lorong hotel yang sepi. Saat sampai di ujung koridor, kulihat segerombolan anak-anak cowok nongkrong di dekat tangga darurat. Aku langsung berhenti melangkah.
"Ann, balik aja yuk. Gue malu banget lewat situ," bisikku cemas.
Anna menoleh. "Itu cuma Sean sama Angga kok, santai aja," katanya menenangkan. Aku menelan ludah. Oh, Sean. Pacarnya Anna, yang terkenal pendiam tapi punya aura bad boy.
Aku menunduk saat kami lewat di depan mereka. Anna tetap santai, bahkan menggenggam lenganku. Beberapa dari mereka menatap kami.
"Eh pacarnya Sean, mau ke mana?" tanya salah satu cowok. Anna tidak menggubris. Tapi Sean bangkit dan menghampiri kami.
"Mau ke mana? Udah malam gini," tanyanya pelan, tapi cukup jelas terdengar.
"Laper. Mau beli makan," jawab Anna dingin. Jelas dia lagi ngambek.
Sean menghela napas. "Kenapa nggak chat aja? Biar aku yang beliin."
"Males. Minggir!" sahut Anna jutek. Tapi sebelum ia sempat berjalan, Sean menahan pergelangan tangannya.
"Gue anterin," katanya.
"Terserah," balas Anna dingin, lalu menggandengku pergi.
Tiba-tiba, di dalam lift, kulihat Angga sudah berdiri di sudut, mengenakan hoodie hitam dan celana santai. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan dia ikut. Kami berempat turun bersama, tapi tak banyak bicara. Suasana hening hanya diisi suara lift yang turun perlahan.
Begitu pintu terbuka, kami berjalan keluar hotel, menyusuri trotoar. Banyak kafe kecil yang masih buka. Tapi Anna ngotot ingin beli nasi goreng di ujung gang, katanya enak banget dan terkenal. Kami mengikuti keinginannya.
Namun, sesampainya di gang itu, tukang nasi gorengnya tak terlihat.
"Gue udah feeling gini!" gerutu Anna kesal.
"Kita ke alun-alun aja," saran Sean tenang.
Anna menatapnya. "Nay, lo sama Angga dulu ya. Gue mau ngomong sama Sean," ujarnya padaku.
Aku hanya mengangguk. Dalam sekejap, Sean menarik tangan Anna, dan mereka menjauh.
Aku dan Angga berdiri canggung di pinggir trotoar.
"Jadi... makan?" tanya Angga, suaranya terdengar kaku.
"Eum, makan di alun-alun?" tanyaku. Ia mengangguk. Kami pun berjalan bersama.
Kami sampai di sebuah kafe mungil di pojok alun-alun. Suasana Jogja malam itu terasa hangat. Lampu jalan temaram, suara motor dan angin malam berpadu menciptakan suasana yang tak akan mudah kulupakan.
Saat tiba di depan pintu kafe, aku tiba-tiba berhenti. Jantungku berdegup kencang. Bukan karena Angga, tapi karena aku baru ingat... aku tidak bawa uang.
Angga menoleh heran. "Kenapa?"
"Gue... gue nggak bawa uang," jawabku lirih, memejamkan mata malu.
Tanpa berkata-kata, Angga meletakkan kedua tangannya di bahuku. Aku membuka mata. Tatapannya hangat.
"Gue yang bayar. Lo nggak usah mikirin itu."
Aku terdiam. Senyumnya... entah kenapa bikin degup jantungku makin kencang.
"Tapi gue nggak enak..."
Angga tertawa kecil. "Jangan ngomong 'nggak enak' terus. Kalo gitu terus, kapan kita bisa deket?"
Aku terkesiap. Ucapannya tiba-tiba bikin dadaku sesak. Namun belum sempat kubalas, Angga membuka hoodie hitamnya dan memakaikannya ke tubuhku. Gerakannya lembut, hati-hati. Lalu ia membisikkan sesuatu ke telingaku.
"Piyama lo tipis. Daleman lo kelihatan."
Wajahku langsung panas. Aku menunduk malu saat ia merapikan hoodie itu dan menutupinya dengan ritsleting. Baunya harum... khas Angga. Bau yang diam-diam sering aku cari tiap dia lewat di kelas.
"Maaf, Mbak, Mas... permisi," ucap seorang pengunjung kafe.
Aku dan Angga sama-sama menoleh, lalu tertawa kecil. Entah sejak kapan, tangan Angga menggenggam tanganku. Dan kami pun masuk ke dalam kafe.
Malam itu, Jogja terasa lebih dari sekadar kota wisata. Ia menyimpan kenangan, rasa canggung, dan sesuatu yang mungkin... disebut awal dari jatuh cinta.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
Me and Mr. X
Roman pour AdolescentsBerawal dari sebuah surat dari seseorang yang menamai dirinya sebagai Mr. X Nayang Kartika, siswi di SMK Lampung. Pandai, dan memiliki beberapa sahabat yang selalu menemaninya. Nayang selalu mendapatkan sepucuk surat, berserta boneka dan beberapa b...
