5. Khawatir?

2.7K 232 5
                                        

Happy Reading🎈


Sepulang sekolah, Jimin sengaja mampir ke rumah Rose. Anak itu memang jarang berada di rumahnya, karena mama papanya sedang ada urusan di luar kota. Jadi dari pagi sampai sore hanya pembantu rumah tangganya yang ada di rumah dan di malam hari Jimin sendirian.

"Duh capek bat gua. Rose gua haus nih, ambilin gua minum dong!" perintah Jimin sambil merebahkan dirinya di atas sofa.

"Bentar, gua mau ganti baju dulu. Awas lo ngintip." sarkas Rose sambil menunjuk wajah Jimin.

"Galak amat sih mbak. Amit-amit juga liat lo yang tepos, cih." decih Jimin pelan tetapi masih bisa di denger oleh Rose.

"Sialan lu babi ingusan!" umpat Rose kesal sambil berjalan ke kamarnya.

Setelah Rose mengganti pakaiannya, dia kemudian duduk di dekat Jimin yang sedang serius berkutat dengan handphone nya sambil sesekali mengibas wajahnya menggunakan tangannya.

"Eh air gua mana nih? Masa tamu gak di jamu sih. Gak sopan lo sebagai tuan rumah." protes Jimin berlagak seperti cowok arrogant padahal aslinya--

You know lah.

"Bentar, gua ambilin." ucap Rose sabar kemudian bangkit dan berjalan menuju dapur.

Tak lama, Rose datang membawa segelas air putih lalu meletakkannya di atas meja.

"Eh eh apaan nih?" tanya Jimin sambil menunjuk air yang ada di depannya.

"Ya air lah bego, emang kelihatannya kayak tai?" balas Rose.

"Kok cuma air putih sih. Gua kan gak bilang air putih, gua bilang minta minum. Dan air tuh banyak jenisnya. Ada air lemon, air jeruk, air stroberi, milkshake, atau es krim kek. Lah ini cuma air putih. Gak mengahargai tamu lo." protes Jimin panjang lebar sampai membuat Rose mendengus kasar. Memang bocah yang satu ini tak kenal malu, seharusnya ia bisa bersyukur diberi minum daripada mati kehausan.

"Kampret lo babi. Lo kira rumah gua kafe apa? Ngerepotin banget jadi orang. Kalo lo mau minum yang kek gituan kenapa gak mampir di kafe aja tadi?" cerca Rose.

"Iya, maaf dah. Gua cuma becanda tadi." ucap Jimin merasa bersalah sembari meminum airnya.

"Oh bilang dong, kalo tau gitu gua juga tadi bakal bercanda hehe." ucap Rose polos.

"Lu bego apa idiot sih, Rose?" tanya Jimin dengan memasang poker face karena bingung dengan apa yang barusan Rose katakan.

"Apa sih? Mending lo keluar beliin gua martabak." suruh Rose.

"Siang-siang gini mana ada yang jual martabak goblok."

"Ada kok, tuh di depan komplek."

"Lah, kok gua gak tau sih?" tanya Jimin heran karena sudah bertahun tahun dia tinggal di sini dia baru tahu kalau ada penjual martabak di depen komplek perumahannya.

"Makanya, jangan cuma nonton blue film aja." kata Rose sambil tertawa garing.

"Anjay lu. Yaudah sini duit lu. Btw mau maratabak manis atau martabak telor?" tanya Jimin sekaligus meminta uang.

"Gua mau dua duanya. Ih pake duit lo lah. Dimana mana itu cowok yang traktir cewek." jelas Rose sambil menendang bokong Jimin.

"Bangsat emang." umpat Jimin sembari berjalan menuju penjual martabak yang Rose katakan.

Ting tong!!!

Bell rumah Rose berbunyi menandakan ada tamu yang datang. Dia sedang sendirian di rumah, lalu siapa yang berani-beraninya menganggu rebahannya sore-sore begini. Ia sungguh malas untuk bangkit dari posisinya tetapi apa boleh buat, ia tidak akan membiarkan seorang tamu menunggu.

Just Friend [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang