Pukul sembilan malam, aku keluar dari kamar hotel dengan tubuh yang masih lelah. Kami baru saja tiba di salah satu hotel di Jogja setelah perjalanan panjang dari Magelang. Sebenarnya, teman-temanku bersemangat untuk jalan-jalan malam di sekitar Malioboro, tapi aku terlalu lelah. Setelah mandi air hangat, aku langsung membungkus diri di dalam selimut. Tidak ada obrolan seru, tidak ada selfie di bawah lampu jalan. Hanya aku, kamar hotel, dan keheningan yang menenangkan.
Hari ini, agenda kami adalah mengunjungi Pantai Parangtritis. Sejak malam tadi, panitia sudah mengingatkan kami untuk tidak mengenakan baju berwarna hijau—katanya, itu pantangan di pantai tersebut. Aku menuruti arahan itu. Pagi ini, aku mengenakan dress putih selutut dan cardigan coklat muda yang ringan. Rambutku aku biarkan tergerai dan sedikit bergelombang karena semalam tidak dikeringkan dengan sempurna. Di atas kepalaku, topi bulat lebar menaungi wajahku dari sinar matahari. Tas selempang kecil berbentuk bulat menggantung di bahuku.
Setelah berkumpul di lobi, aku bersama Anna, Gina, dan Elsa berjalan menyusuri lorong hotel. Di ujung lorong, Panji, Fero, Jevan, dan Ucup sedang menunggu sambil bercanda. Begitu melihat kami, mereka melambaikan tangan. Panji mendekat dan tanpa permisi merangkul bahuku. Kami semua tertawa, membiarkan suasana santai memenuhi udara. Karena kamar kami hanya di lantai dua, kami memutuskan untuk turun lewat tangga. Lift sudah penuh sesak dengan siswa-siswi lain.
---
Begitu kaki kami menginjak pasir Pantai Parangtritis, hembusan angin laut langsung menyambut dengan harum garam dan deburan ombak. Pasir abu-abu membentang luas, dan langit cerah menyinari pantai dengan sinar keemasan. Aku bersyukur memakai topi, karena teriknya lumayan menyengat.
Aku menemani Anna menemui Sean, pacarnya. Sementara Gina dan Elsa sibuk mencari spot foto terbaik di sepanjang garis pantai.
"Nay, fotoin aku sama Sean, ya!" pinta Anna sambil menyodorkan ponselnya.
Aku jadi fotografer dadakan. Mereka bergaya lucu, formal, sampai konyol. Namun saat Anna berlari ke arahku—mungkin terlalu semangat—ia terpeleset dan jatuh, menimpa tubuhku. Kami berdua terjerembab ke pasir, tertawa tapi juga kesal karena pakaian kami kini penuh pasir.
Saat aku bangkit, mataku langsung menangkap kilatan flash dari ponsel. Sean—dengan santainya—merekam kami.
"SEAN! KURANG AJAR LO!" teriakku marah sambil bangkit dan mengejarnya. Anna ikut mengejar. Setelah berhasil merebut ponsel Sean, aku menghapus video memalukan itu tanpa ragu.
Kami lalu mencari Gina dan Elsa, yang tampaknya sedang bertengkar di ujung pantai.
"Enggak, El! Yasha tuh lebih ganteng!" teriak Elsa dengan nada tinggi.
"Ngaco! Elang jauh lebih ganteng, titik!" balas Gina tak kalah keras.
"Gak bisa gitu dong, Gin! Tetep Yasha!" bentak Elsa lagi.
"Elang!" balas Gina keras kepala.
"Yasha!"
"Elang!"
"Yasha."
Aku menggeleng tak percaya. "Benar kan, Ann? Gue udah bilang, dua bocah ini gak bisa ditinggal bareng," ujarku pada Anna sambil menghela napas.
Anna hanya mengangguk sambil tertawa kecil. "Udah, yuk kita pisahin. Daripada mereka berantem beneran."
Kami menghampiri mereka. "Cukup! Kalian itu kenapa sih, debat gak penting mulu!" kataku, mencoba bersikap tegas. Anna ikut menimpali, mendukung ucapanku.
Mereka hanya saling tatap penuh emosi, sebelum akhirnya Elsa membuka suara, "Tempatnya udah dapet, kok. Ayo ikut gue!"
Elsa menggandengku menuju spot yang dimaksud. Dan benar saja—tempat itu agak terpencil dan jarang didatangi orang lain. Cocok untuk bersantai dan berfoto. Kami mulai mengambil selfie dan berpose dengan latar laut yang indah.
Saat sedang mengatur angle, mataku menangkap pemandangan aneh. Di pinggir pantai, aku melihat sepasang remaja yang sedang berciuman. Awalnya aku ragu. Tapi rasa penasaran mengalahkan semuanya. Aku mendekat sedikit, memicingkan mata. Perempuan itu... Hana? Anak TKJ 1?
Dan laki-laki itu...
Mataku membelalak. Reyhan. Reyhan yang selama ini jadi pusat perhatianku. Reyhan yang kuanggap berbeda dari cowok lain. Reyhan yang—ternyata, kini sedang membuka kancing baju Hana dengan tangan yang penuh nafsu.
Tanpa pikir panjang, aku mencari batu kecil dan melempar ke arah mereka. Hana dan Reyhan menoleh panik. Aku segera bersembunyi di balik karang, menahan napas. Setelah beberapa saat mencari, mereka tampaknya menyerah karena tak menemukan siapa pelakunya.
Aku mengintip lagi. Reyhan kini melumat bibir Hana tanpa rasa bersalah, seolah tak ada yang perlu disembunyikan. Air mataku hampir menetes. Bagaimana mungkin? Bukankah Reyhan dekat dengan Tia? Bukankah dia sering terlihat mesra dengan Tia?
Hatiku hancur. Rasanya seperti ditusuk ribuan jarum halus.
---
Kami duduk di tepi pantai sambil menikmati es kelapa muda. Tapi pikiranku kosong. Setelah melihat kejadian tadi, aku tak bisa berpura-pura bahagia. Bahkan saat aku menoleh, aku melihat Reyhan sedang membelai wajah Tia dengan penuh kasih sayang.
Aku merasa mual.
Tak cukup hanya satu, Reyhan bahkan mendua. Ia memperlakukan Hana dan Tia dengan perlakuan yang sama. Bahkan, beberapa menit lalu, aku sempat mendengar desahan-desahan menjijikkan dari balik pohon kelapa tempat mereka sembunyi. Hati siapa yang tidak terluka melihat orang yang ia sukai menjelma jadi monster?
Mulai saat ini, aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan menghapus perasaanku pada Reyhan. Meskipun sulit, meskipun menyakitkan, aku akan mencoba. Reyhan bukan hanya pengkhianat—dia juga manusia tak tahu malu yang mempermainkan perasaan dua perempuan sekaligus.
Reyhan? Dia bukan cinta pertamaku. Dia hanya pelajaran pertama dari luka.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
Me and Mr. X
Ficção AdolescenteBerawal dari sebuah surat dari seseorang yang menamai dirinya sebagai Mr. X Nayang Kartika, siswi di SMK Lampung. Pandai, dan memiliki beberapa sahabat yang selalu menemaninya. Nayang selalu mendapatkan sepucuk surat, berserta boneka dan beberapa b...
