Aku kesal. Sangat kesal.
Elsa dan Anna, dua sahabat yang selalu kusebut "partner in crime", kini malah meninggalkanku sendirian di pasar ini. Oh Tuhan... bagaimana kalau aku tersesat?
Aku menatap sekeliling. Ini masih di kawasan Borobudur, dekat taman dan deretan pedagang oleh-oleh. Tadi, aku sempat bertemu Anna—dia sedang jongkok di pinggir jalan, wajahnya menahan amarah. Katanya, dia sedang kesal dengan Sean, pacarnya. Kami pun akhirnya memutuskan untuk mencari oleh-oleh, dan menemukan pasar ini. Tapi entah sejak kapan, aku kehilangan jejak mereka berdua.
Sekarang aku sendiri. Benar-benar sendiri.
Aku memeluk tubuhku sendiri, menahan dingin dan gugup. Aku melihat kerumunan anak-anak otomotif di ujung lorong pasar. Aku ingin menghampiri mereka, tapi ragu. Bagaimana kalau mereka tidak peduli? Bagaimana kalau aku hanya jadi beban?
Kugigit ujung kuku—kebiasaan buruk saat panik. Saat itu, aku melihat Angga. Dia berdiri di antara teman-temannya, dan matanya... menatap ke arahku. Aku mencoba memberi isyarat dengan bibir dan tangan, agar dia tahu aku butuh bantuan. Tapi dia hanya diam. Menatapku tanpa bergerak.
Ya Tuhan, aku harus bagaimana?
Tiba-tiba, aku merasakan tali tas punggungku ditarik dari belakang. Aku menoleh cepat.
Dua orang asing—jambret—berusaha merebut tasku.
"Lepaskan!" hardik salah satu dari mereka.
"Tolong!!" teriakku sekeras mungkin. Aku mempertahankan tasku sekuat tenaga.
Keributan itu membuat beberapa pengunjung menoleh. Anak-anak otomotif juga ikut berlari mendekat. Dalam sekejap, para penjambret itu dikepung dan diamankan warga pasar. Mereka digiring menuju pos keamanan.
Aku masih berdiri mematung, syok. Lututku lemas. Nafasku berat. Dan... tanpa sadar, aku memeluk seseorang yang berdiri di sampingku. Aku tak tahu siapa dia. Aku bahkan tidak sempat melihat wajahnya.
Tapi aroma parfum itu... terasa familiar. Aneh, aku merasa tenang. Seolah pelukan itu mampu meredakan badai dalam dadaku.
Beberapa menit kemudian, aku mendongakkan kepala. Pandanganku bertemu dengan sepasang mata hitam yang dalam dan tajam. Lelaki itu... Muhammad Ar-Rangga. Si cowok populer dari jurusan otomotif, yang katanya punya sejuta pesona. Tapi, entah kenapa, sejuta pesona itu tak pernah benar-benar menarik perhatianku. Sampai detik ini.
"Eh, lo nggak apa-apa?" tanya salah satu cowok di dekat kami.
Aku menggeleng pelan. Jujur, aku tidak mengenali mereka satu per satu. Yang aku tahu hanya satu: Angga.
"Lo kenapa bisa sendirian di sini?" tanya salah satu dari mereka lagi.
"Gue... tersesat," jawabku gugup.
"Kenapa nggak nyamperin kita dari tadi?"
"Aku takut... takut kalian nggak mau nolongin aku," kataku jujur, dengan suara bergetar.
"Ya udah, sekarang ikut kita aja. Udah hampir jam enam. Kita harus ke parkiran."
Mereka mulai berjalan lebih dulu. Tapi aku masih diam. Kakiku gemetaran, benar-benar tak bisa diajak kerja sama.
"Lutut lo lemas?" tanya seseorang di sampingku. Suaranya dalam.
Aku menoleh. Angga.
Aku hanya mengangguk, menunduk.
Tanpa banyak bicara, Angga berjongkok di depanku. "Ayo naik."
Aku ragu. Haruskah aku digendong? Tapi dia tak menunggu jawabanku.
"Nanti kita ketinggalan bus," katanya lagi, kali ini lebih tegas.
Aku akhirnya memegang bahunya, lalu melingkarkan tanganku di lehernya. Ia mengangkatku dengan mudah. Di punggungnya, aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang tak karuan. Aku menyandarkan kepala di bahunya.
Mungkin orang-orang yang melihat kami akan mengira kami sepasang kekasih. Tapi aku tak peduli. Pelukan ini terasa... aman.
Tak ada percakapan selama perjalanan menuju parkiran. Hening. Hanya suara langkah kaki Angga dan detak jantungku sendiri.
Ketika kami tiba, Anna, Elsa, dan Gina langsung menghampiri.
"Nayang! Kamu kenapa?" teriak Anna panik.
Bu Wina, guru pendamping kami, juga ikut mendekat. "Angga, kenapa dengan Nayang?"
"Dia baru saja kena jambret, Bu," jawab Angga cepat.
"Astaga! Ada luka?" tanya Bu Wina, menutup mulutnya.
"Enggak, Bu. Tapi dia syok berat. Kakinya gemetaran, nggak bisa jalan," jelas Angga.
"Kalau begitu, tolong bantu Nayang masuk ke bus ya."
Angga mengangguk. Elsa lebih dulu masuk untuk menunjukkan tempat duduk kami.
Aku masih digendong Angga saat memasuki bus. Semua mata menatap kami. Tapi aku tidak peduli.
Setelah duduk, aku berbisik pelan di dekat telinganya, "Makasih, Angga..."
Anna tersenyum pada Angga. "Thanks ya, udah nolongin temen gue!"
Angga tersenyum singkat. "Iya, Ann. Gue ke bus dulu ya."
Dan dia pun pergi.
"Nay, lo mau minum?" tanya Elsa pelan. Aku hanya mengangguk pelan, masih belum bisa bicara banyak.
Elsa membuka tasku untuk mengambil botol air. Tapi kemudian—
"What the—" ucapnya pelan, seperti terkejut.
"Ada apa?" tanyaku lemah.
Elsa menunjukkan secarik kertas yang ditemukan di dalam tasku. Tangannya sedikit gemetar.
Tulisannya:
> *Nggak perlu takut, My Babe Girl*
> \*Gue di sini bakal selalu jagain lo :) \*
Aku terpaku. Ini... bukan surat pertama. Tapi kali ini terasa lebih personal, lebih... nyata.
Elsa menatapku tajam. "Jangan-jangan... pengagum rahasia lo itu anak otomotif?"
"Mungkin," jawabku pelan. Suaraku serak, hampir tak terdengar. "Gue... nggak tahu..."
Tapi satu hal pasti: dia ada di dekatku. Dia tahu aku butuh perlindungan. Dan dia datang, tepat saat aku butuh diselamatkan.
Siapa pun dia... Mr. X, pengagum rahasia, malaikat pelindung dalam diam—aku ingin tahu siapa sebenarnya dia.
Dan kenapa... pelukannya terasa seperti rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me and Mr. X
Novela JuvenilBerawal dari sebuah surat dari seseorang yang menamai dirinya sebagai Mr. X Nayang Kartika, siswi di SMK Lampung. Pandai, dan memiliki beberapa sahabat yang selalu menemaninya. Nayang selalu mendapatkan sepucuk surat, berserta boneka dan beberapa b...
