Hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa dan siswi sekolahku akhirnya tiba. Siang ini, kami akan berangkat menuju Jakarta dan Yogyakarta untuk melaksanakan kegiatan Kunjungan Industri. Aku berdiri di tengah kamar, memandangi koper sedang berwarna biru laut yang telah kusiapkan sejak pagi tadi.
Isinya? Tujuh setel pakaian ganti, dua baju tidur, dua pasang sepatu kets, dan satu sandal santai. Semua telah tertata rapi. Aku juga menyiapkan tas ransel favoritku—tas rajut hitam polos yang biasa kupakai kalau sedang pergi main. Isinya? Mukenah, dompet, power bank, charger, sebotol kecil hand sanitizer, dua lipstik, dan bedak bayi.
Setelah memastikan semuanya lengkap, aku menyisir rambut panjangku yang mulai kering setelah mandi. Siang ini, aku mengenakan kaus putih polos dengan kerah V, celana jeans putih senada, dan cardigan rajut hitam sebagai luaran. Rambutku aku cepol asal ke atas, menyisakan anak-anak rambut yang terbang bebas tertiup angin dari jendela.
Tiba-tiba, knop pintu kamarku berputar. Mama masuk dengan senyum hangat seperti biasa.
"Nay, udah selesai belum?" tanyanya sambil berjalan mendekat.
"Udah kok, Ma. Ini tinggal berangkat aja," jawabku sambil tersenyum.
"Ya udah, Mama siapin mobil dulu, ya," ucap Mama, lalu keluar dari kamarku.
---
Mobil Mama berhenti di halaman sekolah yang sudah penuh dengan kerumunan orang. Suasana ramai dipenuhi oleh suara anak-anak dan para orang tua yang ikut mengantar. Beberapa guru terlihat sibuk mengecek daftar kehadiran dan pembagian kelompok. Aku turun dari mobil dan mengambil koperku dari bagasi. Mama membantuku mengangkat koper itu.
Setelah semua barang siap, Mama memelukku erat. "Jaga kesehatan, Nay. Jangan lupa makan dan sholat, ya. Hati-hati selama di perjalanan," pesannya sambil mengecup keningku.
Aku mengangguk. "Iya, Ma. Doain Nay selamat sampai tujuan, ya."
Mama mengantarku masuk ke aula sekolah. Di dalam sana, para siswa sudah duduk bersama orang tua mereka. Suasananya hangat dan sedikit heboh. Ketua panitia kegiatan, Pak Yanto, berdiri di depan dan memberikan pengarahan.
"Anak-anak, nanti kalian akan mendapatkan obat-obatan seperti vitamin dan obat anti-mabuk perjalanan. Harap semuanya diminum sebelum naik ke bus, ya," ucapnya.
Setelah itu, kami dibagi berdasarkan nomor bus. Aku kebagian bus nomor 2, dengan kapasitas 56 penumpang. Busnya keren—ada Wi-Fi, karaoke, bantal, selimut, bahkan kursi yang bisa disandarkan untuk tidur. Pendinginnya juga cukup dingin, mungkin karena AC-nya disetel maksimal.
Bu Wina, guru pengawas bus kami, membagikan obat-obatan ke setiap siswa. "Sudah semua dapat obatnya?" tanyanya.
"Sudah, Bu!" jawab kami serempak.
"Bagus. Sekarang kalian minum, ya. Perjalanannya panjang, jadi jangan sampai ada yang mabuk di jalan."
Mama membantu aku menelan obat. Rasanya pahit, tapi ya sudahlah—demi kenyamanan sepanjang perjalanan.
Kami semua berkumpul di halaman sekolah. Lima bus sudah terparkir rapi. Aku memeluk Mama untuk yang terakhir kali sebelum keberangkatan.
"Hati-hati yaa, ingat semua pesan Mama!" katanya sambil mencium pipiku.
"Nayang Kartika," suara panitia memanggil namaku. Aku segera melangkah menuju bus. Pak Toni, salah satu panitia, memberiku ID Card berwarna biru dengan tali gantungan yang harus selalu aku pakai.
Elsa, sahabatku, sudah duduk di kursi bagian tengah dekat jendela. Karena dia lebih duluan, aku mengalah dan duduk di sebelahnya.
"Uhhh, gue seneng banget hari ini!" seru Elsa dengan wajah berseri-seri.
"Sensasi naik bus-nya kerasa banget ya, Nay. Seminggu full di jalan!" tambahnya sambil menyandarkan kepala di kaca.
"Nanti pulangnya, gue yang duduk di jendela!" protesku.
"Iya, iyaaa," sahutnya, cemberut manja.
Bus mulai melaju. Di depan, Bu Wina dan Pak Toni malah karaokean bareng, menyanyikan lagu nostalgia. Semua tertawa dan ikut bersenandung. Suasana bus terasa hangat dan akrab.
Namun, tiba-tiba terdengar suara panik dari belakang.
"Bu! Dela pingsan!" teriak Evi.
Bu Wina langsung bangkit dan menuju ke belakang.
"Apa yang terjadi, Evi?" tanyanya panik.
"Saya nggak tahu, Bu. Tiba-tiba aja," jawab Evi.
Pak Toni langsung menggendong Dela ke bagian belakang bus. Hilda, salah satu siswi, berkata, "Setahu saya, Dela punya asma, Bu."
Aku tercenung. Orang dengan asma seharusnya memang tidak terlalu lama berada di ruangan ber-AC. Aku menatap jam tangan—pukul empat sore. Bus berhenti di pom bensin terdekat. Dela dibawa turun dan tampaknya akan dipulangkan.
"Nay, turun yuk! Jiwa kepo gue bergejolak," bisik Elsa.
"Males, El. Ngapain juga turun?" tolakku, malas.
Namun, saat aku menoleh ke jendela, mataku menangkap sosok Reyhan. Ia juga turun dari bus... dan itu mengubah segalanya. Aku pun ikut turun.
"Kata lo tadi nggak mau?" sindir Elsa sambil nyengir.
"Berubah pikiran," jawabku malu-malu.
"Dasar..." balas Elsa.
Kami duduk di taman kecil dekat rest area. Tak lama, Anna dan Gina menyusul. Kami pun berkumpul.
"Kasihan Dela, dia dipulangkan, lho," ujar Anna dengan nada prihatin.
Aku membelalakkan mata. "Serius, Ann?"
"Iya. Nggak kuat katanya. Asmanya kambuh."
Aku mengangguk. Lalu, pandanganku menyapu sekitar taman. Di sudut pandangku, aku melihat Reyhan. Ia duduk di bangku taman, mengenakan jaket jeans, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya santai—tapi... ia sedang merangkul seorang cewek.
Aku menyipitkan mata. Siapa itu?
Tia.
Anak kelas sebelah.
Perasaanku langsung tak karuan. Jadi, gosip yang beredar itu benar? Reyhan dan Tia memang dekat? Atau... lebih dari dekat?
Aku terdiam, menatap kosong. Ada rasa aneh yang menggumpal di dada. Bukan cemburu. Mungkin kecewa. Atau keduanya?
Elsa menyikutku pelan. "Lo nggak apa-apa?"
Aku mengangguk, pura-pura kuat. Tapi hatiku? Sedang menelan kenyataan yang tak ingin aku dengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me and Mr. X
Fiksi RemajaBerawal dari sebuah surat dari seseorang yang menamai dirinya sebagai Mr. X Nayang Kartika, siswi di SMK Lampung. Pandai, dan memiliki beberapa sahabat yang selalu menemaninya. Nayang selalu mendapatkan sepucuk surat, berserta boneka dan beberapa b...
