Upacara masih berlangsung. Tempat ini panas sekali. Aku pun sesekali menyeka keringat di kening dengan tangan. Rambutku sudah terasa lepek, lengket karena keringat. Pasukan pengibar bendera mulai bersiap. Kebetulan, aku berdiri persis di sebelah mereka.
Di sampingku, ada seorang cowok dengan kulit sawo matang dan hidung yang begitu mancung, apalagi jika dilihat dari samping. Wajahnya tidak asing, tapi aku merasa seperti baru melihatnya. Ke mana saja aku selama ini? Atau jangan-jangan, memang dia yang jarang keluar kelas?
Cowok itu tersenyum pada temannya. Senyumannya manis. Sangat manis. Aku masih terus memperhatikannya diam-diam.
'Kira-kira dia kakak kelas atau seangkatan denganku?' batinku.
Kalau kakak kelas, rasanya tidak mungkin. Bukankah kelas 11 sedang prakerin dan kelas 12 sudah tidak ikut upacara lagi? Jadi dia pasti satu angkatan denganku. Tapi... kenapa aku baru sadar akan kehadirannya sekarang?
Aku jadi merasa kudet. Gimana bisa cowok semanis ini lolos dari radar pengamatanku?
Tiba-tiba bahuku ditepuk seseorang. Aku menoleh dan mendapati Gina berdiri di sampingku, menatapku aneh.
"Lo yakin mau berdiri di sini terus?" tanya Gina sambil mengerutkan alis.
Aku menatapnya bingung. "Maksud lo?"
Gina mendesah, lalu memutar bola matanya malas. "Upacara udah selesai lima menit yang lalu, Nay! Lo masih berdiri di situ kayak patung!"
Aku langsung melongo. Segitu lamanya kah aku memperhatikan cowok itu?
Tanpa menjawab, aku langsung melangkah pergi menuju kelas. Gina berteriak di belakangku.
"Nay! Udah ditungguin malah ninggalin!" katanya sambil berlari menyusulku.
Sesampainya di kelas, aku langsung duduk di kursiku. Gina mengikuti dari belakang, napasnya masih ngos-ngosan.
"Gila lo! Temen macam apa? Gue ditinggal gitu aja!" protesnya kesal.
"Maaf, Gin," kataku terkekeh kecil.
Belum sempat Gina membalas, Elsa sudah datang dan duduk di meja depanku.
"Eh, kantin yuk!" ajaknya sambil tersenyum ceria.
"Udah bel masuk, keles!" sahut Gina cepat.
Elsa mengangkat alis. "Tapi katanya hari ini free class. Nggak apa-apa kali ya kalau kita sekalian melepas dahaga dan rasa lapar ke kantin."
Dia melirik ke arah Anna yang baru saja menutup bukunya.
"Ayo, Ann! Nay juga. Kalau Gina nggak mau, ya udah tinggal aja!" seru Elsa penuh semangat.
Anna ikut berdiri. "Ya udah, yuk! Gue juga lapar!"
Akhirnya kami pun sepakat berangkat ke kantin. Tapi jaraknya jauh banget! Kami harus melewati bengkel otomotif terlebih dulu untuk sampai ke kantin sekolah.
Sesampainya di sana, ternyata kantin sudah ramai. Kami mencari tempat duduk di pojok, tempat paling tenang dan agak tersembunyi. Begitu duduk, Elsa mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya sambil menatap Gina.
"Gina yang pesen makanan, kan?" katanya santai.
"Iya, iya, gue yang pesen!" sahut Gina, kesal setengah hati. Mereka berdua memang seperti Tom & Jerry. Sering berdebat, tapi kelihatan banget sayang satu sama lain.
Sementara mereka ribut, pikiranku kembali melayang ke cowok tadi—si pengibar bendera. Siapa dia, ya? Kenapa aku merasa penasaran banget?
"Nay!" panggil Elsa sambil menggoyang-goyangkan lenganku.
Aku tersentak. "Eh, iya, El. Kenapa?"
Elsa manyun. "Tau, sebel deh gue sama lo!"
Aku tertawa kecil, sementara Anna yang dari tadi main ponsel, ikut menatapku. Dia meletakkan ponselnya di meja.
"Biasa, pasti mikirin Yasha lagi," kata Anna sambil nyengir.
Tepat saat itu, segerombolan cowok masuk ke kantin. Anna langsung menopang dagunya, matanya bersinar.
"Aduh, kok makin hari makin ganteng aja sih si Angga!" serunya pelan.
Aku ikut melirik. Di antara mereka, aku melihat cowok pengibar bendera tadi. Sekarang dia sudah ganti baju dengan seragam khas SMK kami.
Tepat di sebelah cowok itu, berdiri Angga—cowok yang disebut Anna tadi. Entah kenapa, aku nggak pernah bisa suka sama dia. Malah kadang kesal sendiri tiap lihat wajahnya. Menurutku, dia terlalu sombong, sok asik, dan terlalu percaya diri.
Pandangan kami sempat beradu. Aku menatapnya dengan angkuh. Dia hanya balik menatap dingin. Untungnya, Gina datang membawa makanan dan minuman. Kontak mata pun terputus.
---
Jam istirahat kedua, aku duduk di belakang kelas. Di sana ada taman kecil dengan beberapa bangku. Udaranya sejuk dan suasananya tenang. Cocok banget buat menyendiri.
Elsa ikut duduk, bahkan merebahkan kepalanya di pahaku.
"Eh, El... Lo ngapain sih? Ngobrol kek. Jangan main ponsel terus. Gue bosen," protesku.
Elsa menoleh. "Eh, Nay... Lo waktu itu foto bareng Yasha, ya?"
Aku mengernyit. "Foto yang mana?"
Dia menunjukkan ponselnya. "Oh, jadi lo stalking Yasha? Pantes aja gue dicuekin!" godaku sambil tertawa.
Elsa ikut tertawa kecil. "Jawab dulu, woy!"
"Waktu itu gue ada acara kampus bareng dia. Jadi sempet foto bareng."
Elsa manyun. "Iri banget, sih! Gue dari semester satu suka sama dia. Tapi malah makin jauh."
Aku terdiam sejenak. Aku tahu betul cerita mereka. Waktu MOS, Elsa dan Yasha sempat dihukum bareng. Sejak saat itu mereka dekat, sampai akhirnya Yasha tahu kalau Elsa suka padanya—dan mulai menjaga jarak.
"Eh, El! Lo tahu nggak cowok yang tadi jadi pembentang bendera?" tanyaku penuh semangat.
Elsa menatapku lalu menggeleng. "Nggak tahu. Emang siapa?"
Aku mendesah. "Kenapa lo balik tanya? Ya gue juga lagi pengen tahu!"
Elsa terkekeh. "Lo suka ya sama dia? Makanya nanya ke gue!"
Aku diam sesaat, lalu tersenyum kecil. "Hehe, mungkin. Gue juga belum yakin. Tapi kayaknya... iya."
Elsa langsung berdiri dan menepuk bahuku semangat.
"Ya udah, nanti kita cari tahu bareng-bareng!" katanya dengan senyum lebar.
Aku pun ikut tersenyum. Mungkin ini bukan cinta pada pandangan pertama, tapi... rasa penasaran itu sudah mulai tumbuh.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
Me and Mr. X
Roman pour AdolescentsBerawal dari sebuah surat dari seseorang yang menamai dirinya sebagai Mr. X Nayang Kartika, siswi di SMK Lampung. Pandai, dan memiliki beberapa sahabat yang selalu menemaninya. Nayang selalu mendapatkan sepucuk surat, berserta boneka dan beberapa b...
