Aku duduk bersama Gina dan Elsa, mengitari kursi panjang di salah satu sudut kapal. Anna memilih beristirahat di ruangan VIP yang disediakan khusus untuk murid-murid yang merasa tidak enak badan atau mabuk laut. Memang, sekolah kami sudah memesan ruang itu agar kami nyaman selama perjalanan laut ini.
Semilir angin laut berhembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambutku yang tergerai. Aku mengalihkan pandanganku ke sekitar, memperhatikan banyak pasangan yang sedang menikmati suasana. Lampu-lampu gemerlap menggantung di langit-langit, memberikan kesan seperti sebuah rooftop café yang romantis. Atapnya penuh dengan taburan bintang buatan yang berkelap-kelip, menciptakan suasana magis di atas kapal ini.
Meski suasananya indah, hatiku terasa berat. Tatkala aku menunduk lesu, mataku tertuju pada sepasang remaja yang berdiri agak jauh. Si cewek dengan jaket jeans kebesaran melebarkan tangannya seperti sedang meniru adegan ikonik dalam film Titanic, sementara cowok di belakangnya memeluknya dengan penuh kasih sayang. Pemandangan itu membuat dadaku bergemuruh, sakit dan panas, seolah-olah ada ribuan pisau yang menusuk hati.
Di sebelahku, Panji merangkul bahuku. Dia duduk sangat dekat, seolah-olah ingin menghibur tanpa kata. Kami memang sahabat, dan meski orang bisa saja menyangka kami pasangan, kenyataannya tidak seperti itu.
"Gila omongan lo, Njing!" tiba-tiba Fero tertawa keras, memecah keheningan.
Aku menoleh ke arah mereka semua yang sedang bercanda.
"Kalian ngomongin apa sih?" tanyaku, mencoba menyembunyikan perasaan yang bergejolak.
Panji mencondongkan tubuh, merangkul leherku dengan santai. "Perasaan lo sebelah gue, dah! Kenapa lo nggak ngerti gue ngomong apa?"
Aku menyeringai, pura-pura tidak peduli. "Gue tadi lagi ngelamun, Njing," godaku sambil berusaha menghindari sentuhan Panji yang tiba-tiba menjitak kepalaku.
"Mulut lo!" balas Panji kesal, tapi dia tetap dekat. "Lo boleh rapuh di depan gue. Tapi jangan kayak gini terus, Nay."
Aku tertawa kecil dan mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat ke sekeliling. Namun, mataku kembali terpaku pada sepasang remaja tadi. Rasa sakit itu kembali menusuk lebih dalam, membuat aku tak kuasa menahan air mata. Aku berbalik, dan tanpa sadar menangis di bahu Panji.
Panji terdiam sejenak, lalu mengusap lembut bahuku. "Nay..." lirihnya.
Aku hanya mengeluarkan isak tangis kecil, dan Panji mengeratkan pelukannya. Di dekat kami, Fero dengan suaranya yang nakal memecah suasana, "Woy! Malah grep-grep anak orang lo!"
"Kanggu aja lo!" balas Panji santai, sementara Fero tertawa terkekeh.
Panji membawaku ke sudut yang agak sepi, pelukannya belum juga terlepas. Aku menatapnya lemah.
"Lo kenapa, Nay?" tanyanya penuh perhatian.
Aku hanya bisa menggenggamnya, berusaha meredam rasa sakit yang sulit diungkapkan. "Sakit..." bisikku.
"Lo boleh rapuh, lo boleh nangis. Tapi jangan tunjukin ke mereka. Lo lebih kuat dari ini, Nay," ucap Panji dengan suara mantap.
Aku mengangguk pelan, mencoba mencerna kata-katanya. Memang benar, selama ini aku terlalu berharap pada Reyhan. Aku harus belajar merelakan, meski itu sangat menyakitkan.
---
Keesokan paginya, aku membuka selimut yang membungkus tubuhku. Suara panitia membangunkan kami dengan ramah. Kami sudah tiba di Jakarta setelah turun dari kapal sekitar pukul satu dini hari tadi.
"Ayo anak-anak, kita harus segera bersih-bersih! Nanti kita akan melaksanakan kunjungan industri," seru panitia semangat.
Aku menoleh ke samping, melihat Elsa yang masih terlelap dalam mimpinya. Perlahan, aku menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"El, bangun!" panggilku lembut.
Elsa membuka matanya dengan ekspresi malas dan agak kesal. "Ck, Nay! Kenapa lo bangunin gue?"
"Udah sampai, lo nggak mau mandi?" tanyaku sambil tersenyum.
Elsa mengeluh. "Ihhh, nanti aja deh. Tadi Yasha hampir nyium gue tau! Lo malah bangunin gue lagi. Mana gue masih ngantuk banget."
Aku tertawa mendengar keluhannya. "Gila, imajinasi lo liar banget, El."
Elsa memajukan bibirnya, pura-pura kesal. "Udah ah, yuk turun dulu. Biar badan gue nggak lengket."
Kami pun bergegas turun dari kamar, siap untuk memulai hari dengan penuh semangat meski badan masih terasa lelah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me and Mr. X
Teen FictionBerawal dari sebuah surat dari seseorang yang menamai dirinya sebagai Mr. X Nayang Kartika, siswi di SMK Lampung. Pandai, dan memiliki beberapa sahabat yang selalu menemaninya. Nayang selalu mendapatkan sepucuk surat, berserta boneka dan beberapa b...
