Aku terbangun dari tidur dan refleks melihat ke sekeliling. Semua penghuni bus masih terlelap dalam dunia mimpi. Tadi malam, kami baru kembali dari Studio ANTV sekitar pukul 10 malam. Sekarang, jam di pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul 05.30 pagi.
Aku menoleh dan mendapati Anna sudah bangun. Ia sedang sibuk memainkan ponselnya, entah membalas chat atau sekadar scroll media sosial. Elsa masih tidur nyenyak di kursinya. Aku ingin membangunkannya, tapi mengurungkan niatku. Pengalaman kemarin membuatku trauma—dia marah besar hanya karena aku mengusik mimpinya yang katanya indah.
Akhirnya, aku memutuskan untuk mengajak Anna mandi saja.
"Na, mandi yuk. Mumpung semua masih tidur. Kalau nanti bangun barengan, ngantrinya bisa panjang kayak ular naga!" bisikku pada Anna.
Anna mengangguk, "Ya udah, ayo. Gina sama Elsa gimana?"
"Biarin aja dulu. Elsa kalau dibangunin bisa ngamuk. Gue udah trauma, sumpah," sahutku sambil tertawa kecil. Anna tertawa geli, lalu kami turun dari bus dan menuju kamar mandi umum.
Aku dan Anna masuk ke bilik masing-masing. Beberapa menit kemudian, aku keluar dengan wajah yang lebih segar dan pikiran yang lebih jernih. Aku mengenakan celana jeans hitam dengan hoodie abu-abu. Rambutku masih agak basah, dan aku sibuk menggulung baju kotorku untuk dimasukkan ke koper.
Tepat saat itu, Bus 4 baru saja sampai. Dari kejauhan, aku melihat Sean, Angga, dan Billy turun dari bus. Sean langsung menghampiri Anna.
"Kenapa nggak bales pesan aku tadi malam?" tanya Anna sambil melipat tangan di dada.
"Aku ketiduran, sumpah," jawab Sean singkat.
Anna mendecak kesal. "Kebiasaan."
Sean memang tipe cowok yang cuek, sulit ditebak, dan kadang ngeselin. Meskipun mereka sudah pacaran dua bulan sejak Februari, sifat Sean masih sama: pendiam, agak acuh, dan susah diajak kompromi. Tapi entah kenapa, Anna tetap bertahan. Mungkin cinta memang nggak butuh alasan.
Aku mengalihkan pandanganku dan secara tak sengaja bertemu mata dengan Angga. Tapi seperti biasa, ketika aku menatap balik, dia langsung mengalihkan pandangan. Kenapa sih cowok itu suka aneh gitu?
---
Bus 1, 2, dan 3 sudah lebih dulu sampai di kawasan Candi Borobudur. Sementara Bus 4 dan 5 masih tertahan karena mereka baru menyelesaikan kunjungan industri di Solo. Aku turun dari bus bersama Elsa, dan kami segera menerima tiket masuk dari panitia.
"Yuk, cari spot yang bagus buat foto-foto!" seru Elsa semangat. Di belakang kami, Gina dan Anna menyusul.
Waktu itu bertepatan dengan perayaan Waisak. Banyak umat Buddha dari berbagai penjuru datang untuk beribadah. Turis asing juga berbaur, membuat suasana semakin ramai dan semarak. Kami berempat berjalan di taman bawah, mengambil banyak foto dengan latar candi dan langit yang biru.
Setelah puas berfoto, kami memutuskan untuk menaiki tangga menuju atas candi. Ternyata cukup melelahkan juga. Nafas terasa berat, kaki pegal, tapi semua terbayar begitu kami sampai di lantai dua. Dari atas, pemandangan terlihat sangat indah—langit sore memancarkan sinar emas, membuat semuanya tampak seperti dalam lukisan.
Aku meminta Elsa memotretku. Hasilnya lumayan, walau aku harus memiringkan kepala sedikit untuk menutupi rambut yang masih agak lepek.
Pukul empat sore, rombongan dari Solo mulai berdatangan. Aku melihat Reyhan turun dari bus dan langsung menghampiri Tia. Mereka berpelukan. Mataku terdiam menatap pemandangan itu, dan... entah kenapa, rasanya sesak.
Aku tahu aku tidak punya hak untuk cemburu. Tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri. Ada rasa yang belum selesai di hati ini.
"Turun yuk, Nay," ajak Elsa. Aku hanya mengangguk tanpa banyak bicara.
Gina dan Anna entah ke mana, hilang di antara kerumunan pengunjung. Aku dan Elsa pun turun perlahan dari tangga candi.
"Elsa, beli minum dulu yuk. Haus banget!" ujarku sambil mengelap keringat di dahi.
"Di sana ada pedagang asongan. Ayo," jawab Elsa sambil menunjuk arah.
Aku membeli sebotol air mineral dan sebungkus manisan mangga. Setelah makan dan minum, kami berjalan santai sambil mengobrol, membahas hal-hal random seperti biasanya. Hingga tanpa sengaja, aku menabrak seseorang.
"Aduh, maaf banget. Gue nggak sengaja!" ujar perempuan itu sambil refleks mengelap bajuku yang basah.
Aku menatap wajahnya—ternyata dia adalah Tia, pacar Reyhan.
"Eh, nggak apa-apa kok. Gue juga nggak lihat jalan," sahutku cepat.
Tak lama kemudian, Reyhan datang. "Kenapa, Yang?" tanyanya lembut.
Tia menjelaskan singkat bahwa dia menumpahkan air ke bajuku. Reyhan menatapku.
"Maafin pacar gue ya," katanya pelan.
Aku mengangguk. Tapi kalimat 'pacar gue' itu bergema di kepala, berkali-kali, menyesakkan.
Setelah mereka pergi, Elsa menarikku ke bangku taman. Ia menepuk-nepuk bahuku pelan.
"Lo kuat, Nay. Lo tuh hebat banget," ucapnya lembut.
Belum sempat kubalas, sesuatu jatuh di depan kakiku. Sebuah pesawat kertas.
Aku mengambilnya, membukanya pelan.
> *Lihatlah sekelilingmu, ada aku.*
> *Jika dia tak mencintaimu, aku bisa mencintaimu lebih dari kau mencintainya.*
>
> *Aku selalu menunggumu, my babe girl.*
Aku terdiam. Ini... surat ketiga dari Mr. X.
"Gila! Tuh orang kirim ginian lagi?" tanya Elsa, matanya membulat.
Aku hanya mengangguk pelan, menatap tulisan tangan itu yang terasa semakin akrab.
Dan sampai sekarang, aku masih belum tahu... siapa sebenarnya Mr. X?
KAMU SEDANG MEMBACA
Me and Mr. X
Novela JuvenilBerawal dari sebuah surat dari seseorang yang menamai dirinya sebagai Mr. X Nayang Kartika, siswi di SMK Lampung. Pandai, dan memiliki beberapa sahabat yang selalu menemaninya. Nayang selalu mendapatkan sepucuk surat, berserta boneka dan beberapa b...
